Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 22 September 2017

Mengubah Generasi Rapuh Menjadi Generasi Tangguh


 – N.Faqih Syarif H

Sobat , Strawberry Generation, waspadalah anak-anak kita sekarang menjadi generasi strawberry yang nampaknya indah  tapi rapuh karena terlalu dimanja dan di mana orang tua turut campur dalam berbagai hal. Mulai dari memilih jurusan, universitas, sampai pernikahan, maksud saya adalah pesta pernikahannya , saatnya mengubah generasi yang rapuh menjadi yang tangguh.

Sobat, Hidup  itu pada dasarnya  adalah sebuah tantangan. Daya juang  dibutuhkan  untuk menembus hambatan, bukan sekedar  ditatap atau  diratapi. Dan kalau ada orang lain yang berhasil, belajarlah dari mereka. Terimalah kritik-kritik. Bukan  menghindari  atau mengutuk mereka, bahkan memenjarakan mereka, atau  sekadar  membuatkan pesan-pesan kebencian yang sering kita saksikan di dunia maya.

Sobat,Rhenald Kasali menyebut  Mindset penerobos, penantang  hambatan dan kesulitan itu disebut growth mindset. Ini adalah orang-orang  yang  punya daya juang, dididik terbiasa  menghadapi kesulitan untuk menang. Sebaliknya generasi yang ‘manja’ yang menjadi strawberry itu disebut fixed  mindset. Ia  mudah hancur, digerus kompetisi dan ketidakpastian.

Oleh karena itulah, kita perlu mengingat orang tua dan para guru, betapa  pun “ punya”  dan “sejahtera” mereka, berikanlah tantangan pada anak-anak sedari muda. Biasakanlah mereka  menghadapi kegagalan. Sebab, lebih baik mereka belajar dari satu-dua  kegagalan, ketimbang  akan menjadi gagal selama-lamanya  karena terbiasa ditopang. Berikanlah  mereka keterampilan hidup. Self rugulations, dan biasa membuat  keputusan.

Sobat, Orang tua  adalah  guru  hidup  yang paling  berarti  bagi masa  depan anak-anak. Orang tua  yang memaksa anak-anaknya  perlu  meluangkan waktu  untuk mendengarkan  dan  introspesi. Anak-anak yang  berhasil  adalah  anak-anak  yang  memiliki  life skills  dan bangsa  yang  menang adalah  bangsa  yang punya  keterampilan  untuk  hidup  dan yang cara berpikirnya  sehat. Negeri ini  membutuhkan  orang tua  yang cerdas  dan  guru  yang pendidik, bukan  pengajar yang sekadar  memindahkan  isi buku.

Sobat. Bakat  itu bukanlah sesuatu yang sudah ada pada diri tiap-tiap  manusia, melainkan manusia  itu  sendiri – dibantu  orang-orang  yang mengasihinya – yang  menemukannya  melalui latihan dan kerja keras.
Wahai para  orang tua, jangan  cepat-cepat  merampas  kesulitan  yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan  untuk  menghadapi  tantangan  dan kesulitan.

Perjalanan hari ini  membentuk anak-anak kita pada hari  esok. Saya harap  orang tua  kelas  menengah  siap berubah. Janganlah khawatir  berlebihan. Berilah  kepercayaan  dan  tantangan  agar mereka sukses  seperti anda bahkan melebihi orang tuanya. Sebab, rumput sekalipun, kalau tidak  terkena matahari, akan berubah  menjadi tanah yang gundul.
Namun, harus  saya katakan, melatih  anak-anak  berpikir  dan  mengambil keputusan  sedari muda  amatlah penting  sepenting  membangun  pertahanan dan keamanan  negara, kita  butuh  penerus  yang cerdas  dalam  menghadapi kesulitan  dan ketidakpastian. Sebab, itulah situasi yang dihadapi anak kita  kelak pada  abad ke-21 ini.

Sobat, hidup  dan  kemajuan  memang selalu  berjalan  beriringan  dengan  resiko. Orang yang tidak menjalani hidup beresiko maka tidak akan memiliki apa-apa dan dia tidak ada apa-apanya alias nothing. Mereka menghindari  kepahitan dan rasa sakit, tetapi tidak bisa merasa, belajar, tumbuh, dan mencintai.”

Sobat, Deepak Chopra mengatakan, “guru” baik yang berada  di alam  semesta itu  memiliki  keteraturan yang dia sebut  sebagai  the seven spiritual laws of success. Alam yang baik itu  bergantung pada  tujuh hal  yang berasal dari kita : Kejernihan pikiran, pemberian yang kita lakukan, hubungan yang harmonis, sebab akibat, niat utama dan tuntutan diri, pembebasan dari segala urusan masa lalu, serta darma ( keinginan menghasilkan karya terbaik). Begitulah kawan pepatah mengatakan, alam terkembang  menjadi guru. Kita bisa berguru pada segala  yang ada di alam. Jangan kita isolasi anak-anak kita dari alam beserta segala isinya yang kadang baik dan kadang menakutkan ini.

Sobat, beri anak-anak tantangan maka  mereka  akan  menjadi  pemimpin. Anak-anak kita  sesungguhnya  adalah rajawali, bukan burung dara. Namun secara psikologis dan tradisi, kita  telah mengikat  sayapnya  sehingga mereka  tidak bisa terbang  tinggi. Mereka hanya  menjadi ‘burung dara’  yang Cuma bisa  melompat ke atap  gedung, lalu  turun lagi  ke bawah tidak jauh-jauh  dari rumah kita.  Kita ikat sayapnya  dengan berbagai belenggu, entah  itu proteksi dan kenikmatan  yang berlebiohan, keputusan yang tidak pernah kita izinkan untuk diambil  mereka  sendiri, bahkan sekedar  untuk memotong rambut atau membeli sepatu. Banyak masalah  mereka  kita ambil alih cepat-cepat  sebelum mereka bergulat  mengatasinya sendiri dalam kecemasan, dan ketakberdayaan. Juga dogma, ancaman, ketakberdayaan dari pengalaman kita, serta kehadiran kita yang harus ada ke mana pun mereka pergi.

Jadi, bukan  hanya mata pelajaran  yang harus diperbaiki, teknik mengajar  dan isi mata  pelajaran  pun perlu  disempurnakan. Jadi, saya kira pendidikan  memang perlu disempurnakan, diperbaiki, termasuk cara  berpikir guru  dan orang tuanya.

Salam Dahsyat dan Luar Biasa !


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox