Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 31 Januari 2018

Ketika Rakyat Bersuara: Bongkar!


Adam Syailindra (Forum Aspirasi Rakyat)

Wahai kalian yang berada dalam istana dan gedung aspirasi. Biarkan kami rakyat bicara. Bahwa memang tanah airku bukan milik rakyat lagi. Tanah dan rumah masih ngontrak. Air dan listrik masih beli. Rakyat menyusuri sawah dan ladang nan hijau kini tengok kanan dan kiri sudah berjuta tiang pancang beton menancap di tanah kami. Sebuah rumah yang kami pahami adalah rumah untuk berteduh, rumah bercengkrama, rumah berusaha, rumah bermain, rumah untuk merebahkan punggung dari penatnya urusan dunia, rumah untuk merekatkan puzel impian dan ibadah generasi anak cucu kami. Namun kini, rumah yang kami butuhkan telah rusak seluruh sendi dan pondasi.

Berjalan melintasi sisa puing-puing. Ternyata tabung gas, beras, gula, garam, minyak, bawang, tomat dan lombok sudah rusak nan kering tak berisi. Perut keroncongan riuh berbunyi tiap hari, lupa kapan terakhir keluarga kami makan nasi dan teri. Sepeda butut yang ditumpangi tak lagi dapat digunakan untuk kerja menafkahi anak dan isteri. Rakyat makin lelah. Merasakan kehidupan yang makin sempit. Mau makan dan minum susah, memiliki tanah serta rumah sederhana juga susah, mau beli kebutuhan pokok dan popok makin susah. Mau mendidik anak yang baik tapi biaya makin selangit. Jalanan yang biasa dilalui rakyat terkelupas dan berlubang. Kami ini rakyat kami manusia, kami tagih janji penguasa. Dentuman suara aksi mahasiswa di jalanan dan tembok sudah lapuk sepi dari aspirasi.

Namun pelan tapi pasti. Rakyat berontak atas sikap yang terjadi dan kian cerdaskan diri untuk mengembalikan jati diri. Mengerahkan daya upaya untuk mendengar, melihat dan merasakan kebijakan dari penguasa yang makin aneh dan ingkar janji. Kucuran dana alias duit yang harusnya terus diupayakan oleh pemerintah untuk pemenuhan kebutuhan rakyat, kini makin disunat dari garis edar APBN. Berdalih berkali-kali agar rakyat makin mandiri, tapi jauh panggang dari api rakyat gigit jempol kaki.

Tingkah polah partai politik zaman now makin menggemaskan sekaligus memuakkan ketika mendekati masa pemilu. Mereka dengan mudah loncat sana lompat sini atur tokoh sana mengatur tokoh sini. Bahkan dengan beraninya obral dan diskon janji politik ketika berkampanye telah menabrak norma bumi dan norma langit yang telah ada. Rakyat bukanlah kelinci percobaan dari peradaban negara gagal. Seenaknya mau diatur seperti kebo dikekang kuasa. Adu domba antar ulama dan tokoh kunci. Persekusi dan alienisasi makin menjadi-jadi. Kami tak lagi ingin intrik politik main babi tubrak sana tubruk sini. Kami tak butuh lagi janji-janji palsu dari para boneka pemilik kuasa.

Kini masuk tahun 2018-2019 adalah tahun politik. Rakyat telah merekam segala tindakan penguasa, aparat, tokoh dan partai politik. Apapun kebijakan yang dibalut dengan bualan politik dan tak pro rakyat. Maka dengan lantang dan tegas bahwa tidak ada kata lain selain kami putuskan, saatnya bongkar! Ganti rezim ganti sistem. Rakyat butuh pemimpin berintregitas dan merakyat. Rakyat butuh sistem yang mengakar dan menjalar ke bumi dan menembus langit. Kami percaya dan kami rindu akan warisan Rasulullah sebagai teladan dan peradaban yang akan hadir ditengah rakyat.

Surabaya, 31/1/2018
Dibawah temaram gerhana bulan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox