Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 10 Januari 2018

Nasehat Buat Parpol Islam Ahmad Rizal (Dir. Indonesia Justice Monitor) Islam agama sempurna. Bicara syariah Islam, pasti mampu mencegah kekayaan alam yang merupakan milik rakyat dieksploitasi oleh para pemilik modal. Sebab barang tambang yang melimpah seperti minyak, batu bara, gas, emas , adalah milik rakyat yang harus dikelola negara dengan baik untuk kepentingan rakyat. Disinilah letak penting syariah Islam, yang penting untuk diterapkan negara. Inilah yang seharusnya diperjuangkan partai Islam sehingga menjadi partai yang pro rakyat dan mendapat ridho Allah SWT. Namun sekarang, duh, kadang-kadang saat ini umat Islam sulit membedakan antara partai Islam dan tidak. Kalau indikasi partai Islam adalah menyuarakan syariah Islam, kok nyaris tidak ada partai Islam yang berkecimpung dalam parlemen dengan terbuka, terus menerus dan konsisten menyuarakan penegakan syariah Islam. Padahal seruan itulah yang akan membedakan partai Islam dengan partai sekuler. Yang sering terjadi partai-partai tersebut justru lebih disibukkan mengopinikan ide-ide sekuler yang bertentangan dengan Islam seperti pluralisme. Atau sibuk berusaha mengkompromikan ide-ide sekuler itu dengan Islam. Dalam isu-isu langsung keumatan seperti perang melawan terorisme ala Amerika , partai yang diklaim parpol Islam tersebut justru lebih memilih sikap di zona aman. Meskipun ada perhatian tapi tampak tidak serius dan sungguh-sungguh. Takut dituding tidak pluralis, intoleransi, atau puritan kalau membela isu-isu Islam. Ditambah lagi, partai-partai yang diklaim partai Islam tersebut, kurang dikenal begitu menonjol perjuangannya untuk membela kepentingan rakyat yang mayoritas adalah umat Islam. Posisi parpol yang berkoalisi dengan pemerintah terbukti cukup menyendera dan memandulkan. Tidak ada penentangan yang terbuka dan konsisten terhadap kebijakan-kebijakan dholim yang mensengsarakan rakyat seperti kenaikan BBM dan privatisasi kesehatan dan pendidikan. Partai-partai turut bertanggung jawab – sedikit atau banyak- dengan lahirnya UU yang pro pemilik modal dan anti rakyat seperti UU Migas, UU Kelistrikan, UU Penanaman Modal dan lainnya. Ini menjadi masukan penting buat partai Islam, bukan agar tidak bekerja untuk rakyat dalam bingkai kepentingan pragmatis dari elit-elit partai untuk meraih suara dan mempertahankan posisi kekuasaannya. Bukan pula persoalan laku atau tidak laku, sekedar menang atau kalah. Keberadaan partai Islam adalah tuntuan berdasarkan aqidah Islam dan kewajiban syariah Islam. Karena itu butuh kesabaran meskipun belum menang, perjuangan harus tetap berlanjut tanpa menggadaikan ideologi. Logika pasar tidak boleh dianut partai Islam.



Ahmad Rizal (Dir. Indonesia Justice Monitor)  


Islam agama sempurna. Bicara syariah Islam, pasti mampu mencegah kekayaan alam yang merupakan milik rakyat dieksploitasi oleh para pemilik modal. Sebab barang tambang yang melimpah seperti minyak, batu bara, gas, emas , adalah milik rakyat  yang harus dikelola negara dengan baik untuk kepentingan rakyat. Disinilah letak penting syariah Islam, yang penting untuk diterapkan negara. Inilah yang seharusnya diperjuangkan partai Islam sehingga menjadi partai yang pro rakyat dan mendapat ridho Allah SWT.

Namun sekarang, duh, kadang-kadang saat ini umat Islam sulit membedakan antara partai Islam dan tidak. Kalau indikasi partai Islam adalah menyuarakan syariah Islam, kok nyaris  tidak ada partai Islam yang berkecimpung dalam parlemen dengan terbuka, terus menerus dan konsisten menyuarakan penegakan syariah Islam. Padahal  seruan itulah yang akan membedakan partai Islam dengan partai sekuler. Yang sering terjadi partai-partai tersebut justru lebih disibukkan mengopinikan ide-ide sekuler yang bertentangan dengan Islam seperti pluralisme. Atau sibuk berusaha mengkompromikan ide-ide sekuler itu dengan Islam.

Dalam isu-isu langsung keumatan seperti perang melawan terorisme ala Amerika , partai yang diklaim parpol Islam tersebut justru lebih memilih sikap di zona aman. Meskipun ada perhatian tapi tampak tidak serius dan sungguh-sungguh.  Takut dituding tidak pluralis, intoleransi, atau puritan kalau membela isu-isu Islam. Ditambah lagi, partai-partai yang diklaim partai Islam tersebut, kurang dikenal  begitu menonjol perjuangannya untuk membela kepentingan rakyat yang mayoritas adalah umat Islam. Posisi parpol yang  berkoalisi dengan pemerintah terbukti cukup menyendera dan memandulkan.

Tidak ada penentangan yang  terbuka dan konsisten terhadap kebijakan-kebijakan dholim yang mensengsarakan rakyat seperti kenaikan BBM dan privatisasi kesehatan dan pendidikan. Partai-partai  turut bertanggung jawab – sedikit atau banyak- dengan lahirnya UU yang pro pemilik modal dan anti rakyat seperti UU Migas, UU Kelistrikan, UU Penanaman Modal dan lainnya.

Ini menjadi masukan penting buat partai Islam, bukan agar tidak bekerja untuk rakyat dalam bingkai kepentingan pragmatis dari elit-elit partai untuk meraih suara dan mempertahankan posisi kekuasaannya. Bukan pula persoalan laku atau tidak laku, sekedar menang atau kalah. Keberadaan partai Islam adalah tuntuan berdasarkan aqidah Islam dan kewajiban syariah Islam.  Karena itu butuh kesabaran meskipun belum menang, perjuangan harus tetap berlanjut tanpa menggadaikan ideologi. Logika pasar tidak boleh dianut partai Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox