Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 28 November 2017

Pilih Sekulerisme Atau Islam?


Mahfud Abdullah (Direktur Indonesia Change)

Samuel P. Huntington, penulis "The Clash of Civilizations" mengemukakan bahwa ke depan sumbu utama politik dunia akan cenderung menjadi pertentangan antara peradaban Barat dan non-Barat. Huntington berpikir dengan cara survei beragam teori tentang sifat politik global di masa pasca Perang Dingin.

Beberapa teori dan penulis berpendapat bahwa hak asasi manusia, demokrasi liberal dan ekonomi pasar bebas kapitalis telah menjadi satu-satunya alternatif ideologis yang tersisa untuk bangsa-bangsa di dunia pasca Perang Dingin. Secara khusus, Francis Fukuyama berpendapat bahwa dunia telah mencapai ‘akhir sejarah’ dalam arti Hegelian. Huntington berpendapat dalam tesisnya, ia berpendapat bahwa poros utama konflik di masa depan akan di sepanjang garis budaya dan agama.

Adapun krisis saat ini Indonesia mewakili pertarungan ideologis antara Islam melawan sekuler-kapitalisme global, sementara aspirasi untuk Islam di dunia Muslim merupakan visi solutif bagi masyarakat. Gerakan muncul di berbagai lini masyarakat menggugat kesepakatan nasionalisme ala Sykes-Picot, umat Islam Indonesia saat ini lebih condong ke arah kepemimpinan yang bercita-cita untuk menjaga kepentingan Muslim dibandingkan dengan kepentingan Barat, sebuah paradigma ideologis alternatif untuk etika, politik dan ekonomi, ini merupakan potensi benturan peradaban dan ancaman terhadap tatanan dunia saat ini di bawah kapitalisme.

Bicara politik Islam, jelas dibangun di atas otoritas penguasa, yang mengatur dengan syariah untuk menjaga urusan masyarakat. Politik sekuler dibangun di atas UU untuk memenuhi kepentingan kapitalis, terlepas dari kebutuhan masyarakat. Untuk alasan ini, banyak muslim idealis memasuki politik sekuler yang mencoba 'berbuat baik', atau 'mencegah bahaya' tapi hampir selalu gagal.

Sistem sekuler tidak memiliki prinsip yang stabil, jadi mudah dibajak oleh kelompok kepentingan yang kuat, seperti perusahaan media, bisnis besar, penjaga tua dan sejenisnya. Inilah realitas Morsi di Mesir, digulingkan oleh militer pro AS yang memiliki kekuatan nyata di Mesir; sehingga antek AS berkomplot untuk merusak rencananya, kemudian menggulingkannya. Di Turki itu adalah apa yang disebut 'White Turks' yang merupakan kekuatan sesungguhnya, sementara Erdogan hanya bisa membuat kesepakatan dan mencoba membatasi pengaruh mereka sedikit. Dalam kasus keduanya tidak ada syariah Islam yang diimplementasikan; tidak umum, atau dalam rinciannya.

Setiap Muslim yang memasuki permainan politik sekuler ini akan digunakan dan disalahgunakan, lalu dibuang seperti yang lainnya. Bahkan jika dia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia mengkompromikan syariah untuk mencegah kejahatan, maka timbul pertanyaan serius: sebenarnya kejahatan apa yang pernah dia cegah? Juga kejahatan apa yang lebih buruk daripada meninggalkan Syariah Islam?

Islam diserang akhir-akhir ini; dan mengapa sangat penting bagi kaum sekuler untuk menipu kita agar berpikir bahwa Islam politik telah gagal. Ini adalah tantangan nyata bagi cara hidup kaum muslim. Islam jelas membawa umat manusia keluar dari kegelapan yang menindas, tentu jika diberi kesempatan untuk berdiri lagi sebagai sebuah negara.[]




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox