Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 19 September 2017

Kebangkitan PKI, Siapa Paling Diuntungkan?



Landung Prakoso - Pemerhati Sosial Politik

Saat menyeruak isu komunisme belakangan, siapa sebenarnya yang paling mengambil keuntungan. Ini sebuah pertanyaan mendasar untuk mengurai apa realitas sebenarnya yang terjadi di balik isu tersebut. Gerakan Nobar filem G 30 S PKI TNI, kericuhan seminar PKI di kantor LBH Jakarta, pidato Prabowo yang menyinggung suasana PKI masa lalu, adalah beberapa deretan peristiwa terkait. Sebelumnya kedatangan Sekjen Partai Komunis Vietnam sebagai partai penguasa ke Indonesia. Disusul penindasan muslim Rohingya oleh pemerintah Myanmar didukung oleh RRC yang menimbulkan reaksi keras dalam bentuk solidaritas muslim Indonesia. Secara khusus, maraknya isu kebangkitan komunisme yang direpresentasikan secara simbolik dengan pergerakan investasi RRC di Indonesia melalui pembangunan infrastruktur. Disikapi dengan gerakan merobohkan simbol-simbolnya seperti Patung Dewa Perang di Tuban dan Candi Borobudur di Yogjakarta.

Fenomena di atas menunjukkan kecenderungan semakin mengerasnya potensi konflik kelompok yang membela PKI dengan yang Anti PKI. Sebagian besar kelompok yang berada di kubu Anti PKI adalah dari kalangan entitas islam dan nasionalis. Jika membaca pada sejarah lampau, TNI pun secara internal mengalami konflik. Dugaan keterlibatan CIA sebagaimana disampaikan dalam masa lampau oleh beberapa analis nampaknya cukup dijadikan pertimbangan untuk meneropong realitas kini dan kedepan. Aroma skenario chaos yang potensial berimplikasi disintegrasi nasional nampaknya begitu menyengat. Ini yang perlu diwaspadai. Isu kebangkitan PKI  seolah telah membuat dominasi framing opini melebihi bahaya cengkeraman neo imperialisme dan neo liberalisme. Dimana China menjadi aktor negara di Asia Pasifik sebagai perpanjangan kepentingan Amerika yang masih menjadi episentrum kekuatan politik dunia.

Tidak dipungkiri ada  banyak aktor politik yang diduga berafiliasi dengan ideologi sosialis komunis. Sebagaimana banyak pula diantaranya berafiliasi dengan ideologi neo liberalisme. Kelompok nasionalis dan islam berada di antara pusaran pengaruhnya. Selain kelompok pragmatis dan utopis yang masih menunjukkan eksistensinya. Mungkinkah politik aliran sebagaimana dulu terjadi di era 1940 dan 1950 an muncul kembali. Hingga berujung pada peristiwa 1965. Jika benar adanya maka dugaan kuat bahwa skenario CIA akan dilakukan lagi sangat beralasan. Akumulasi dan tensi berbagai peristiwa politik kekinian memberikan sinyal yang kuat. Siapa yang paling diuntungkan di balik isu komunisme kalau begitu. Siapa lagi kalau bukan yang paling punya kepentingan besar keberlangsungan jangka panjang neo imperialisme dan neo liberalisme tetap bercokol di Indonesia dengan strategi operasi adu domba. Pelemahan internal dalam bentuk disintegrasi bangsa melalui pintu isu kebangkitan PKI patut diwaspadai. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox