Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 05 Oktober 2017

Shopping Bijak


Binti Istiqomah (Team Muslimah Voice) 

PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) akan menutup dua gerainya di kawasan Pasaraya Blok M dan Manggarai pada akhir September ini. Sekretaris Perusahaan Miranti Hadisusilo mengatakan, keputusan ini diambil karena perusahaan menganggap dua gerai tersebut tidak memberikan kontribusi pendapatan signifikan. Ia menyebut, tutupnya dua gerai itu akan menjadi penutupan pertama yang dilakukan perusahaan tahun ini.

Saat ini, perusahaan masih mengoperasikan kedua gerai tersebut dan memberikan diskon hingga 75 persen kepada konsumen guna menghabiskan stok barang. Seperti diketahui, penutupan gerai ritel baru-baru ini juga terjadi pada supermarket milik PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS). Ramayana Lestari menutup beberapa gerai supermarketnya karena merugi. Perusahaan memutuskan untuk merenovasi gerai supermarket tersebut menjadi department store (CNN.Indonesia 15/09/17)
Munculnya berbagai gerai ritel di Indonesia dimulai dari adanya pusat perbelanjaan modern Sarinah di Jakarta, kemudian disusul oleh pasar-pasar modern lainnya seperti Sarinah Jaya,  Gelael,  Hero, Hypermarket, dll. Hingga pada tahun 2000-an terjadi liberalisasi perdagangan besar kepada pemodal asing di mana hal tersebut melibatkan pihak swasta lokal maupun asing.

Pesatnya perkembangan pasar bermodal kuat serta dikuasai oleh satu manajemen tersebut dipicu oleh adanya kebijakan pemerintah untuk memperkuat kebijakan penanaman modal asing. Namun,  kapitalisasi di bidang perdagangan yang sejatinya bertujuan untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya menjadikan harga barang di gerai-gerai ritel tersebut seolah tak mampu dijangkau oleh mayoritas masyarakat Indonesia yang umumnya berada pada kelas ekonomi menengah ke bawah.

Ya, pada dasarnya sistem kapitalisme selalu punya cara untuk sampai pada tujuannya, salah satunya dengan cara menanamkan pola hidup hedonis dan konsumtif dalam benak individu muslim. Tak sedikit yang kemudian masuk dalam gaya hidup penuh gengsi, di mana masyarakat merasa tidak keren jika tidak shopping di mall. Hingga akhirnya, bermunculan pihak yang menyebut dirinya kalangan sosialita. Ditunjang fashion branded, dan yang pasti dengan harga mahal, warga sosialita pun berjaya. Tak heran, jika kemudian martabat seseorang diukur berdasarkan penampilan serta kekayaan yang mereka miliki. Bahkan tak sedikit dari mereka yang dengan suka rela menghalalkan segala cara demi meraih gelar sosialita, hanya untuk sekedar bisa diakui oleh komunitasnya.
Kemudian di sisi lain, di era digital ini ternyata marak online shop. Para pemilik online shop biasanya tidak menggunakan bangunan toko/gerai, melainkan berupa usaha yang dikerjakan di rumah. Toko-toko online ini menyediakan fashion yang tak kalah necis dan klimis dengan produk department store.

Di samping itu, konsumen dapat bertransaksi secara online tanpa harus keluar rumah. Barang pun diantar kurir sampai ke tangan konsumen. Belum lagi harga yang relatif miring, bahkan kadangkala free ongkir, online shop jelas lebih mampu memenangkan hati masyarakat. Adanya online shop, masyarakat juga bisa membuktikan bahwa produk bagus tak harus mahal. Produk layak pakai tak harus dengan mengejar brand.

Sesungguhnya, mubah bagi kita untuk bergaya hidup high class serta mengenakan barang-barang mewah. Gerai ritel maupun online shop, sebenarnya hanya sarana untuk merebut hati konsumen. Selama akad jual-beli telah disepakati, maka jual-beli online maupun offline statusnya sah.

Namun, yang perlu kita perhatikan, tidak semua hal mubah harus diambil. Apalagi jika hal tersebut nantinya tidak membuat kita semakin dekat dengan Allah SWT. Allah SWT telah mengingatkan kita sebagai manusia untuk tidak bersikap boros dan berlebih-lebihan dalam penggunaan harta. Pun sangat penting bagi umat Rasulullah ﷺ meneladani gaya hidup beliau. Diantaranya dengan hidup zuhud, sederhana, dan jauh dari sikap konsumerisme. Alih-alih hingga terkategori konsumtif.

Firman Allah SWT dalam surat Al Israa' ayat 26-27, "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya,  kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan,  dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithon dan syaithon itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya". Tentu,  kita tidak ingin menjadi saudara syaithon bukan?

Begitulah aturan Islam, selalu mempunyai solusi untuk setiap permasalahan yang umat hadapi.[]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox