Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Minggu, 24 September 2017

Saat Intelektual Muslim Memilih Bisu


ilustrasi

Oleh Dr. Ahmad Sastra 
Ketua Divisi Riset dan Literasi Forum Doktor Islam Indonesia 

Saya masih ingat saat rezim dengan pongahnya hendak menerbitkan perppu ormas yang akhirnya berhasil juga membubarkan ormas HTI. Meski oleh MUI HTI dinyatakan tidak sesat secara agama, namun dianggap sesat secara kebangsaan, banyak intelektual muslim rame-rame berteriak mendukung pembubaran HTI. Padahal mereka kan muslim. Sementara saat komunisme mulai menyeruak akhir-akhir ini, padahal mereka tahu bahwa komunisme sesat secara agama maupun kebangsaan, justru mereka memilih bisu. Ya mereka memilih bisu. Bisu sebisu-bisunya.

Sebagai kaum intelektual muslim mestinya mencintai dan membela Indonesia secara obyektif dan sesuai dengan predikat yang disandangnya. Mereka pasti tahu bahwa Indonesia tengah dicengkeram oleh ideologi penjajah kapitalisme sekuler dan komunisme ateis. Mereka juga pasti tahu bahwa ideologi Islam adalah ideologi terbaik yang datang dari Allah pemilik Indonesia, bumi dan alam semesta ini. Mereka pasti tahu kan ?. Tapi kenapa kini mereka bisu, bersuara justru saat mendukung pembubaran ormas Islam. Padahal mereka muslim kan ?

 Indonesia, negeri zamrud katulistiwa yang dianugerahi Allah kekayaan alam yang sangat melimpah. Tidak ada negara di dunia yang memiliki kekayaan alam seperti di Indonesia. Itulah kenapa dari dulu Indonesia selalu menjadi incaran para kolonial, baik kolonialisme gaya lama maupun penjajahan gaya baru. Sementara Indonesia sendiri tidak pernah berdaulat secara ideologis yang menyebabkan bangsa ini mudah diintervensi bahkan dijajah oleh bangsa lain, dari dulu hingga sekarang. Inilah yang menyebabkan negeri ini tidak memiliki martabat. Dalam istilah  martabat terkandung nilai kemuliaan, keadaban, kemandirian, kehormatan, dan bahkan disegani oleh orang lain.
 
Psikologi keterjajahan bangsa ini telah lama mengurat saraf dari generasi ke generasi. Dalam istilah lain bangsa ini dalam kubangan hegemoni dan intervensi kolonialisme. Strategi mencari jalan keluar dari hegemoni dan imperialisme asing inilah yang menjadi tugas pertama para cendekiawan muslim dengan gagasan dan pemikirannya. Sebab tugas pertama seorang mukallaf (muslim) menurut  Imam Syafi’i adalah memikirkan kemajuan agamanya. Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah dan potensi cendekiawan muslim yang juga melimpah sudah semestinya Indonesia berdaulat dan bermartabat dari sejak dulu, namun faktanya hingga hari ini bangsa ini justru kian terjajah. Quo Vadis intelektual muslim ?

   Dalam Al Qur’an  kalimat yang paling banyak diulang yakni sebanyak 31  kali dengan redaksi yang persis sama adalah kalimat yang berkaitan dengan nikmat dan anugerah yang diberikan Allah kepada manusia. Allah menekankan kalimat itu dengan sebuah pertanyaan, “  Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?. Seolah mengindikasikan sebuah sikap yang tidak adanya rasa syukur dalam diri manusia.  Sebab faktanya kebanyakan manusia tidak mensyukuri nikmat dan anugerah  yang diberikan Allah yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.

Ketidaksyukuran manusia kepada Allah direfleksikan dengan pengabaian nilai dan hukum Allah dalam mengelola bumi dan seluruh kekayaan yang ada di dalamnya yang terkait dengan bidang ekonomi. Pengabaian itu juga terjadi dalam mengelola manusia dalam pola fikir dan pola sikapnya yang terkait dengan bidang sosial, budaya, politik, hukum dan pendidikan. Allah mengingatkan sekaligus  mengancam  kaum muslimin yang abai terhadap peringatan dan hukum Allah dalam surat Thahaa : 124, “ Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta".

 Diantara ayat-ayat pertanyaan tentang kenikmatan yang diberikan kepada manusia dalam surat Ar  Rahman , Allah membeberkan berbagai fenomena kosmos, sains  dan hubungannya dengan teologi. Adalah penting dan mendesak merealisasikan Islam rahmatan lil’alamin dalam perspektif  peradaban bermartabat yang mampu menjadikan bumi Indonesia ini terjaga, maju dan mensejahterakan rakyat, bukan peradaban sekuler apalagi komunis yang anti terhadap aspek teologis. Akibatnya,  kini bumi Indonesia diambang kerusakan ekologis dan sosiologis. Padahal Allah telah menata sedemikian sistemik dan sistematis.

Bahkan Allah mengingatkan dalam surat al A’raaf : 85, “ dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya, yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman". Inilah karakteristik epistemologi Islam yang mengintegrasikan antara fenomena kosmos, sains dan teologis sekaligus. Dalam perspektif inilah peran strategis cendekiawan muslim menemukan relevansinya. Sebab menyandang gelar cendekiawan dan muslim sekaligus berarti mengintegrasikan sains dan teologi secara bersamaan. Cendekiawan muslim bukanlah cendekiawan sekuler parsial namun integratif holistik.

 Peradaban Barat dengan landasan epistemologi sekuleristik dan ideologi komunis yang ateisitik telah melahirkan manusia-manusia jahat, rakus dan  destruktif  demi memenuhi kehausan duniawi dan kekuasaan. Hasilnya adalah sebuah peradaban anti Tuhan yang lebih mengedepankan kebebasan tanpa batas di semua bidang kehidupan. Sains dan teknologi aliran sekulerisme dan komunisme  hanya berorientasi materialisme dan mengabaikan nilai dan moral. Dari paradigma sains sekuler inilah awal dari kerusakan bumi dengan  sumber daya alamnya hingga kerusakan manusia dengan pemikiran, jiwa dan perilakunya. Allah dengan tegas telah memberikan ilustrasi fakta ini dalam surat ar Ruum : 41, “ telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Islam dan kaum muslim pernah begitu disegani oleh siapapun karena kemajuan di bidang sains teknologi, ekonomi, budaya  dibawah kekuatan teologinya. Rasulullah oleh Michael D Hart digambarkan sebagai sosok paripurna peletak peradaban agung, " …kesatuan tunggal yang tidak ada bandingannya dalam mempengaruhi sektor keagamaan dan duniawi secara bersamaan, merupakan hal yang mampu menjadikan Muhammad untuk layak dianggap sebagai sosok tunggal yang mempengaruhi sejarah umat manusia.."

Berapa lama para cendekiawan muslim  di Indonesia khususnya akan mampu mengukir bangsa yang bermartabat tidaklah penting. Sebab Allah akan menilai prosesnya bukan hasilnya. Ada baiknya direnungkan apa yang dikatakan oleh Ahmad Y al- Hasan, " Marilah kita meletakkan skenario hipotesis : jika kekuasaan Islam tidak dilemahkan dan jika ekonomi negara-negara Islam tidak dihancurkan, dan jika stabilitas politik tidak diganggu, dan jika para ilmuwan muslim diberi stabilitas dan kemudahan dalam waktu 500 tahun lagi, apakah mereka akan gagal mencapai apa yang telah dicapai Copernicus, Galileo, Kepler dan Newton?. Model-model planetarium Ibn al-Shatir dan astronomer-astronomer muslim yang sekualitas  Copernicus dan  yang telah mendahului mereka 200 tahun membuktikan bahwa sistem Heliosentris dapat diproklamirkan oleh saintis muslim, jika komunitas mereka terus eksis di bawah skenario hipotesis ini".

Jika anda intelektual muslim, semoga tidak termasuk yang membisu. Jadi tunggu apa lagi wahai kaum intelektual muslim, bersuaralah untuk Islam. Sampai kapan akan terus membisu. Memang mau kita disebut sebagai setan bisu ?.  Malu kita sama Allah dan Rasulullah. Malu kita....!!! [KotaHujan,24/09/17 : 11.30]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox