Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 27 Oktober 2017

HTI vs REZIM DIKTATOR PRO LIBERALISASI MIGAS



Oleh: Agung Wisnuwardana
Eksponen Mahasiswa '98

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam perjalanan sejarahnya tak lepas dari kritik terhadap liberalisasi migas yang sedang terjadi di negeri ini.
Beragam respon solutif telah disampaikan oleh HTI sebagai nasehat pada penguasa. Dari mulai aksi massa, tulisan cerdas maupun manifesto politik. Intinya HTI menolak liberalisasi migas karena asing yang akan untung dan rakyat jadi buntung.

Liberalisasi hulu migas sudah sangat jelas nampak dengan dikuasainya sebagian besar ladang migas di Indonesia. Dan HTI pada tahun 2012 telah mengingatkan bangsa ini bahwa dengan adanya UU Migas no 22 tahun 2001 akan menyempurnakan liberalisasi migas di Indonesia. Saat itu HTI memprediksi bahwa nantinya hilir migas pun akan dikuasai asing. Dan saat ini prediksi tersebut terbukti..., SPBU asing bertebaran berdiri untuk menguasai bisnis eceran migas di Indonesia dan ke depan akan semakin banyak.

Dan luar biasa, menteri ESDM pun dengan sukarela meresmikan SPBU asing di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sepertinya presiden baru hasil pemilu 2014 mendapat tugas khusus untuk membubarkan HTI agar liberalisasi migas mendapat jalan mulus tanpa kritik yang masih dan berarti.

Rakyat bisa menilai, siapa yang sebenarnya bekerja untuk kebaikan Indonesia..., rezim diktator atau HTI ?!?!?!

Jadi kalo saat ini, rezim diktator bilang ide yang didakwahkan HTI bertentangan dengan Pancasila, maka aslinya yang dimaksud adalah ide yang didakwahkan HTI membahayakan proyek liberalisasi migas yang sedang mereka jalankan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox