Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 01 September 2017

Qurban Pertama Tanpa HTI



Kang Amin
Aktivis Dakwah

Saya teringat beberapa tahun lalu menghadiri undangan untuk mengikuti kegiatan Sholat Idhul Adha yang diadakan oleh jamaah HTI. Secara keseluruhan ibadah sholat sunnah tersebut tidak berbeda dengan yang diselenggarakan oleh NU, Muhammadiyah atau jam'iyyah lainnya. Namun ada yang membuat hati saya terhenyak sekaligus terpukul haru, yaitu saat khatib menyampaikan khutbahnya. 

Jika pada umumnya para khatib sholat idul adha menyampaikan khutbah seputar makna ataupun hikmah kurban atau romantika kisah Nabi Ibrahim-Ismail, ternyata tidak dengan khatib dari HTI ini. Dengan sangat bersemangat beliau menyampaikan betapa pentingnya persatuan umat Islam sedunia seperti yang terjadi saat ibadah haji, lebih-lebih saat wukuf di Arafah. Tak ada lagi perbedaan suku bangsa, madzhab, warna kulit...semua menyatu dalam satu tuntunan syariat ibadah haji. Begitulah seharusnya umat ini bersatu dalam satu tuntunan syariah Islam di bawah naungan kekuasaan Islam.

Hmm...benar juga, gumam saya dalam hati. Masih dalam khutbahnya tiba-tiba suara ustadz itu mendadak bergetar, saya perhatikan mata beliau berkaca-kaca, lalu suaranya tercekat diam sesaat menahan tangis. Saya teringat betul saat itu beliau sampai pada seruan perlunya kekuatan negara untuk bisa menghentikan kebiadaban atas umat Islam di berbagai negara seperti Palestina, Irak, Suriah, Afghanistan, Rohingya bahkan di beberapa daerah di negeri ini. Mengapa? Karena kekejaman dan kebrutalan itu dilakukan oleh negara bahkan oleh beberapa negara yang bersekutu, jadi mustahil jika yang menghadapi adalah perorangan ataupun sekelompok milisi saja. Harus kekuatan sekelas negara yang bisa menghentikan penindasan terhadap jutaan kaum muslimin tersebut. Namun, sayang sekali para penguasa negeri-negeri muslim memilih tunduk atas nama nation state, sekedar melontarkan kutukan-kutukan diplomatis yang kosong dari tindakan. Tak satupun dari mereka mengirimkan pasukan tempurnya untuk membela saudara seimannya, bahkan sekedar memutus hubungan diplomatik pun tak berani mereka lakukan. 

Khutbah itu begitu menghujam perasaan dan keimanan saya, meruntuhkan logika politik yang selama ini saya pahami. Terlebih hari-hari ini, penderitaan muslimin di wilayah-wilayah konflik itu bukannya selesai justru semakin menjadi-jadi. Ternyata, benarlah adanya apa yang diserukan ustadz HTI dulu itu, bahwa untuk mengembalikan kemuliaan umat Islam dan seluruh manusia kita harus kembali kepada Islam, dan tiada tegak Islam tanpa diterapkan syariahnya secara total yang mana itu hanya bisa diemban oleh negara, yang dalam terminologi ajaran Islam disebut Khilafah.

Ahh...tiba-tiba saya jadi merindukan seruan-seruan aktivis HTI. Karena saya baru menyadari jika hari ini adalah hari raya Qurban pertama tanpa HTI. Ironis, karena mereka justru jadi tumbal tangan besi penguasa negeri ini, dibredel status hukumnya dengan semena-mena. Tapi benar kata teman saya, "Gusti Alloh mboten sare...", Dia lah zat yang tak pernah ingkar janji, kemenangan pasti akan dihadiahkan kepada Umat Islam dan para pejuangnya, seperti saudara saya HTI. Ya, tidak seperti penguasa negeri ini yang pandai obral janji namun gemar pula mengingkarinya. Labbaik Allahumma Labbaik...

1 komentar:

  1. Dalam khutbah Iedul Adha jelas Muhammadiyah & NU peduli dengan persoalan umat Islam.
    Contohnya jelas. http://www.suaramuhammadiyah.id/2017/08/23/khutbah-idul-adha-memaknai-esensi-idul-adha-berhaji-dan-berqurban/
    https://www.nu.or.id/post/read/80918/masjid-gus-dur-doakan-muslim-rohingya-dan-palestina
    Ini umat bersatu dan konkrit membela saudaranya. https://www.nu.or.id/post/read/80926/nu-dan-10-lembaga-kemanusiaan-turut-berdayakan-warga-di-rakhine

    BalasHapus

Adbox