Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 20 September 2017

ISLAM, PANCASILA DAN ATHEISME



Oleh Dr. Ahmad Sastra
Ketua Divisi Riset dan Literasi Forum Doktor Islam Indonesia 

Cukup menyentak ruang kesadaran saya, saat seorang tokoh yang mendapat amanah menjaga nilai-nilai Pancasila justru membolehkan paham ateisme bersarang pada individu bangsa ini, jika ia menginginkan. Dalihnya karena agama Islampun tidak memaksa setiap orang untuk memeluk agama tertentu. Apakah pernyataan ini bersumber dari pemahaman atas agama Islam, atas Pancasila atau hanya dari subyektivitasnya semata ?. Padahal dari sudut pandang manapun, Islam dan Pancasila menolak paham atheisme.

Secara de facto, Pancasila adalah seperangkat filosofi hidup (set of philosofy) yang sifatnya terbuka. Setiap orang dengan mudah bisa mengatakan bahwa dirinya adalah seorang pancasialis berdasarkan tafsiran masing-masing secara subyektif. Bahkan setiap orang juga bisa menilai orang lain tidak pancasilais dengan tafsiran yang subyektif pula. Namun secara esensial [de jure], dalam UU No 17/2013 tentang organisasi kemasyarakatan, ideologi komunisme, marxisme dan leninisme dengan tegas dinyatakan sebagai paham terlarang karena bertentangan dengan Pancasila.

Jika diperdalam lebih jujur, maka sila-sila Pancasila sebenarnya  justru dijiwai oleh ajaran Islam, yakni tauhid, ketuhanan yang maha Esa. Sebab lahirnya Pancasila tidak bisa dilepaskan dari peran para ulama.  Negara inipun berlandaskan nilai ketuhanan yang Maha Esa. Maka semestinya nilai ketuhanan ini menjiwai sila-sila lain. Seperti, kemanusiaan yang berketuhanan, keadilan sosial yang berketuhanan, musyawarah yang berketuhanan, kerakyatan yang berketuhanan, dan persatuan yang berketuhanan. Bukan justru dinodai oleh nilai dan ajaran ateistik yang anti Tuhan. Dengan dasar tauhid, nilai-nilai Pancasila justru akan bisa direalisasikan dengan sempurna.

Sepanjang  sejarah kepemimpinan kaum atheis, suatu bangsa dan negara justru mengalami kondisi kelam dan penuh penindasan. Kaum atheis yang tidak lagi mengakui eksistensi Tuhan selalu menjadikan kepemimpinannya sebagai alat untuk memuluskan watak diktator yang tidak berperikemanusiaan.

Sebagai sekedar contoh, namanya Vladimir Ilych Lenin dari Rusia  yang badannya kurus, kumal dan berjanggut.  Jiwa atheisnya dituntun oleh dewa komunis Karl Marx  dan Angels  serta diinspirasi oleh buku Manifesto Komunis . Lenin tumbuh bengis, keras kepala dan selalu berbohong  dan berkayakinan bahwa komunisme baginya adalah Republik Sovyet ditambah elektrifikasi.  Dengan jalan kekejaman, baginya tujuan harus menghalalkan segala cata, meski baginya ia tetap harus berjalan di garis kapitalisme.

Kedua namanya Joseph Vissarionovich Jugashvili Stalin dari Rusia, figus  misterius dan atheis, bekas agen rahasia Tsar. Pola fikir diktatorismenya terinspirasi oleh karya-karya revolusioner sosialis marxis. Ia meyakini bahwa agama adalah sebuah penipuan dan bahwa Tuhan itu tidak ada.  Sepeninggal istrinya, dia tumbuh menjadi manusia dingin, sarkartis, penuh curiga, dendam dan kejam.  ‘Stalin bukan manusia yang baik’, kata Herbert Morrison, Pemimpin Partai Buruh Inggris.

Ketiga namanya Nikita Khrushchev dari Ukraina, cucu dari kakek  seorang budak yang mandi hanya dua kali seumur hidupnya. Terinspirasi para penyair Marxis, tumbuh wataknya yang berontak, agresif, kasar dan tidak sabaran.  ‘Saya akan bakar kamu’, teriaknya kepada orang yang dibencinya. ‘Menteri-menteri saya adalah sekumpulan manusia keras kepala’, teriaknya suatu kali kepada lawan politiknya.

Keempat, namanya Mustafa Kemal Attaturk dari Turki yang terlahir dengan nama Mustafa . Sedang kata Attaturk dipilihnya sebagai penyempurna kediktatorannya.   At Taturk adalah  manusia besar sekaligus sinting, kata Jules Archer . Ia membakar puluhan warga Yunani dan membuangnya ke laut dan memerintah sebagai diktator mutlak.  Tak segan ia menggantung para penentangnya. Sejak kecil wataknya sombong, dingin dan angkuh . ‘Karena agama, Turki tenggelam dalam perbudakan feodalisme’, teriaknya suatu saat.

Ia adalah agen Inggris pengkhianat Khilafah. Perilakunya biadab, kejam, tukang mabok dan membangkang agama.  Ia menghapus kekhalifahan, mengusir sang Khalifah  dan seluruh keluarga Ottoman.  Bagi yang mementang, langsung dibunuhnya. Dengan sengaja, ia menghapus bahasa Arab dan menutup gereja  serta menjadikan masjid sebagai lumbung padi.

Bahkan di media sosial tersebar akun seorang remaja putri yang memperlihatkan perilaku tidak senonoh bersama teman laki-lakinya sambil menggunggah status anti agama. Dia sebutkan untuk apa diatur oleh agama, nikmati saj hidup sesuai kemauan, jangan mau dibodohi oleh agama, sebab agama adalah pembodohan. Ungkapan yang lebih tidak etis adalah menyruh orang-orang beragama untuk pergi keluar, sambil menuliskan dengan huruf kapital salam kafir indonesia. Inilah ekspresi jika paham ateisme telah merasuk dalam jiwa manusia.

Untuk mewujudkan cita-cita Pancasila menjadi realitas sosial politik, maka Pancasila masih membutuhkan underline system seperti ideologi kapitalisme, komunisme atau Islam. Prinsip-prinsip kapitalisme yang menjadikan  segelintir pemilik modal sebagai penguasa telah menjauhkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonsia.

Ideologi komunisme ateis tentu saja akan menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang amoral karena penolakan terhadap eksistensi Tuhan. Sementara cita-cita bangsa ini adalah mewujudkan bangsa yang beriman, bertaqwa, beradab dan berbudi luhur. Komunisme ateis tidak mungkin bisa mewujudkan bangsa yang beriman, adil dan beradab.

Karena itu, jika mengatasnamakan agama Islam dan Pancasila, lalu membolehkan setiap individu untuk memiliki menjadi seorang ateis, selain telah menyimpang dari cita-cita luhur bangsa, maka pernyataan ini telah menciderai Islam dan Pancasila. Jika demikian, teriakan saya Pancasila yang beberapa waktu yang lalu digaungkan menjadi layak dipertanyakan substansi dan motifnya. Wong jadi atheis kok bangga, waras mas bro ? [Jakarta, 20/09/17 : 05.00]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox