Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 22 Januari 2018

Dilema Kepemimpinan Bangsa Dalam Pusaran Ideologi Oplosan Sekulerisme

Ahmad Satra

Oleh Dr. Ahmad Sastra
Ketua Divisi Riset dan Literasi Forum Doktor Islam Indonesia 

Memimpin  negara berarti mengelola  tiga aspek strategis yakni manusia, kehidupan dan alam semesta. Manusia adalah aspek rakyat atau sumber daya manusia. Kehidupan meliputi aspek pendidikan, ekonomi, politk, budaya, keamanan dan sosial. Sementara alam semesta berdimensi ekologis dan sumber daya alam.

Yang membedakan antar negara dalam pengelolaan tiga aspek tersebut adalah landasan nilai  dan ideologi. Tidak ada satupun negara di dunia ini yang tidak melandaskan atas nilai dan ideologi dalam berbangsa dan bernegara. Aspek kedua pembeda antar negara adalah soal kepemimpinan. Landasan nilai merujuk kepada sumber normatif, sementara aspek kepemimpinan merujuk kepada kepribadian seorang pemimpin.

Kepribadian seorang pemimpin suatu negara bisa diukur dengan pola fikir atas realitas kehidupan rakyat dan paradigmanya atas sumber daya manusia. Pola fikir yang benar akan melahirkan pola sikap yang benar, begitupun sebaliknya. Ada pepatah mengatakan sikap yang benar dengan satu tangan lebih baik dari sikap yang salah meskipun dengan dua tangan.

Indonesia, negeri zamrud katulistiwa dengan penduduk lebih dari 250 juta dengan kekayaan alam yang super melimpah adalah realitas. Kesalahan pandangan atas rakyat dan sumber daya alam akan melahirkan kesengsaraan rakyat. peradigma yang benar atas keduanya akan melahirkan kesejahteraan dan keselamatan kehidupan rakyat.

August Comte, seorang sosiolog yang menjadi rujukan pemikiran Barat membagi tahapan paradigma manusia atas realitas. Pertama, tahap teologis/fictius dimana eksistensi Tuhan dijadikan sebagai sumber ilmu dan realitas. Kedua, tahap metafisika/abstrak yang mengedepankan kekuatan abstrak sebagai sumber fenomena. Ketiga, scientific yang meyakini hukum alam sebagai penyebab gejala alam semesta.

Ketiga tahapan Comte menegaskan proses sekulerisasi paradigma atas realitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Dimulai dari tahap teologis menuju tahap filosofis dan akhirnya kepada tahap materialistis. Tak mengherankan jika pengelolaan negara di Barat berlandaskan nilai-nilai sekuler dan liberal. Definisi kebahagiaan rakyat di Barat diukur oleh ketercapaian materi yang bersifat duniawi.

Nampaknya paradigma Comte terinspirasi dari tokoh-tokoh filsafat Barat seperti Thales yang memandang adanya gejala alam terhadap keberadaan air, udara dll. Sokrates yang mengajarkan dialektika, metode untuk menemukan definisi. Dialektika sokrates dikembangkan oleh plato sehingga dialektika melahirkan thesis, antithesis dan sintesis. Hegel dan Karl Mark yang membangun dialektika materialism,  dialektik proletariat versus kapitalis. 

Barat kemudian menjadikan nilai dan ideologi kapitalisme sebagai worldview dalam pola pengelolaan negara. Nilai-nilai teologis telah lama ditinggalkan oleh negara-negara Barat. Nilai teologis diserahkan kepada individu-individu. Seluruh perbuatan rakyatnya tidak ditimbang berdasarkan moral dan etika, namun berdasarkan konsensus sosial.

Sementara di belahan timur ada negara yang menjadikan komunisme sebagai landasan nilai dan ideologi, dimana aspek teologis diabaikan sama sekali. Agama justru dianggap sebagai candu dan menghambat kemajuan negara. Dialektika materialisme menjadi sumber inspirasi kepemimpinan negara berbasis komunisme atheis. 

Istilah sekuler berasal dari bahasa latin saeculum yang oleh Naquib al-Attas diistilahkan dengan paham kedisinikian adalah ideologi Barat yang menolak sistem agama dalam semua urusan dunia seperti politik, sosial, pendidikan, ekonomi dan budaya. Dalam paradigma  sekuler, kehidupan harus diatur berasaskan kepada rasional, ilmu dan sains.

Paham pemisah antara agama dan dunia ini menganggap kewujudan sebenarnya adalah melalui pancaindera bukan unsur-unsur rohaniah dan metafisik yang sukar dikesan melalui kajian modern. Prinsip lainnya adalah bahwa nilai baik dan buruk ditentukan oleh akal manusia bukannya teks agama. Bahkan menganggap alam ini terjadi melalui fenomena sains dan kimia tertentu bukannya refleksi kuasa Tuhan.

Sementara Islam adalah agama dan peradaban sekaligus. Islam berasal dari kata salima yuslimu istislaam –artinya tunduk atau patuh– selain yaslamu salaam –yang berarti selamat, sejahtera, atau damai. Menurut bahasa Arab, pecahan kata Islam mengandung pengertian: islamul wajh (ikhlas menyerahkan diri kepada Allah), istislama (tunduk secara total kepada Allah), salaamah atau saliim (suci dan bersih), salaam (selamat sejahtera), dan silm (tenang dan damai).

Dari pengertian Islam, maka muslim adalah dia yang menyerahkan segenap wujudnya di jalan Allah taala. Yakni mewakafkan wujudnya untuk Allah, mengikuti kehendak-kehendakNya, serta untuk meraih keridhaanNya. Kemudian dia berdiri teguh diatas perbuatan-perbuatan baik demi Allah semata. Dan dia menyerahkan segenap kekuatan amaliah wujudnya di jalan Allah. Artinya, secara akidah dan secara amalan, dia telah menjadi milik Allah semata.

Dalam perspektif paradigmatik, ideologi sekulerisme yang lahir dari Barat ini jelas bertentangan dengan Islam. Sebagai contoh pandangan Islam terhadap alam semesta sangat bertentangan dengan pandangan sekulerisme. Menurut Islam, pandangan terhadap alam semesta bukan hanya berdasarkan akal semata sebagaimana pandangan sekulerisme.

Alam semesta dalam Islam  difungsikan untuk menggerakkan emosi dan perasaan manusia terhadap keagungan al-Khaliq, kekerdilan manusia dihadapanNya, dan pentingnya ketundukkan kepadaNya. Artinya, alam semesta dipandang sebagai dalil qath’i yang menunjukkan keesaan dan ketuhanan Allah

Gelombang modernisme peradaban Barat dengan basis sekuler-liberal ke dunia Islam merupakan ancaman terbesar dalam bidang pemikiran dan keimanan. Perdaban Barat Modern tidak memperdulikan aspek kemanusiaan. Pendidikan modern Barat telah menghilangkan keyakinan kaum muda muslim terhadap agamanya. Padahal keyakinan adalah aset terpenting dalam kehidupan seseorang.

Berbeda dengan Islam yang sempurna dalam kaitan konsepsi kepemimpinan negara yang menjadikan nilai teologis sebagai landasan filosofis dan empiris. Rakyat, kehidupan dan alam semesta dalam pandangan Islam adalah anugerah Allah yang mesti disyukuri sebagai sebuah amanah. Ketiga aspek itu dalam pandangan Islam adalah sebagai wasilah untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan berbangsa dan bernegara.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,  (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka [QS Ali Imran : 190-191]

Nampak jelas dalam ayat diatas bagaimana seharusnya seorang pemimpin negara memiliki paradigma yang holistik. Kepemimpinan dalam Islam adalah pemimpin pembelajar atas seluruh nilai dan realitas yang sedang terjadi dan menjadikan paradigma teologis sebagai timbangannya untuk menemukan hakekat kebenaran hakiki.

Pemimpin pembelajar dalam pandangan Islam mesti mampu menimbang segala realitas secara metodis, sistematis, logis dan verifikatif dimana nilai-nilai teologis normatif sebagai panduannya. Sebab seluruh manusia, kehidupan dan alam semesta oleh Allah tidaklah diciptakan tanpa tujuan spiritual. Keberkahan hidup berbangsa dan bernegara oleh Allah diindikasikan adanya rakyat yang beriman dan bertaqwa.

Mencintai Indonesia versi pemimpin pembelajar adalah dengan memahami bentuk penjajahan gaya baru sebagai musuh yang akan merugikan negeri ini sebagaimana zaman kolonial di masa lampau. Neokolonialisme seperti kapitalisme sekuler dan komunisme atheis adalah dua bentuk penjajah baru melalui hegemoni ekonomi, politik, budaya, pendidikan dan sosial yang jauh lebih berbahaya dibandingkan zaman kolonial pra kemerdekaan. Kedua nilai ideologi ini telah terbukti memiskinkan dan menyengsarakan rakyat Indonesia.

Sekulerisme sebagai ideologi oplosan yang mencampur aduk antara akal dan nafsu telah menjadi pusaran kuat yang menjerat seorang muslim yang terlibat kepemimpinan negara demokrasi. Mereka hampir tidak mampu keluar dari jeratan ini, selama masih berkubang dalam politik demokrasi. Keluar dari sistem demokrasi dan membangun peradaban dari luar sistem dengan membangun kesadaran umat adalah alternatif terbaik.

Maka bagi para pemimpin adalah bijak merenungkan firman Allah berikut, Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al A’raf : 96). [AhmadSastra,KotaHujan,20/01/18 : 13.32 WIB]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox