Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 28 November 2017

Menyoal Pancasila



Ahmad Rizal (dir. Indonesia Justice Monitor)

Ideologi adalah seperangkat gagasan kesadaran yang merupakan tujuan, cita-cita dan tindakan seseorang, yang berarti sebagai visi yang komprehensif, sebuah cara untuk melihat sesuatu (pandangan dunia). Ideologi yang dominan akan diterapkan pada masalah publik dan dengan demikian menjadikannya sebuah konsep yang penting dalam politik.

Secara alamiah, setiap kecenderungan ekonomi, politik, media dan militer memerlukan sebuah ideologi. Kita melihat keajaiban ekonomi Pasca-Perang Dunia II Jepang terutama disebabkan oleh intervensi ekonomi pemerintahnya setelah Jepang bergabung dengan Blok Barat dan mengadopsi Kapitalisme. Pada faktanya, ideologi menentukan bagaimana aset dan hubungan antara negara dikelola, sehingga ketika muncul ideologi alternatif pasti menimbulkan konflik kepentingan bagi rezim maupun pemikir pro-status quo.

dan… Publik masih berdebat seputar Pancasila sebagai Ideologi apakah sebatas filosofi masih berlangsung hingga saat ini – di saat ekonomi kita terpuruk oleh rezim Pancasilais yang mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang liberal. Namun kini banyak dari kalangan umat Islam yang sangat menyadari prospek Sistem Islam sebagai ideologi yang komprehensif.

Ketakutan kaum sekuleris terhadap bahaya Komunis dan radikalisme kiri kini telah diganti dengan 'Kekuasaan Hijau' Islam dan Syariah-nya. Apa yang biasanya disebut sebagai perjuangan politik melawan kedholiman rezim kapitalistik sekarang lebih dilihat melalui lensa yang berbeda dan dianggap kecenderungan sebagai ancaman yang serius.

Baik, bicara Pancasila menurut hemat saya, saat ini sebagai set of phylosophy belum mampu sebagai ideologi lantaran tidak sampai menyentuh aspek sistem. Adapun rumusan sila yang terkandung dalam pancasila seperti ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang beradab, persatuan, permusyawaratan, dan keadilan itu merupakan rumusan filosofis tentang ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan hanya sebagai filosofi bukan ideologi. Maka falsafah-falsafah itu sesungguhnya hanya falsafah-falsafah umum. Dia mengandung nilai-nilai apa yang dirumuskannya. Pada level filosofi sesungguhnya ini bisa ditarik kemana-mana.

Adapun untuk mengatur masyarakat pancasila tidak mampu memberikan konsep pengaturan masyarakat secara utuh. Dalam hal ekonomi misalkan, pancasila tidak memiliki kejelasan konsep untuk mengaturnya sehingga justru bisa ditarik-tarik ke arah sosialisme atau kapitalisme. Sementara demokrasi menjadi lokomotif politik negara, yang aturan itu tidak muncul dari Pancasila itu sendiri. Sementara itu, dalam tataran penguasa dan elit politik, mereka yang menyerukan kembali kepada pancasila justru menjadi pro kapitalis dengan menjual aset negara, membuat undang-undang tidak pro rakyat, menjual pulau, dan mempersilahkan korporasi swasta dan asing mengeruk SDA Indonesia.

Jauh sebelum Pancasila lahir, Ideologi Islam telah tegak - telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw., bahwa tanpa sistem pemerintahan yang sesuai dengan koridor Islam, umat Islam tidak mampu mempengaruhi situasi global secara efektif sejak penghapusan kekhalifahan Utsmaniyah. Keyakinan Islam sudah memiliki resonansi dengan hampir dua miliar orang - pemikiran untuk menerapkan peraturan dan sistemnya sekali lagi, sehingga memungkinkan kerangka alternatif dimana orang mengatur semua urusan mereka tidak dapat ditolerir oleh mereka yang telah menikmati status quo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox