Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 03 Januari 2018

Special Day


By: Yuke Hary Laksono

Bismillahirrahmanirrahim
Taiwan, 2 Januari 2018. Sehari setelah tahun baru masehi. Tanpa terasa sudah tiga semester saya studi master di Taiwan. Seperti biasa hari selasa adalah meeting rutin mingguan progres penelitian. Para anggota lab pasti sibuk mempersiapkan laporan terbaiknya untuk disampaikan ke professor. Segala upaya dikerahkan untuk mendapat hasil terbaik. Duduk berlama-lama depan laptop membaca jurnal, membuat model simulasi hingga larut malam seolah menjadi hiasan rutin harian untuk bertemu ‘hari selasa’. It’s feel like special day.

Persepsi mengenai special day atau hari istimewa berbeda-beda bagi setiap insan. Diantaranya ada yang memandang bahwa hari istimewa itu adalah hari kelahiran (ulang tahun), hari pernikahan, hari raya, hari kelulusan, hari di awal tahun baru dan lain sebagainya. Aktivitas merayakannya juga berbeda-beda bentuk dan biayanya. Mulai dari sekedar makan-makan sederhana bersama keluarga dan teman hingga pesta super mewah yang menghabiskan dana hampir 1 triliyun rupiah sebagaimana pesta pernikahan keluarga Reddy dari india. Tentunya masing-masing memiliki alasan untuk menganggapnya istimewa.

Dalam tulisan ini saya hanya ingin sedikit berbagi perspektif mengenai special day. Menurut pandangan saya, setiap hari yang dimiliki manusia adalah special day Kenapa? Karena setiap hari, kita menerima kenikmatan yang begitu besar dari Allah Yang Maha Pengasih saat membuka mata dari tidur yaitu diberi umur. Nikmat umur ini menunjukkan bahwa masih ada kesempatan kita untuk berkarya dan beribadah. Hal ini wajib dirayakan. Coba kita lihat, betapa banyak  orang mengeluarkan harta yang tidak sedikit untuk menghindari kematian, meskipun itu tidak mungkin. Mulai dari berbagai teknologi canggih dalam medis untuk terapi dan pengobatan. Sampai dalam dunia transportasi untuk meminimalisir kecelakaan dan akibat yang ditimbulkan dengan menggunakan aneka ragam sensor untuk pengamanan. Dan masih banyak lagi.  Semua itu jelas memerlukan biaya yang lebih dari triliyunan rupiah.

Bagaimana kita menjadikan hari-hari istimewa?. Sebagai seorang muslim, bersyukur kepada Allah SWT merupakan pondasi untuk mengisi hari-harinya. Tidak mungkin bersyukur dengan sempurna tatkala seorang hamba tidak memiliki keimanan yang kokoh kepada Rabbnya. Sikap mental merasa diawasi oleh Allah merupakan senjata yang sangat ampuh untuk mempertajam rasa syukur, takut dan tunduk atas keagungan-Nya. Selain itu, menghadirkan sikap selalu di awasi malaikat Atid dan Raqib yang setia mencatat amal-amal manusia menjadi daya dorong untuk berhati-hati dalam bertindak. Inilah yang menjadikan hari kita  istimewa. Betapa tidak, bahkan malaikatpun ikut menyaksikan aktifitas kita. Tentunya kita akan memberi performa  terbaik di hadapan Allah dan para malaikatnya se perfect mungkin. Berusaha sekuat mungkin untuk tidak membuat kesalahan, terlebih yang disengaja. Sebagai ilustrasi, Contoh riil adalah pasukan Paskibraka. Mereka berlatih beberapa bulan dengan disiplin tinggi. Berusaha agar tidak berbuat kesalahan sedikitpun dalam setiap langkahnya. Ketika terjadi insiden yang tidak diinginkan, tampak sekali ekspresi kesedihan yang amat mendalam pada wajah mereka.

Dalam hidup di dunia ini. Orang yang beriman terhadap hari Pembalasan akan mempersiapkan segala sesuatunya di dunia dengan penuh kehati-hatian. Sekuat mungkin menggali pengetahuan yang akan menyempurnakan kualitas ibadahnya dalam segala lini kehidupan. Tidak hanya hukum yang berkaitan dengan ibadah mahdhah. Namun, aturan yang mengatur hubungan manusia dengan sesama seperti pendidikan, ekonomi, politik dan lainnya akan dipelajari sebaik-baiknya. Oleh karena itu, untuk mencapai ini semua diperlukan penggalian perasaan yang mendalam terhadap kesadaran kita akan rasa cinta, rasa takut dan rasa harap hanya kepada Allah Yang Maha Menyaksikan. Sudahkah kita mengakses lebih dalam perasaan kita?. Misalnya perasaan sangat sedih tatkala ketinggalan shalat jamaah, atau saat terlewat shalat tahajjud?. Atau misalnya, kita merasa aman-aman saja tatkala membaca ayat-ayat azab. Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW.

“Barangsiapa mengingat Allah kemudian keluar air matanya karena takut kepada Allah hingga bercucuran jatuh ke tanah, maka dia tidak akan disiksa di hari kiamat kelak. (HR. al-Hâkim dalam kitab Shahih-nya, disetujui oleh adz-Dzahabi). Disinilah diperlukan muhasabah sesegera mungkin dalam hati kita.

Dampak bagi seorang pemimpin negara yang menjadikan hari-harinya istimewa akan berusaha melayani rakyatnya sesuai dengan syariatNya. Mereka tidak akan pernah mendzalimi rakyatnya. Apalagi sibuk membuat pencitraan. Karena pemimpin yang bersyukur akan mengabdikan seluruh kemampuannya untuk Allah SWT, bukan untuk manusia. Bagi seorang pekerja, dia akan berusaha memenuhi jam kerjanya penuh dengan tanggung jawab dan prestasi paling gemilang. Bagi seorang pengemban dakwah, dia akan mendedikasikan harta, tenaga, pikirannya untuk mendidik umat tanpa kenal lelah. Akhirnya, apapun posisi kita, akan berusaha memberi penampilan terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox