Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 22 Januari 2018

Filosofi Sopir


Nindira Aryudhani

Nindira Aryudhani
Relawan Opini dan Media

Sopir, sebuah profesi yang kerap terpinggir. Meski secara peran, cukup penting dalam urat nadi transportasi. Tentu saja. Mobil semewah apa pun tidak akan bisa melaju tanpa sopir. Angkutan kota yang bejibun juga akan mati jika sopir sedang demo mogok kerja. Kereta eksekutif nan nyaman pun hanya bisa menjadi pajangan jika tak ada masinisnya. Demikian pula bagi moda transportasi yang lain. Dan hingga saat ini, mungkin satu-satunya kendaraan yang bisa disetir tanpa harus selalu oleh Si Sopir adalah pesawat, yakni dengan adanya sistem autopilot.
.
Pagi ini, saya menyaksikan kecelakaan mobil. Lokasinya di dekat pasar. Mobil tersebut adalah mobil bak (pick up) yang memuat telur. Mobilnya menabrak pohon, bagian depan ringsek. Untunglah jalan yang dilalui sedang sepi. Jika ramai, bisa jadi ada korban yang tertabrak. Penyebab kejadian ini sepertinya karena sopir mobil bak tersebut tengah mengantuk. Tiba-tiba ia hilang kendali. Telur muatannya pun berjatuhan. Banyak yang pecah.
.
Seorang sopir mobil muatan, biasanya memiliki latar belakang ekonomi menengah ke bawah. Sopir adalah mata pencahariannya. Secara ekonomi, perannya sebagai seorang sopir toh sangat urgen. Di satu sisi, mungkin ia juga seorang kepala keluarga. Di sisi lain, ia adalah tokoh sentral dalam proses distribusi barang. Barang takkan sampai tujuan tepat waktu jika sopir terlalu lambat mengemudikan mobil yang memuatnya. Namun ketika terjadi kecelakaan seperti tadi, sopir pula yang menanggung kerugian komoditas milik majikan yang ia angkut.
.
Sementara dari sisi sopir mobil sewaan online maupun offline, perannya juga tak kalah krusial. Kemampuannya mencari jalur pintas dan terdekat, tentu sangat diandalkan pelanggan. Apalagi pelanggan yang sedang terburu-buru atau mengejar waktu, tapi terjebak macet. Kelihaian Sang Sopir mencari jalan tikus akan sangat membantu.
.
Berangkat dari filosofi sopir ini, mari bayangkan andaikata sopir tersebut adalah seorang pemimpin negeri. Perannya dalam mengemudikan bahtera wilayah sungguh tak kalah krusial. Kemampuannya mengendalikan kendaraan berikut mencari jalan terbaik demi laju perjalanan negeri, akan menentukan lancar atau tidaknya perjalanan tersebut. Sopir yang paham posisinya tak boleh mudah mengantuk. Sopir yang paham rute takkan mau mengikuti jalur kabar burung. Karena sopir yang profesional pasti memilihkan jalur, bahkan suasana perjalanan terbaik yang dapat ia persembahkan bagi pelanggan.
.
Jadi ketika banyak ketimpangan sosial melanda suatu negeri, namun Sang Sopir masih cuek saja, tentu wajar jika para penumpang protes, mengkritik. Misalnya, ketika kran impor bahan pangan begitu menyuburkan mafia, padahal negeri ini negeri agraris. Liberalisasi listrik, migas, dan sumberdaya alam terjadi dengan begitu mulusnya. Sekularisasi budaya berupa program manusia setengah jadi (L98T) dan fasilitas pergaulan bebas dianggap kemajuan zaman.
.
Namun ironisnya, terjadi pembungkaman paksa bagi suara kritis. Ada fitnah-fitnah berupa radikalisme dan intoleransi terhadap umat Islam. Dakwah dianggap ujaran kebencian. Mengajak kebaikan totalitas sesuai Islam segera disambut dengan proyek moderatisasi. Mencegah kemungkaran dibisukan dengan kriminalisasi ulama dan aktivis Islam. Pelecehan dien Allah makin bejat dengan propaganda pekat menyengat.
.
Demikian sehingga, apa sesungguhnya niat orang ini dengan menjadi sopir? Ia bekerja untuk melayani penumpang/pelanggan atau menuruti majikan? Apakah Sang Sopir ingin memutuskan tali kepercayaan dari penumpang? Apakah Sang Sopir sudah siap mental jika benar-benar putus hubungan dengan penumpang?
.
Padahal sebenarnya, jika para penumpang melakukan protes/kritik tadi, semata-mata demi lancarnya perjalanan yang masih hendak ditempuh. Tapi ketika justru Sang Sopir berkata, Sudah, anda diam saja. Saya yang jadi sopirnya di sini. Saya yang mengendalikan segala sesuatunya. Maka, sesungguhnya wajar pula ketika para penumpang berkata, Baiklah, saya turun, saya tidak akan naik mobil anda. Saya tidak akan menggunakan jasa anda sebagai sopir. Saya bisa naik mobil lain. Jika perlu, saya akan berjuang untuk bisa membuat mobil sendiri dan mengemudikannya.
.
Para pembaca yang budiman, intinya ini bukan iklan tentang mobil atau lowongan menjadi sopir. Tapi mari kita pahami makna tersirat di balik filosofi sang sopir. Bahwa meski berkuasa dalam mengemudikan mobil, bukan berarti seorang sopir tak mau mendengarkan kritik dari para penumpang. Jangan karena paling mengetahui perihal mobil, otomotif, atau juga rute perjalanan, anda menjadi sopir yang otoriter. Jika demikian adanya, tunggulah masa berakhirnya karir anda sebagai sopir. Berakhir yang terjadinya dari dalam diri anda sendiri. Ingatlah, bahwa sebutan sopir bagi anda, karena ada orang lain yang disebut penumpang.
.
Dari Abdurrahman bin Syamamah, ia berkata: aku mendatangi Aisyah istri Rasulullah ﷺ untuk bertanya tentang sesuatu hal. Ia lantas berkata: aku akan memberitahumu tentang suatu berita yang pernah aku dengar dari Rasulullah ﷺ, bahwasanya ia pernah bersabda di rumahku ini: Ya Allah, siapa saja yang menguasai sesuatu dari urusan umatku, lalu mempersukar urusan mereka, maka persukarlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku lalu berlemah lembut pada mereka, maka permudahlah baginya. (HR. Muslim).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox