Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 03 Januari 2018

Jungkat-Jungkit Angka Kemiskinan dan Ketidakberesan Sistem Ini



Fajar Kurniawan (Analis PKAD)

Jumlah penduduk miskin tahun lalu dikatakan turun 10,64%, sebelumnya selama periode September 2016 - Maret 2017 garis kemiskinan RI naik 3,45% yakni dari Rp 361.990 per kapita per bulan pada September 2016 menjadi Rp 374.478 per kapita per bulan pada Maret 2017. Anda bisa hidup ‘normal’ dengan Rp 374.478?

Masyarakat masih menjadi korban ketidakadilan ekonomi berlapis-lapis dan sistemik. Tidak kompetennya pemerintah Indonesia yang membuat kebijakan ekonomi yang salah dengan menyerahkan sebagian kekayaan alam Indonesia kepada perusahaan swasta asing dan yang menyebabkan kemiskinan besar. Pemerintah Indonesia sangat lembek terhadap perusahaan asing, contohnya PT Freeport.

Bicara kemiskinan stuktural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh buruknya sistem yang digunakan negara dalam mengatur urusan rakyat. Kemiskinan struktural tersebut merupakan konsekuensi logis penerapan sistem ekonomi Kapitalisme yang rusak baik secara paradigma maupun konsep derivatif atau turunan dalam kebijakannya.

Di sisi lain, Selama bertahun-tahun kekayaan di Indonesia terkonsentrasi pada kelompok ultrakaya yang terus bertambah kekayaannya. Posisi istimewa tersebut diraih dari pemanfaatan sumberdaya ekonomi dan komoditas seperti kelapa sawit, batubara dan mineral lainnya; atau dari bidang multimedia, teknologi komunikasi dan keuangan. Dengan menelaah bagaimana miliarder di Indonesia memperoleh kekayaannya, akan diperoleh gambaran industri apa saja di Indonesia yang paling banyak menyumbang kekayaan bagi para miliarder Indonesia. Industri keuangan menghasilkan kontribusi terbesar bagi kekayaan para miliarder Indonesia. Pertanian dan pertambangan juga menyumbangkan proporsi yang cukup besar pada kekayaan para miliarder di Indonesia, yang memang wajar karena sektor-sektor tersebut memiliki porsi besar dalam perekonomian Indonesia.

Persoalan ketimpangan tidak hanya menyangkut masalah pendapatan dan kekayaan. Ketimpangan pada akhirnya adalah mengenai kekuasaan. Ketimpangan ekonomi menyebabkan ketimpangan kekuasaan dalam hal siapa yang membuat aturan, siapa yang menguasai modal dan sumberdaya dan siapa yang dapat menantang status quo. Ketidakseimbangan kekuasaan yang berakibat pada ketimpangan yang lebar antara kelompok kaya dan kelompok lain semakin melanggengkan ketimpangan. Pasalnya, mereka yang berada di atas memiliki akses istimewa dan pengaruh pada proses pengambilan keputusan yang dimanfaatkan agar perekonomian dan berbagai kebijakan dapat melayani kepentingan mereka. Adapun kepentingan orang-orang yang berada di bawah cenderung tidak dihiraukan. Hal ini pada gilirannya berakibat pada ketidakstabilan social. Pasalnya, ruang politik dan ekonomi digunakan untuk memenuhi kepentingan segelintir orang daripada kepentingan banyak orang (Oxfam, 2016).

Masalah kemiskinan berlapis ini harus segera berakhir. Sudah saatnya mencari solusi alternatif bagi masyarakat Indonesia. Mengapa solusinya bukan dari Islam? Sudah terlalu lama, penguasa negara ini mengandalkan solusi buruk kapitalis sekuler, sedangkan nusantara merupakan bumi Islam. Di bumi nusantara ini, kita bisa merasakan kehadiran indahnya Islam. Islam telah menghilangkan ketidakadilan dan kekejaman; membangun masyarakat yang kuat dan sehat dengan memperkuat bangunan individu, keluarga, masyarakat dan Negara dengan penerapan hukum-hukum Islam, selanjutnya membangun sebuah negara yang kompeten yang mampu mengelola kekayaan negara demi kesejahteraan dan kesejahteraan rakyat; mendistribusikan kekayaan secara merata dan adil; memberikan keadilan kepada semua orang tanpa diskriminasi berdasarkan ras, etnisitas, warna kulit, ras, agama, kelompok dan lainnya. Juga dengan mewujudkan negara berdaulat yang kuat - sebuah negara independen dan terdepan yang akan menolak segala bentuk intervensi asing yang mengancam kedaulatan Negara.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox