Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 08 September 2017

Rohingya dan Kita



Kang Amin

Saat memulai tulisan ini jujur saya kesulitan mencari kata atau istilah yang tepat untuk mendeskripsikan tragedi yang menimpa manusia Rohingya. Saya rasa-rasakan kata 'keji' atau 'bengis' bahkan 'biadab' pun terlalu ringan untuk menggambarkan perbuatan "manusia" Myanmar.

Saya menduga Anda ( yang peduli dengan Rohingnya tentunya) pun kesulitan untuk menemukan padan kata untuk melukiskan kegeraman atas "welas asih" para pengemban Dharma itu. Iya, barangkali terlanjur melekat di memori kita berkat film-film "shaolin" bahwa mereka adalah manusia suci yang konon membunuh lalat saja tak tega.

Dan saya pun semakin sulit mencerna dan merenung untuk memilih kata apa yang layak dan pantas untuk mewakili "diamnya" dunia atas aksi rimba ala Myanmar. Logika saya seolah teraduk dan terbolak- balik mengingat dunia begitu marah ketika ada teror bom yang merenggut bijian atau puluhan nyawa saja tapi mendadak "jinak" terhadap tragedi Rohingya?Aahh...kata apa yang harus saya pakai?

Tapi tahan...saya harus tetap berpikir sehat dan tidak larut dalam euforia kesedihan atas nasib kemanusiaan Rohingya. Saya mencoba untuk tetap obyektif dan berpikir mendalam untuk bisa sejernih mungkin melihat sikon yang berkembang begitu keruhnya. Akal saya menuntun untuk menelisik peristiwa ini dengan alur yang tepat.

Dari situ terlihat bahwa apa yang bergolak di Arakan ini sebenarnya secara kronologis tidak cukup dilihat sebagai konflik muslim vs budhis ataupun etnis Rohingya vs otoritas Myanmar. Ada dimensi mikro maupun makro yang saling berkelindan secara akut dalam peta dunia global yang telah menjalar dan menggurita berabad-abad. Jadi jangan terjebak pada realita kekinian dan melupakan akar sejarah peradaban dunia terdahulu hingga hari ini. Ini adalah sepenggal episode dari skenario klasik berjudul imperialisme dengan kapitalisme sebagai sutradara tunggal dan para komprador sebagai aktor utama. Ya, judul boleh berganti tapi plot cerita tetaplah sama. Dan coba tebak....ternyata obyek penderitanya tetap sama: MUSLIM dan ISLAM.

Tengok saja sejak era hegemoni tuan kapitalisme yang menyulap konflik hampir di tiap sudut belahan dunia siapa yang jadi pesakitan?! Iya...Anda benar, muslim dan atau Islam. Tanpa bermaksud menggurui dan "keminter" cobalah sejenak luangkan waktu merunut sejarah peradaban dunia sejak kisaran abad 15 hingga 21 sekarang, cermati siapa "protagonis" dan "antagonisnya" lalu bandingkan dengan episode dari abad 7 hingga 14. Tolong lihat dan pelajari betul dengan jujur dan ilmiah, Anda akan tahu maksud saya.

Dan lakon itu terus bergulir dan menuju klimaksnya di hari-hari ini. Jadi jangan heran jika di setiap konflik di era modern ini Anda menemukan warna strip merah dan kotak biru berbintang. Plus saat ini ada kompetitor berat berwarna merah berbintang kuning menjadikan pertempuran semakin sengit, massif, dan bleedy kemana-mana. Maka ketika Afrika sudah kerontang, Timur Tengah pun telah membara, Asia Selatan terpenjara, dan sekarang Rohingya terkapar berdarah-darah...itu artinya kita, pewaris nusantara dan pengagung NKRI harga mati, sudah semakin mendekati giliran kloter berikutnya. Siapkah? setidaknya akhirnya saya menemukan ungkapan tepat untuk menghubungkan Rohingya dan KITA yaitu: Berubahlah sebelum serigala-serigala rakus berlabel kapitalisme itu merubah Anda menjadi "the next sick man", dan mungkin eposidenya bisa lebih horror daripada episode Rohingya.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox