Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 22 Januari 2018

Narasi Radikalisme: Propaganda Menyerang Islam

Ahmad Sastra

Oleh Dr. Ahmad Sastra
Peneliti  Islam Politik dan Peradaban
         
Islam adalah ideologi yang benar dan sempurna bagi kebaikan manusia seluruhnya, sebab ia berasal dari sang Pencipta manusia. Islam adalah ideologi yang realistik dan manusiawi, dengan berbagai susunan, sistematika, kondisi, nilai, kepribadian, ritual dan begitu juga atribut syiarnya. Karena itu aqidah Islam melahirkan sistem aturan peradaban yang maju dan mulia.

Ini semuanya menuntut risalah ini ditopang oleh kekuatan institusi yang dapat merealisasikannya secara kaffah. Islam juga harus disokong oleh manusia-manusia amanah dengan ketundukan jiwa secara totalitas kepada Allah dan RasulNya. Secara normatif, konsepsi ini telah jelas terurai dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul, bahkan secara historis, kegemilangan peradaban Islam telah menjadi catatan sejarah dengan tinta emas.

Will Durant, 1926. The History of Civilization, vol. xiii, hlm. 151 menyatakan bahwa Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri yang terbentang dari Cina, Indonesia, India, Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir hingga Maroko dan Andalusia. Islam juga mendominasi cita-cita dan akhlak mereka serta berhasil membentuk gaya hidup mereka.

Islam telah membangkitkan harapan mereka serta meringankan permasalahan dan kecemasan mereka. Islam telah berhasil membangun kemuliaan dan kehormatan mereka…Mereka telah disatukan oleh Islam; Islam telah berhasil melunakkan hati mereka, meski mereka berbeda-beda pandangan dan latar belakang politik.

Kesempurnaan Islam juga ditunjukkan melalui berbagai istilah yang disematkan dalam kata Islam yang berasal dari Al Qur’an. Berbagai kata yang disematkan Allah setelah kata Islam misalnya kaffah, rahmatan lil’alamin dan washatiyah. Ketiganya memiliki pengertian khas yang sahih karena berasal dari Allah langsung. Sementara istilah-isilah yang disematkan setelah kata Islam banyak yang telah menyimpang dari al Qur’an karena berasal dari epistemologi Barat yang sekuler.

Bahkan Barat yang tidak suka dengan Islam menginginkan keterpecahan kaum muslimin dengan strategi adu domba. Barat menginginkan polarisasi muslim dengan memberikan lebel dan kampling-kapling Islam sehingga menimbulkan berbagai friksi intelektual hingga fisik sesama muslim yang cenderung destruktif.  Akibatnya kini kaum muslim mengalami perpecahan dan bahkan hingga permusuhan.

Inilah akibatnya jika menjadikan ideologi Barat sekuler sebagai timbangan atas kondisi Islam dan kaum muslim. Padahal Allah telah dengan tegas agar menjadikan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai tempat kembali dan menimbang atas berbagai kondisi kaum muslimin, sebab seluruh kaum muslimin mestinya bersatu dibawah ikatan aqidah Islam, bukan sekulerisme, apalagi demokrasi. Perhatikan firman Allah :
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya [QS An Nisa [4] : 59]

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk [QS Ali Imran [3] : 103]

Salah satu postulat yang kini tengah gencar ditebarkan oleh Barat melalui berbagai corong media mereka adalah atribut Islam radikal atau istilah radikalisme. Sebagai strategi adu domba sesama muslim, maka Baratpun membuat istilah tandingan kontra radikalisme yang disebut dengan islam moderat. Baik Islam radikal maupun Islam moderat, keduanya adalah istilah yang diproklamirkan Barat untuk menyerang Islam itu sendiri.

Islam moderat beberapa waktu yang lalu menjelma menjadi Islam Nusantara yang sempat menyulut polemik. Pengikut Islam moderat mengklaim dirinya sebagai penebar Islam washatiyah, padahal secara epistemologis, istilah washatiyah tidaklah sama dengan kata moderat. Islam moderat justru lebih banyak mempropagandakan nilai-nilai Barat dibandingkan Islam itu sendiri. 

Sekali lagi, secara epistemologi, istilah radikal dan moderat adalah istilah yang datang dari filsafat Barat, sementara istilah washatiyah dan kaffah adalah istilah yang berasal dari terminologi al Qur’an. Karena itu tidak mungkin memiliki kesamaan makna antara istilah dari Barat dengan istilah yang datang dari Al Qur’an. Begitupun istilah Islam rahmatan lil’alamin yang berasal dari al Qur’an, sementara term Islam Nusantara tidak ditemukan dengan jelas asal-muasalnya. 

Namun ironisnya proxy war Barat dengan langkah hegemoni wacana yang jelas-jelas sebagai cara menyerang Islam justru diamini oleh negara-negara muslim di dunia, termasuk di Indonesia, Saudi dan Mesir. Hal ini sejatinya bisa dipahami, sebab Indonesia dan negara-negara muslim adalah negara yang menerapkan ideologi kapitalisme sekuler yang secara diametral bertentangan dengan ideologi Islam.

Maka untuk melanggengkan kekuasaan dan ideologi ini, mereka melakukan langkah monsterisasi ajaran Islam dengan memberikan stigma radikal kepada muslim yang ingin menerapkan Islam secara kaffah dan memuji muslim yang pro ideologi kapitalisme sekuler sebagai Islam moderat.

Sebab faktanya pengikut Islam moderat biasanya menolak formalisasi syariah oleh negara atau dengan kata lain anti khilafah. Padahal konsep khilafah merupakan ajaran Islam, sebagaimana ajaran Islam lainnya seperti aqidah, akhlak, ibadah dan muamalah. Menyamakan istilah washatiyah dengan moderat akan melahirkan epistemologi oplosan yang menyesatkan umat.

Strategi Barat untuk menyerang Islam ini merupakan propaganda busuk yang harus disadari oleh  seluruh kaum muslimin. Hal ini sejalan dengan firman Allah :

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu [QS Al Baqarah [2] : 208]

Seiring menguatnya hegemoni wacana dengan serbuan istilah-istilah Barat disertai melemahnya kemampuan Bahasa Arab di kalangan kaum muslimin, maka propaganda serangngan Barat terhadap Islam melalui isu radikalisme ini justru mendapat sambutan positif dari negeri-negeri muslim.

Prof. Dr. Soheir Ahmad as-Sokari, ahli linguistik di berbagai universitas besar, di antaranya Georgetown University mengutarakan bahwa Barat telah melakukan penghancuran kemampuan bahasa Arab generasi muslim, yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan umat Islam.

Genealogi Radikalisme

Radikalisme adalah istilah Barat, bukan dari Islam. Radikalisme berasal dari kata radical atau  radix yang berarti “sama sekali” atau sampai ke akar akarnya. Dalam kamus Inggris Indonesia susunan Surawan Martinus kata radical disama-artikan (synonym) dengan kata “fundamentalis” dan “extreme”. ‘radikalisme’ berasal dari bahasa Latin “radix, radicis”, artinya akar ; (radicula, radiculae: akar kecil). Berbagai makna radikalisme, kemudian mengacu pada kata “akar” atau mengakar.

Istilah fundamentalisme atau radikalisme muncul pertama kali di Eropa pada akhir abad ke-19, untuk menunjukkan sikap gereja terhadap ilmu pengetahuan (sains) dan filsafat modern serta sikap konsisten mereka yang total terhadap agama Kristen. Gerakan Protestan dianggap sebagai awal mula munculnya fundamentalisme.

Mereka telah menetap-kan prinsip-prinsip fundamentalisme pada Konferensi Bibel di Niagara tahun 1878 dan Konferensi Umum Presbyterian tahun 1910, dimana saat itu mulai terkris-talisasi ide-ide pokok yang mendasari fundamental-isme. Ide-ide pokok ini didasarkan pada asas-asas teologi Kristen, yang  bertentangan dengan kemajuan ilmu pengetahuan  yang lahir dari ideologi Kapitalisme yang berdasarkan aqidah pemisahan agama dari kehidupan.

Istilah radikalisme oleh Barat kemudian dijadikan sebagai alat untuk menyerang dan menghambat kebangkitan Islam. Barat melakukan monsterisasi bahwa Islam adalah paham radikal yang membahayakan. Monsterisasi inilah yang kelak melahirkan islamophobia di Barat dan seluruh dunia.

Inilah cara terakhir Barat untuk melanggengkan hegemoni ideologi kapitalisme sekuler dengan menyebarkan paham demokrasi. Proyek antiradikalisme atau deradikalisasi terus digulirkan dengan menggulirkan wacana moderasi agama hingga memunculkan istilah baru yakni Islam Nusantara. Ironinya banyak kaum muslimin tertipu dengan proyek ini dengan ikut terlibat dalam berbagai program deradikalisasi, baik karena kebodohan maupun karena pragmatisme semata.

Setidaknya ada empat karakteristik dan tujuan Barat  melancarkan imperialisme epistemologi sebagai propaganda Barat menyerang Islam, Pertama, Harakah At Tasykik yakni menumbuhkan keraguan (skeptis) pada umat Islam akan kebenaran Islam. Diantara keraguan yang mereka lancarkan adalah gugatan tentang otentitas Al Qur’an, Islam sebagai Mohammadanisme, keraguan atas kerasulan Muhammad.

Dampak dari at tasykik adalah tumbuhnya sikap netralitas dan relativitas terhadap ajaran Islam. Jika masih ada seorang muslim yang secara fanatik memahami Islam maka mereka kemudian dicap sebagai fundamentalis, radikalis, islamist dan teroris.

Kedua, Harakah At Tasywih, yaitu menghilangkan rasa kebanggaan terhadap ajaran Islam dengan cara memberikan stigma buruk terhadap Islam. Mereka dengan gencar mencitrakan Islam secara keji melalui media-media.

Islam dipresentasikan sebagai agama yang antagonistik terhadap ide-ide kebebasan, HAM, demokrasi, pluralisme dan nilai-nilai Barat lainnya. Dampak dari tasywih ini adalah menggejalanya inferiority complex (rendah diri) pada diri umat Islam, islamopobhia, pemujaan  kepada Barat

Ketiga, Harakah At Tadzwib, yakni gerakan pelarutan (akulturasi) peradaban dan pemikiran.  Dampaknya adalah terjebaknya umat Islam dalam pemikiran pluralisme agama. Pluralisme jelas bertentangan dengan Islam. Sebab pluralisme menurut WC Smith bermakna transendent unity of religion (wihdat al adyan), dan global teologi menurut John Hick.

Keempat, Hakarah At Taghrib yakni gerakan westernisasi segala aspek kehidupan kaum muslimin. Paradigma Barat dijadikan sebagai kiblat kaum muslimin dengan meninggalkan tsaqafah Islam. Melalui berbagai bidang seperti fun, fashion, film, dan food, Barat terus mempropagandakan ideologinya.

Pertarungan Pemikiran

Pertarungan pemikiran merupakan hal yang sangat  transparan, sekalipun bagi beberapa orang menjadi perkara yang sulit dipahami. Namun siapa saja yang mempelajari kitab al-Millal wa an-Nihal, akan mendapatkan informasi tentang pergulatan antar berbagai pemikiran yang dikenal kaum Muslim. Pertarungan antara peradaban Barat dan peradaban Islam terwujud dalam berbagai bentuk, di antaranya:

[1] Dominasi terhadap berbagai sarana media massa yang diarahkan untuk kepentingan peradaban Barat.
[2] Dominasi terhadap kurikulum pendidikan di setiap tingkatan, yang dimaksudkan untuk menyebarluaskan konsep-konsep Barat, menyimpangkan dan menentang berbagai konsep peradaban Islam, serta memalsukan sejarah peradaban Islam.
[3] Mendirikan sekolah-sekolah dan universitas-universitas di bawah kendali dan pengawasan langsung para pemuja peradaban Barat.

[4] Mendirikan berbagai partai politik yang menganut dan menyerukan peradaban Barat, yang dikelola oleh negara-negara Barat dan antek-anteknya yang bersikap moderat -progresif.
[5] Memberikan dukungan dan sponsor kepada orang-orang yang dianggap sebagai kalangan elit, terpelajar, dan intelektual, dengan tujuan untuk mempromosikan mereka menjadi tokoh-tokoh pemikir di negeri-negeri kaum Muslim.

[6] Memberikan dana beasiswa pendidikan dalam berbagai bentuknya, untuk memilih orang yang dianggap cocok menjadi agen intelektual, agen politik, agen militer, atau mata-mata bagi Barat.
[7] Memberikan dana melimpah kepada berbagai lembaga, kelompok, dan organisasi yang didirikan untuk menyebarluaskan racun-racun pemikiran mereka.

[8] Memerangi penggunaan bahasa Arab dan membangkitkan bahasa-bahasa selain Arab, serta melontarkan agitasi-agitasi yang bersifat nasionalistik dan patriotik. Bahkan apa yang disebut konflik kepentingan (shira’ ul-masalih) sejatinya berawal dari perbedaan pemikiran, yang kemudian diikuti dengan pertarungan pemikiran.

Tak tanggung-tanggung, bahkan kepala negara dengan seluruh jajarannya dan pendukung setianya secara masih melakukan propaganda dan proyek antiradikalisme dengan menyasar berbagai elemen masyarakat dari siswa, mahasiswa, dosen hingga instansi pemerintahan. Padahal secara genealogis dan substansi istilah moderat dan radikal merupakan propaganda Barat menyerang Islam itu sendiri.
Presiden Joko Widodo menghadiri dan menyaksikan deklarasi anti radikalisme dan terorisme dari seluruh pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia, yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, 26 September 2017. Presiden Jokowi menyambut positif deklarasi perguruan tinggi se-Indonesia untuk melawan radikalisme.
Saat memberikan sambutan dalam acara penutupan Pertemuan Pimpinan Perguruan Tinggi se-Indonesia di Nusa Dua Bali. Jokowi mengingatkan bahwa perguruan tinggi adalah sumber pengetahuan dan pencerahan. Oleh karena itu Jokowi menekankan, sangat berbahaya bila perguruan tinggi dimanfaatkan segelintir pihak sebagai medan infiltrasi ideologi radikalisme terorisme. [voaindonesia.com, 26/09/17]
Kementerian Agama terus berupaya untuk menangkal radikalisme yang sudah menjamah ke kalangan anak. Diantaranya dengan menggalakan kegiatan yang bersifat moderasi. "Kita terus melakukan kegiatan-kegiatan yang mengangkat isu program moderasi agama, jadi moderasi bagaimana agama itu disampaikan," kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (22/7/2017). [TribunNews.com, Minggu, 23 Juli 2017 03:04 WIB]
Tak mau ketinggalan, BNPT melakukan program Penyuluhan Bahaya Radikalisme dan Terorisme Kepada Mahasiswa Baru. Dalam kegiatan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN) yang diselenggarakan oleh Universitas Pakuan di Bogor (6/9/2017), hadir Mayjen TNI Abdul Rahman Kadir, Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT sebagai narasumber. Kegiatan ini diikuti oleh 3500 peserta yang terdiri dari mahasiswa baru. Ditegaskan oleh BNPT bahwa Penyebab kemungkinan gagal dalam dunia pendidikan salah satunya karena pengaruh radikalisme dan terorisme. Badan Nasional Penangulangan Terorisme (BNPT) sering memberikan penyuluhan kepada mahasiswa agar tidak gampang terpengaruh dengan paham radikal. [bnpt.go.id,06/09/17]
Bahkan oleh sebuah televisi swasta acara reuni 212 2017 yang lalu dianggap sebagai perayaan intoleran yang anti kebhinekaan. Padahal reuni 212 adalah sebuah ekspresi umat Islam untuk mencintai agamanya sendiri, sekaligus membelanya dari berbagai penistaan yang sesungguhnya adalah intoleran itu sendiri.
Media corong demokrasi terus menfitnah Islam sebagai agama intoleran dan radikal, padahal merekalah yang intoleran. Bahkan sebuah ormas beberapa waktu lalu melakukan persekusi dan pembubaran terhadap pengajian, bukankah ini tindakan intoleran itu. 
Secara historis, toleransi seagama [tasamuh] sejak awal dibangun oleh Rasulullah, Sahabat, tabiin, atba tabiin, imam mujtahid dan kekhilafahan. Toleransi antaragama dalam Islam terbangun indah saat, di Spanyol, lebih dari 800 tahun pemeluk Islam, Yahudi dan Kristen hidup berdampingan dengan tenang dan damai.

Di India sepanjang kekuasaan Bani Ummayah, Abbasiyah dan Ustmaniyah, muslim dan hindu hidup rukun selama ratusan tahun. Di Mesir umat Islam dan Kristen hidup rukun ratusan tahun sejak khulafaur Rasyidin.

Karena itu tidaklah sama antara makna Islam washatiyah dengan Islam moderat, Islam kaffah dengan Islam radikal. Istilah washatiyah dan kaffah berasal dari epistemologi Qur’an, sementara istilah moderat dan radikal berasal dari epistemologi Barat.

Meskipun banyak cendekiawan muslim memaksakan diri untuk menyamakannya. Menyamakan keduanya akan melahirkan epistemologi oplosan yang menyesatkan umat.

Tanpa diberikan embel-embel moderat atau radikal, Islam adalah agama yang penuh perdamaian, toleransi, adil dan menebarkan kebaikan kepada seluruh alam semesta. Dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam istitusi negara, maka kebaikan Islam baru akan dapat dirasakan oleh seluruh manusia di dunia.

Islam tidak memerlukan label-label Barat yang keji dan menyesatkan, Islam ya Islam. Islam moderat yang diinginkan oleh Barat adalah Islam yang menafikan penerapan Syariah Islam secara kaffah dan formalisasai Syariah oleh negara. Sebab tegaknya daulah Islam adalah ancaman terbesar bagi robohnya ideologi kapitalisme di seluruh dunia.


Makna Umat[an] Washath[an]
Secara etimologi, makna al wasath adalah sesuatu yang memiliki dua belah ujung yang ukurannya sebanding, pertengahan [Mufradat al Fazh Al Qur’an, Raghib Al Isfahani jil II entri w-s-th]. Bisa bermakna sesuatu yang terjaga, berharga dan terpilih. Karena tengah adalah tempat yang tidak mudah dijangkau : tengah kota [At Tahrir wa At Tanwir jil II hal 17].

Umat wasath yang dimaksud adalah umat terbaik dan terpilih  karena mendapatkan petunjuk dari Allah. Jalan lurus dalam surat al Fatihah adalah jalan tengah diantara jalan orang yang dibenci [yahudi] dan jalan orang sesat [nasrani] [Tafsir Al Manar jil. II hal 4].

Karakter umat washtiyah ada empat : Umat yang adil, Umat pilihan [QS Ali Imran : 110], Terbaik  dan Pertengahan  antara ifrath [berlebihan] dan tafrith [mengurangi] [Tafsir Al Rari, jil. II hal 389-390]. Makna washatiyah dalam perspektif tafsir ini tidak sama dengan makna moderat dalam pandangan Barat.

Dengan demikian lebel radikal dan moderat adalah cara Barat untuk menciptakan polarisasi di kalangan kaum muslimin agar terpecah belah dan menghambat kebangkitan Islam. Sebab sejak dahulu para penjajah selalu tidak suka melihat persatuan dan kebangkitan umat.

Semangat persatuan umat Islam dalam acara reuni 212 pun tidak luput kebencian segelintir orang yang telah terinfiltrasi oleh ideologi penjajah, meski mereka adalah orang Indonesia bahkan ada yang muslim.

Karena itu penting memberikan pencerahan kepada umat tentang bahaya imperialisme epistemologi Barat ini melalui berbagai istilah menyesatkan sebagai propaganda menyerang dan menfitnah Islam.  Adalah penting membentengi umat dari serangan  Islam moderat dan radikal dengan menjelaskan kesesatan dan kerusakan ide keduanya.

Umat Islam harus diberikan penjelasan tentang hakekat Islam  yang sebenarnya sesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadits secara kaffah dari perkara aqidah, ibadah, muamalah hingga daulah. Sebab berbagai Islam buatan Barat ini berpotensi memecah belah persatuan umat dan ruang sensitif bagi upaya adu domba sesama muslim.

Dalam sejarah kebangkitan sebuah negara selalu diawali oleh kemajuan pemikiran bangsa tersebut. Sebuah pemikiran Islam akan mengantarkan sebuah bangsa pada kebangkitan Islam. Begitu pula pemikiran komunisme atau kapitalisme. Masing-masing ideologi akan saling berbenturan dan bertolak belakang.

Karenanya benturan ideologi adalah sebuah keniscayaan. Barat kafir kini tengah melancarkan penjajahan pemikiran kepada umat Islam atau negeri-negeri muslim dengan menggunakan para anteknya.

Imperialisme epistemologis (ghozwul fikr) merupakan visi orang-orang kafir untuk meruntuhkan bangunan pemikiran Islam segabai landasan peradaban Islam. Orang-orang kafir memang sejak awal telah tidak menyukai orang-orang Islam.

Khatimah

Dengan terus melakukan dakwah penyadaran kepada umat akan bahaya narasi radikalisme sebagai propaganda Barat kepada Islam, maka umat akan terus berjuang menumbangkan seluruh narasi Barat dan membangun narasi Islam dalam pemikiran dan perasaan kaum muslimin.

Dengan demikian akan terjadi gelombang kesadaran umat akan pentingnya mendakwahkan dan memperjuangkan tegaknya syariah dan khilafah yang akan memberikan kebaikan bagi seluruh manusia dan alam semesta. Dari berbagai indikasi yang ada, nampaknya tegaknya Khilafah tak akan lama lagi, dan tumbangnya peradaban Kapitalisme sudah diujung mata. 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox