Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 20 Desember 2017

REFLEKSI AKHIR TAHUN 2017: KHILAFAH, VISI POLITIK DAN MAINSTREAM PERGERAKAN MAHASISWA



Oleh : Ricky Fattamazaya Munthe, SH.,MH.
( Ketum PP Gema Pembebasan).

Publik mulai jengah dengan dinginnya pergerakan mahasiswa pasca reformasi. Mahasiswa dituding menggunakan aksi aspirasi jalanan sebagai media politik untuk meraih tampuk kekuasaan politik. Terbukti, mayoritas tokoh pergerakan reformasi saat ini justru berada di bagan kekuasaan, mengambil alih posisi yang dahulu sering dikritisi, merasakan legitnya kue kekuasaan dan segera melupakan umat yang dahulu dibelanya.

Peristiwa politik pasca reformasi, betapapun menyita perhatian publik -namun tidak mampu memantik emosi mahasiswa- untuk terjun kembali ke ladang-ladang persemaian aspirasi, menyuarakan aspirasi umat, membela kepentingan umat, dan bersama umat berusaha menghentikan kedzaliman yang ditimpakan penguasa.

Pada saat yang sama, umat juga mengambil jarak terhadap mahasiswa. Pelacuran politik dan intelektual mahasiswa yang diwariskan sebagai perseden pergerakan peninggalan aktivis reformasi, telah menjadikan umat jengah, bosan, dan emoh untuk terlibat memberikan dukungan kepada pergerakan majasiswa. Mahasiswa dinilai tidak lagi mewakili aspirasi rakyat, apalagi setelah mashur diketahui pimpinan pergerakan mahasiswa justru asik menikmati politik meja makan yang dihidangkan penguasa.

Dalam konteks itulah -pergerakan mahasiswa yang tulus dan ikhlas, bergerak berdasarkan visi dan misi politik untuk membela kepentingan umat- mendapat dua problem sekaligus. Pertama, secara internal sulit melakukan konsolidasi pergerakan disebabkan lunturnya idealisme pergerakan. Materi dan pragmatisme telah menjadi asas dan pertimbangan pergerakan, sehingga sulit sekali menggerakkan organ mahasiswa tanpa asupan gizi politik.

Keadaan ini pula, yang menjadikan organ pergerakan mahasiswa justru membebek dan menetek pada penguasa untuk mendapatkan asupan gizi politik. Visi cekak berupa kompensasi dunia, menjadikan jarak pandang pergerakan mahasiswa menjadi kabur, tidak jelas, cenderung pragmatis.

Kedua, secara eksternal nyaris mustahil melakukan perubahan revolusioner tanpa dukungan umat. Mahasiswa -betapapun kuat arus dan pergerakannya- tanpa dukungan umat, niscaya idealisme yang diusung mahasiswa akan berakhir sebatas orasi-orasi dan bahasa agitasi yang menjemukan.

Mahasiswa tidak akan mampu memetik buah revolusi jika idealisme pergerakan mahasiswa tidak diadopsi sebaga visi dan misi umat. Padahal, tingkat kepercayaan Umat terhadap mahasiswa turun drastis. Wajar, dan tidak bisa disalahkan. Realitas yang ada menunjukan kebanyakan pergerakan mahasiswa saat ini hanya berujung pada pragmatisme pergerakan. Keadaan ini menjadikan pergerakan mahsiswa teralienasi dari umat, menjadi bagian dan entitas yang terpisah dari umat.


Berkah Aksi 212

Aksi bela Islam 212 yang sedianya dikhususkan untuk meminta keadilan atas adanya kasus penodaan terhadap agama Islam yang dilakukan Ahok memberi berkah tersendiri. Pasca aksi 212, terjadi konsolidasi massif ditengah-tengah umat, tidak terkecuali dikalangan pergerakan mahasiswa.

Pergerakan mahasiswa seolah mendapat panggung kembali, memperoleh kepercayaan sebagai salah satu pilar penting untuk mewujudkan tonggak perubahan umat. Berbagai pergerakan mulai muncul dan eksis kembali.

Memang benar, kemunculan pergerakan politik mahasiswa pasca aksi 212 terjadi polaritas politik yang bersifat asosiatif. Kubu mahasiswa terbelah, antara menjadi kubu pro perubahan, pro penegakan keadilan, pro menekan umat, atau menjadi kubu status quo, pembela Penista agama dan pendukung rezim dzalim.

Polaritas politik asosiatif ini tidak saja terjadi ditengah elemen pergerakan mahasiswa, seluruh elemen dan simpul politik juga mengalami hal yang sama. Dalam konteks parpol, terbelah menjadi parpol pro Penista agama atau parpol kontra Ahok. Parpol pro Perpu dzalim atau parpol kontra kedzaliman.

Ditingkat praktisi hukum juga terbelah, ada polaritas gerakan advokasi publik yang membelah dan mengambil posisi berhadap-hadapan, satu dengan lainnya. Muncul Koalisi 1000 Advokat Bela Islam, namun juga muncul Advokat Bhinneka Tunggal Ika. Hadir Koalisi Advokat Penjaga Islam juga lahir Advokat Pancasila.

Semua kubu yang merestui kedzaliman rezim selalu berlindung pada bahasa mantra lama "PANCASILA, NKRI dan BHINEKA TUNGGAL IKA". Meski terbongkar, mereka yang mengaku Aku Pancasila diantaranya justru tertabrak tiang listrik karena tersangkut kasus korupsi. Pergesekan dan konfrontasi politik -baik terbuka maupun menggunakan pendekatan proxy-jamak ditemui pasca aksi 212.

Adapun berkah yang paling nyata pasca aksi 212 bagi pergerakan mahasiswa, yakni mahasiswa seperti bangkit dari kubur atau dari tidur yang panjang, mulai berjalan pada arah yang jelas, menyuarakan tuntutan yang tegas, dan mendapat dukungan umat. Pergerakan mahasiswa sebelumnya didominasi oleh jargon dan visi politik sekuler, telah bergeser pada jargon politik Islam dan tuntutan visi politik Islami.

Jika dahulu semua pergerakan mahasiswa menuntut penegakan demokrasi, hari ini justru mainstream pergerakan mahasiswa menghendaki demokrasi mati dan dikubur pada lubang yang paling dalam. Seruan umat kembali kepada syariat Islam menjadi slogan dan yel-yel aksi yang paling mendominasi. Simbol-simbol ta'ashub pergerakan berupa bendera-bendera kebanggaan diri telah ditransformasi pada kebanggaan pada Islam, pada simbol Islam, pada Al Liwa dan Ar Roya.


Khilafah, Mainstream Politik Mahasiswa

Jelas diakui bahwa saat ini visi politik umat menuju Khilafah telah pula menjadi perbincangan hangat ditengah pergerakan mahasiswa. Mahasiswa sudah meninggalkan diskursus demokrasi yang menjadi ajang kebanggaan visi politik, bergeser membincangkan Khilafah dan merambah menjadikannya sebagai visi politik bersama.

Bahkan, beberapa organ mahasiswa tidak saja menjadikan Khilafah sebagai bahan diskursus politik, tetapi telah diadopsi sebagai visi politik pergerakan mahasiswa. Diantaranya Gerakan Mahasiswa Pembebasan (GEMA) yang telah menetapkan moto bersatu, bergerak terapkan ideologi Islam.

Gema melihat Penerapan ideologi Islam hanya mungkin jika umat memiliki institusi politik sebagai media pengejawantahan nilai nilai dan syariat Islam. Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin untuk menerapkan syariat Islam serta mengemban risalah Islam keseluruh penjuru alam.

Dengan Khilafah hukum Islam dapat ditegakkan dan menjadi realitas nyata sebagai problem solver atas berbagai Problematika yang mendera umat. GEMA konsisten memperjuangan visi politik Khilafah dan terus mengajak seluruh komponen pergerakan mahasiswa lainnya untuk meniti jalan yang sama.

Perlahan namun pasti, mainstream pergerakan mahasiswa akan merambah dan menjadikan Khilafah sebagai visi politik bersama. Hal ini sangan wajar dan natural, sebab mahasiwa Islam dan pergerakannya pastilah menjadikan nilai syariat Islam sebagai basis ideologi perjuangannya.

Disisi lain, kerusakan kapitalisme global dengan sistem politik demokrasi yang dipaksakan di berbagai negeri kaum muslimin telah menghasilkan kerusakan yang parah dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Jadi, mainstream politik Khilafah bukanlah ekspektasi, ia merupakan realitas nyata yang arah pergerakannya sedang menuju puncaknya.

Pada titik akumulasi, seluruh elemen pergerakan mahasiswa Islam dan umat akan berkumpul pada visi politik yang sama, memperjuangkannya dan menegakannya secara bersama-sama. Khilafah yang tegak kelak adalah Khilafahnya umat, khilafahnya mahasiswa, khilafah milik seluruh kaum muslimin. Jadi, kepada rekan-rekan mahasiswa, segeralah menceburkan diri dalam arus mainstream politik khilafah, agar  kita juga mendapat kemuliaan yang sama saat pertolongan Allah SWT tiba.

Akhir tahun 2017 ini harus dijadikan momentum pengokohan visi politik Khilafah, sebagai mainstream politik pergerakan mahasiswa dalam rangka membuat pertimbangan dan resolusi politik pergerakan mahasiswa pada tahun-tahun selanjutnya. [].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox