Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 04 Januari 2018

Krisis Energi di Negara Kaya Raya!



Fajar Kurniawan (Staf Ahli PKAD)

Produksi sector energi Indonesia masih dikuasai pemain swasta khususnya asing. Memang tidak semua dari produksi yang dikelola oleh swasta tersebut masuk ke kantong produsen sebab setiap hasil produksi mereka dibagi sesuai skema Production Sharing Contract (PSC). Namun tetap saja secara ekonomis akan lebih menguntungkan jika kekayaan alam tersebut dikelola oleh negara.
Ini resiko dari liberalisasi sektor migas yang telah dijalani di negeri ini. Liberalisasi sektor migas yang diarsiteki oleh IMF dan Bank Dunia, diantaranya melalui UU Migas No 22/2001, telah menempatkan Pertamina sebagai BUMN sejajar dengan perusahaan-perusahaan swasta. Mereka harus bersaing untuk memenangkan tender pengelolaan blok-blok migas yang ditawarkan pemerintah termasuk yang paling potensial sekalipun.

Kita prihatin, sebagian besar dari produksi gas yang diproduksi di negeri ini justru lebih banyak diekspor. Berdasarkan Neraca Gas Indonesia tahun 2010-2025, total pasokan produksi gas baik untuk tahun-tahun lalu masih defisit jika dibandingkan dengan permintaan domestik. Padahal kebutuhan dalam negeri masih banyak yang belum tercukupi seperti yang mendera PLN dan sektor industri manufaktur yang menjerit kekurangan gas sehingga terpaksa menggunakan BBM yang harganya jauh lebih mahal. Biaya produksi mereka akhirnya menjadi lebih mahal.  Pada tahun-tahun lalu juga Tarif Dasar Listrik terasa naik dengan alasan subsidi listrik sangat membebani APBN. Padahal hal itu tidak perlu terjadi jika sumber energi PLN yang saat ini sebagian besar menggunakan BBM dikonversikan ke gas. Lebih dari itu, harga gas domestik baik untuk industri dan rumah tangga juga terus ditingkatkan hingga mencapai harga keekonomian alias setara dengan harga pasar internasional.

Ada alas an-alasan yang sering dikemukan oleh pemerintah maupun anggota DPR ketika menyerahan kontrak migas kepada perusahaan asing, diantaranya adalah ketidakmampuan Pertamina baik dari sisi modal maupun teknologi. Dari sisi teknologi  Ekplorasi MIGAS itu ada 2 bentuk  yaitu Eksplorasi di darat dan Ekplorasi migas di lepas pantai, untuk explorasi di darat Pertamina dengan Tenaga-tenaga ahlinya dari dalam negeri sudah mampu mendeteksi dan mengekplorasinya tanpa hambatan. Penemuan cadangan minyak di Blok Cepu adalah tenaga ahli dari Pertamina dan Pertamina menyatakan mampu secara teknologi untuk mengekplorasinya tanpa bantuan asing tapi karena tekanan Amerika maka dengan begitu mudahnya Blok Cepu tersebut diserahkan kepada Exxon Mobile.   Adapun Eksplorasi migas di Lepas Pantai (laut) walaupun mungkin memerlukan teknologi yang lebih maju sebenarnya Pertamina bisa melakukan kalau ada kebijakan politik yang jelas dari pemerintah.

Kalau  saat ini  Pertamina dianggap tidak mampu, jelas aneh,  kenapa setelah puluhan tahun kok Belum mampu? Kalau pun tidak mampu Sebenarnya Ketidakmampuan Pertamina Explorasi di laut dalam bukan karena SDM Kita yang tidak mampu karena  faktanya  banyak SDM Indonesia yang bekerja di Perusahaan Asing baik di Indonesia maupun di Luar negeri karena Gajinya lebih besar , misalnya banyak  Tenaga Kerja Indoneia  yang bekerja di persuhaan marine hidrography untuk memasang oil-rig atau pipeline begitu juga banyak  SDM Pertamina keluar dan pindah ke Perusahaan Asing seperti Arco  yang banyak melakukan eksplorasi di Laut Jawa. Jadi Pernyataan Wamen ESDM bahwa Pertamina belum mampu sebenarnya bukan faktor Teknologi dan SDM kita yang tidak mampu tapi kebijakan Pertamina atau Pemerintah yang memang tidak pernah serius melakukan itu, sehingga tidak ada upaya transfer teknologi dari Perusahaan asing, padahal  selama ini salah satu  alasan kerjasama dengan perusahaan Asing adalah Alih Teknologi. Kita sedih juga, Pertamina sebagai BUMN saat ini diminta oleh pemerintah untuk ekspansi ke luar negeri dalam rangka mencari sumber minyak dan gas. Sementara Minyak dan Gas yang melimpah dinegeri ini di serahkan kepada perusahaan asing!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox