Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 25 Januari 2018

Cara Media Memperlakukan Hizbut Tahrir


Mahfud Abdullah (Dir. Indonesia Change)

Media massa terhadap gerakan-gerakan ini memiliki dua sikap: Pertama, member apresiasi positif dan terus-terus menyorotinya. Kedua, melakukan serangan pemikiran dan membuat berbagai tuduhan melalui media, sementara pada saat yang sama melakukan pemboikotan media dan tidak menyorotinya.

Sementara realitas yang Anda temui bahwa sikap media-baik internasional maupun regional-terhadap gerakan seperti Hizbut Tahrir adalah sinis dan membuat berbagai tuduhan negatif, sementara pada saat yang sama tidak menyorotinya, bahkan lebih dari itu media justru melakukan pemutarbalikan fakta dan pendistorsian terkait gerakan ini.

Alasannya ide-ide Hizbut Tahrir berbenturan langsung dengan rezim-rezim yang ada di negeri-negeri kaum Muslim, serta berbenturan langsung dengan Barat dan ide-ide kapitalis demokratisnya. Hizbut Tahrir, seperti yang kita tahu, senantiasa membongkar kebobrokan rezim-rezim yang ada di dunia Islam ini tanpa kecuali, serta membongkar skenario penguasa antek dan boneka Bara. Hizbut Tahrir juga memaparkan kebusukan pemikiran Barat, termasuk liberalisme, kapitalisme demokrasi dan terorisme, serta membongkar negara-negara yang tegak di atas pemikiran ini.

Jika kita tahu bahwa media-media, baik yang lahir di Barat maupun di negeri-negeri kaum Muslim memiliki tujuan yang sama, yaitu memoles citra pemikiran kapitalis, memperkokoh pilar-pilar negara-negara yang mengorbit ke Barat yang ada di dunia Islam ini, serta menyerukan agar ikut berpartisipasi bersama rezim-rezim boneka yang ada di negeri-negeri kaum Muslim. Maka di sinilah kebijakan media ini dan sikapnya terhadap gerakan idelogis yang berlawanan arus dengan pemikiran Barat tergambar.

Saya mengamati media dan cara media memperlakukan Hizbut Tahrir sepanjang terjadinya berbagai peristiwa, bahwa media-media sekuler pro Barat ini, baik cetak, online maupun televisi, melakukan pemboikotan penuh terhadap Hizbut Tahrir dan semua aktivitasnya di dunia Islam. Sebaliknya, media justru melancarkan perang pemikiran yang tak kenal lelah terhadap Hizbut Tahrir melalui para politisi, ‘ulama’ dan penulis yang sudah teracuni oleh budaya Barat, serta mereka yang ingin mengambil keuntungan materi dari Barat.

Sebagai contoh, Hizbut Tahrir mengadakan long march besar-besaran di dunia Islam, termasuk di Indonesia, namun tidak ada satupun media yang berani menyoroti aktivitas-aktivitas ini. Hizbut Tahrir mendistribusikan jutaan nasyrah (selebaran atau bulletin) di negeri-negeri kaum Muslim, dan tidak satu pun media yang memberitakannya.

Sistim Khilafah telah diterima di dunia Islam kembali setelah hamper 1 abad diruntuhkan, ketakutan masyarakat telah runtuh oleh transfer ide-ide revolusioner dan dorongan melalui Facebook dan Twitter. Dan pada saat ini dunia sedang bergerak ke arah persatuan yang lebih besar, maka Kekhalifahan yang secara historis, budaya dan teologis yang dapat memberikan legitimasi bagi masyarakat di wilayah tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox