Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 08 Januari 2018

Banteng Berderai Air Mata Buaya


Oleh: Nasrudin Joha

Cuih! Kuludahi setiap muka berparas kemunafikan
Kuinjak-injak onggokan bangkai menyengat busuk yang mengelabui aroma kedzaliman
Kujejak setiap serapah yang dibungkus keserakahan
Bersolek diri dengan ironi kedzaliman
Bertengger di istana tiran seraya meneriakan keadilan
Kemudian berteriak lantang : kami dizalimi ! Ini tidak adil !

Kulempar kotoran pada muka badak, musang berbulu domba yang mencoba mendekati induk ayam, mencoba memangsa peranakan, kukunyah utuh dan kutelan melintang,
Kubuka rongga mulut untuk melahap sandiwara politik,
Kepicikan dan ironi dibalut buliran air mata buaya !

Sejak kapan banteng mengeluh ? Sejak kapan banteng mengaduh ? Sejak kapan banteng menjadi Cinderella ?
Kau umbar drama telenovela, kau jadikan air mata untuk tebar pesona,
Kau lupa,
Kau hinakan ulama,
Tak setetes pun air mata keluar
Apalagi hingga berderai

Jangan cengeng kawan !
Ayo, bangkit, bertarung lagi,
Kumpulkan semua perbendaharaan dan perbekalan,
Lawan lah Qadla Allah SWT,
yang akan menghinakanmu,
Ujung dari pertarungan ini,
Adalah terbujurnya tubuh,
Terpenggalnya kepala,
Banteng-banteng dungu hanya tinggal sejarah!

Ayo, Rawe-Rawe rantas !
Malang Malang putung !
Periksa koalisimu!
Sesungguhnya aroma pengkhianatan itu busuk menyengat !
Andai saja kau tak tuli, sejak dulu kau potong tangan-tangan peminta jatah kekuasaan,

Tapi itulah dirimu,
Banteng dungu yang tidak sanggup mengenali musuh,
Musuhmu ada pada koalisimu,
Kau terlampau dungu,
Tiada mampu melihat manuver, Dibutakan oleh secuil kekuasaan,

Pada saat yang sama,
kau hinakan umat dan ulama,
Situasimu sungguh sulit kawan,
Didalam dikhianati,
Diluar menjadi musuh bersama umat,

Selamat datang hari-hari sulit
Selamat terseok berjalan di gelombang pengkhianatan,
Jika masih punya nyali,
putuslah tangan-tangan kemitraan koalisi,
Disanalah sumber pengkhianatan dan kedustaan,

Tetapi,
Rasanya dirimu tiada memiliki keberanian,
Untuk memutus koalisi dan mengubur pengkhianatan

Ah sudahlah, engkau hanyalah
banteng dungu,
Menyeruduk tak tahu arah, kau tinggalkan otak, kau gunakan otot,
Wajar saja jika kekalahan dan nestapa, selalu bertubi menghampirimu.

[].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox