Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 16 Januari 2018

Antara Toleransi dan Persekusi


Oleh: Novita Fauziyah, S.Pd (Pendidik)

Belum lama setelah masyarakat mendengar putusan Mahkamah Konstitusi (MK) perihal penolakan perluasan pasal tentang LGBT dan perzinaan, kini berita yang menyayat hati kaum muslim kembali datang. Ulama kita Ustadz Abdul Somad mendapat perlakuan yang tidak mengenakan saat melakukan kunjungan ke Hongkong dalam rangka memenuhi undangan pengajian dari warga Indonesia di sana. Dalam akun sosmed @ustadzabdulsomad beliau memberikan klarifikasi tentang kunjungannya ke Hongkong. Beliau sampai di sana sekitar pukul 15.00 WIB. Keluar dari pintu pesawat, beberapa orang tidak berseragam langsung menghadang dan menarik beliau. Kurang lebih 30 menit kemudian, mereka menjelaskan bahwa negara mereka tidak bisa menerima Ustadz Abdul Somad. Penolakan ini tanpa alasan yang jelas.
Bagi Ustadz Abdul Somad yang dikenal dengan sebutan UAS, ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya beliau mengalami persekusi di Bali, namun akhirnya pengajian tetap dapat berjalan. Selain UAS, ulama yang lain seperti Ustadz Felix Siauw juga pernah beberapa kali dipersekusi. Lebih tragisnya, di salah satu kota di Jawa Timur beliau dipersekusi oleh oknum ormas tertentu saat ayat suci Alquran sedang dilantunkan seolah tidak mengindahkan kalimat agung dari Sang Ilahi. Beberapa ulama yang lain seperti Gus Nur dan UB (Ustadz Bachtiar Natsir) juga sempat mengalami penolakan di beberapa daerah. Lagi-lagi alasan untuk semuanya tidak jelas dan tidak dapat dibuktikan. Namun jika kita amati semua mengatasnamakan Pancasila dan NKRI. Seolah para ulama kita tidak mencintai NKRI.
Ulama adalah  pewaris para nabi. Lewat ulama lah, ilmu Allah terus terjaga dan menjaga bumi ini. Dengan kehadiran ulama, limpahan rahmat dan barakah dari Allah datang. Jika kita menilik sekilas sejarah perjuangan Bangsa Indonesia pun tidak lepas dari peran sosok ulama. Lewat semangat jihad dan pekikan takbir mereka melawan segala bentuk penjajahan yang membelenggu bangsa ini. Demikian juga setelah Bangsa Indonesia merdeka. Peran ulama untuk terus menjaga dan meluruskan pemikiran ummat pun memang dibutuhkan. Seakan ilmu dan nasehatnya seperti sumber air yang setiap saat membasahi dan mengobati dahaga di tengah panasnya kehidupan sistem kapitalisme ini.
Namun apa yang terjadi hari ini sepertinya sudah tertukar. Saat ulama yang mencerdaskan ummat dipersekusi, justru hal yang merusak ummat dan merusak generasi justru dipaksa untuk ditoleransi. Tentu kita tidak bisa melupakan hari bersejarah tanggal 14 Desember 2017 saat Mahkamah Konstitusi (MK) memberikan keputusan penolakan terhadap permohonan uji materi Pasal 284, 285, dan 292 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang mengatur soal kejahatan terhadap kesusilaan. Dengan putusan tersebut, maka tindakan Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) dan perzinaan tidak bisa dipidanakan.
Dikutip dari www.kompas.com, salah satu hakim MK menjelaskan bahwa sepanjang berkenaan dengan kebijakan pidana atau politik hukum pidana, hal itu adalah sepenuhnya berada dalam wilayah kewenangan pembentuk undang-undang. Namun dari Sembilan hakim MK terdapat empat hakim  yang memiliki perbedaan pendapat atau dissenting opinion . mereka menyatakan bahwa MK tidak menjadi positive legislator atau memperluas lingkup suatu tindak pidana melainkan mengembalikan konsep zina sesuai dengan nilai hukum dan keadilan menurut berbagai nilai agama dan hukum yang hidup dalam masyarakat di Indonesia.
 Dalam keputusan tersebut memang  tidak ada kalimat yang menyatakan bahwa MK melegalkan.  Namun justru dengan penolakan permohonan tersebut, seolah memberikan angin segar bagi para pelaku LGBT dan perzinaan untuk terus bergerak secara masif dan menunjukkan siapa mereka.
Itulah dua kondisi yakni antara toleransi dan persekusi. Terhadap ulama seharusnya bisa bersikap toleransi saat mereka menyampaikan nasehat meski berbeda pendapat dalam koridor hal-hal yang boleh untuk berbeda. Demikian juga bagi para pelaku LGBT dan zina yang seharusnya bisa ditindak dengan tegas dengan diterapkannya sanksi yang menimbulkan efek jera.
Apa yang terjadi di negeri ini?. Dengan kejadian-kejadian di atas menjadi terbuka dengan sendirinya bahwa yang berhubungan dengan Islam justru makin dipersulit di berbagai tempat, namun yang jelas-jelas salah dan merusak makin mendapat tempat. Bukan kehidupan yang merusak yang ingin kita buat. Namun kehidupan yang tenang sesuai Islam lah yang ingin kita dapat. Karena dengan diterapkannya syariat Islam, Allah akan turunkan rahmat.

Kini saatnya persatuan ummat makin dipererat. Jangan mencari perbedaan yang melekat, namun carilah persamaan untuk menuju jalan yang penuh rahmat. Lewat semangat kalimat tauhid yang bukan sekedar kalimat. Bersama wujudkan kehidupan yang diatur oleh syariat di berbagai lini yang tidak hanya bervisi dunia namun juga akhirat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox