Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 25 Januari 2018

Kekalahan Peradaban Barat dan Tampilnya Adidaya Baru


Aminudin Syuhadak (Dir. LANSKAP)

14 Tahun lalu, National Intelelligence Council’s (NIC) merilis sebuah laporan yang berjudul, “Mapping the Global Future”. Dalam laporan ini diprediksi empat skenario dunia tahun 2020:

Davod World: Digambarkan bahwa 15 tahun ke depan Cina dan India akan menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia.

Pax Americana: Dunia masih dipimpin oleh Amerika Serikat dengan Pax Americana-nya.

A New Chaliphate: Berdirinya kembali Khilafah Islam, sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global Barat.

Cycle of Fear (Munculnya lingkaran ketakutan). Di dalam skenario ini, respon agresif pada ancaman teroris mengarah pada pelanggaran atas aturan dan sistem keamanan yang berlaku. Akibatnya, akan lahir Dunia ‘Orwellian’ ketika pada masa depan manusia menjadi budak  bagi satu dari tiga negara otoriter.

Barat phobia, potensi Khilafah yang pertama adalah ideologinya. Cara lain yang dilakukan Barat adalah mengaitkan gerakan Islam global yang ingin menegakkan Khilafah dengan terorisme. Dalam laporan NIC yang membuat empat skenario ini, upaya itu tampak jelas saat mengaitkan skenario tegaknya Khilafah dengan surat fiktif dari cucu Osama bin Laden kepada keluarga dekatnya pada tahun 2020 (Lihat: Mapping the Global Future, hlm. 83).

Bush sendiri pernah berkata berkata, “Peradaban Barat bukanlan nilai-nilai Amerika atau –seperti anda tahu– bukan pula nilai-nilai Eropa. Peradaban Barat merupakan nilai-nilai universal. Karena universal, nilai-nilai itu, seharusnya diterapkan di setiap tempat.” Blair berkata, ”Peradaban kita bukanlah nilai-nilai Barat, ia adalah nilai-nilai universal dari semangat kemanusiaan. Dan di manapun…di manapun, kapan saja, rakyat biasa diberikan kesempatan untuk memilih. Pilihanya adalah sama: kebebasan, bukan tirani; demokrasi, bukan diktator; tertib hukum, bukan hukum dari polisi rahasia.”
Dalam bukunya yang berjudul “100 tahun mendatang”, George Friedman – CEO dan pendiri Stratfor – yang merupakan sebuah perusahaan intelijen dan prakiraan swasta Dunia – menulis bahwa Turki akan muncul, paling tidak – sebagai negara adidaya regional dalam apa yang disebutnya sebagai “peran lama” – sebagai “kekuatan dominan di wilayah itu”. Dia mencatat bahwa sejarah belakangan ini, dalam 80 tahun terakhir, dimana pengaruh Turki yang kuat hanyalah terbatas pada Asia kecil adalah suatu penyimpangan, dan dia mengatakan bahwa dunia akan segera melihat kekuatan Turki “Emperium Utsmaniyah…mulai bangkit kembali”, dengan merujuk pada Kekhalifahan terakhir yang dipimpin oleh dinasti Utsmaniyah.

Propaganda Barat tidak mampu menyembunyikan kemunduran dan kerusakan peradaban ini – suatu masalah yang memang telah jelas bagi kita semua. Ketika mereka menyebarkan nilai-nilai dan ideologi mereka kepada dunia dengan cara yang sangat arogan dan memfitnah peradaban Islam, maka mereka telah mencoba untuk menyembunyikan keputusasaan yang mereka ciptakan pada masyarakat mereka sendiri dan di seluruh dunia.

Percampuran antara materialisme dan kebebasan individu tanpa batas, telah menyebabkan kekerasan yang mewabah, pengunaan obat bius, dan alkohol; mengabaikan orang lanjut usia, kemiskinan, kerusakan pada keluarga, kekosongan spiritual, rasisme, dll, dll.
Kekalahan Peradaban Barat terbukti dari tindakan-tindakannya yang menunjukkan keputusasaan. Pendudukan, penyiksaan, penahanan, propaganda, bukanlah tindakan-tindakan dari peradaban yang kuat, melainkan tindakan dari peradaban yang sakit.

Propaganda melawan Islam, pengemban syariah, Khilafah, dan dakwah adalah karena pemerintah-pemerintah Barat mengetahui bahwa mereka sedang menghadapi kebangkitan kembali Islam di seluruh dunia. Tindakan mereka seperti usaha membuat parit yang terakhir dari peradaban kapitalis yang sedang tenggelam.

Kenyataannya adalah bahwa hegemoni pemerintahan Barat dan nilai-nilainya sedang disengketakan secara lebih terbuka dengan berjalannya waktu, dan seperti yang ditunjukkan oleh suatu jajak pendapat internasional yang dilakukan oleh BBC  yang dirilis pada akhir tahun 2010 memang ada ketidakpuasan di seluruh dunia dengan gaya kapitalisme Barat. Karena kekuatan dunia yang kembali muncul dan identitas peradaban yang semuanya menyatakan diri bersifat regional dan internasional, tuntutan untuk mengadopsi nilai-nilai politik dan filsafat Eropa Barat dan pemerintah Amerika adalah kurang relevan atas mereka yang terlibat didalamnya.

Akibatnya, upaya-upaya untuk mendirikan suatu bentuk pemerintahan Islam yang akan diberikan legitimasi oleh warganya harus diterima sebagai alternatif agar bisa dicek untuk kepentingan mereka sendiri. Sementara klaim kemenangan berakhirnya sejarah pada awal masa dari apa yang disebut sebagai “Tata Dunia Baru (New World Order)” yang  bernada mencemoohkan pada saat ini di beberapa wilayah dan kemudian terbukti merupakah penilaian yang salah, mungkin yang terjadi adalah lebih dari sekedar suara gemuruh dari akhir sejarah Barat, di mana wacana narasi yang dominan, universal dan hegemonik tidak hanya tertantang, tetapi akhirnya menjadi berbalik.

Dengan kegagalan negara-bangsa, dan kemudian ide-ide yang datang berturut-turut seperti pan-Arabisme yang sekuler untuk menyelesaikan segala permasalahan yang dihadapi oleh Umat, adalah Keklihafahan yang diposisikan sebagai sebuah alternatif yang dapat memenuhi semua tuntutan ini, sebagaimana yang dituangkan dalam rumus klasik dari Teori Kekhalifahan yang sebelumnya telah disinggung. Kedua ide yakni ide umat yang satu dan ide perwakilan politik dalam bentuk Kekhalifahan adalah berasal dari sumber-sumber Islami.

Walaupun ada kekhawatiran akan adanya penyimpangan-peyimpangan, dapat dikatakan bahwa adalah Sistim Khilafah yang merupakan bentuk negara yang cocok  bagi Dunia pada saat ini- mengingat negara itu tidak mengenal batas-batas negara yang tidak mewakili masyarakat, dan telah runtuh oleh transfer ide-ide revolusioner dan dorongan melalui Facebook dan Twitter. Dan pada saat dunia sedang bergerak ke arah persatuan yang lebih besar melalui di sepanjang blok-blok regional agar keberadaan masing-masing negara tetap relevan dan memiliki pengaruh di Panggung Dunia, maka Kekhalifahan lah yang secara historis, budaya dan teologis yang dapat memberikan legitimasi bagi masyarakat di wilayah tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox