Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 14 September 2017

Derita Rohingya, Nation State vs Ukhuwah Islamiyah


oleh : Shafiya

Tragedi pembantaian etnis Rohingya kembali mengguncang jagat raya. Tidak sedikit yang mengutuk dan mengecam kebiadaban kelompok Bhuda Burma dan rezim tiran Myamar, atas aksi tidak terpuji mereka terhadap etnis Rohingya. Mereka mengusir, menyiksa, membantai, membakar hidup- hidup, menyembelih layaknya hewan dan sederetan aksi keji lainnya yang tak layak dilakukan manusia terhadap kaum lemah. Tidak peduli usia, tua renta bahkan balita.

Kritikan dan kecaman terus datang dari berbagai belahan dunia, tidak terkecuali Indonesia. Namun, hal tersebut tidak mengurangi derita etnis Rohingya, Budha Burma dan rezim tirannya, tanpa prikemanusian terus memangsa etnis Rohingya, seakan mereka parasit yang mematikan yang layak di genosida.

Tidaklah salah jika muncul ungkapan "tidak perlu menjadi muslim untuk membela Rohingya. Anda cukup jadi manusia". Rasanya ungkapan ini bisa menjelaskan kepada kita, betapa tidak adilnya perlakuan dunia bagi minoritas Rohingya, wajar,  mengingat ASEAN, bahkan PBB seakan kehilangan taringnya menghadapi penguasa Myamar sana.

Hingga saat ini, lagi- lagi  Nation state yang dijadikan alasan, prinsip menghormati kedaulatan negara (state soverignity) dan prinsip non intervesi (non interfence), telah melumpuhkan kekuatan militer bangsa- bangsa.  Khususnya negara mayoritas muslim seperti Indonesia. Ironis memang, karena disaat  bersamaan Pemerintah mereka sendiri tidak menggangap mereka bagian dari kewarganegaraan (stateless).

Nation state juga telah melemahkan empati pada sesama manusia. Hanya karena mereka bukan warga negara kita. Penderitaan mereka dikatakan hoax, diklaim sebagai isu untuk "menggoreng" dan menyudutkan orang nomor satu Indonesia, Orang- orang diminta untuk jangan terlalu terobsesi dengan derita rohingya, karena konflik mereka bukan konflik agama.

Sehingga wajar saja, Rasulullah Saw pernah mengingatkan kita melalui sabdanya, tentang bahayanya kecintaan pada golongan (Ashobiyah).

"Bukan dari golongan kami orang yang menyerukan kepada 'ashabiyah (fanatisme kesukuan), bukan dari golongan kami orang yang berperang demi 'ashabiyah, dan bukan dari go­longan kami orang yang mati mempertahankan 'ashabiyah". (H.R. Abu Daud).

Konflik Rohingya memang tidak dilatar belakangi agama saja, tapi juga dipengaruhi sejarah, ekonomi dan politik, namun saya percaya, tidak ada agama satupun yang tidak  mengajarkan empati terhadap sesama, terlebih Islam, di dalam Islam menjaga ukhuwah Islamyah adalah bagian dari syariat-Nya, dimana setiap muslim, adalah saudara bagi muslim lainnya.
Baginda Rasullullah Saw bersabda;

"Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR. Muslim).

Dalam berukhuwah Islamyah tidak cukup dengan sekedar berempati, makanan, minuman dan pakaian, apalagi hanya sekedar mengutuk dan mengecam saja,  ukhuwah Islamiyah itu berarti perlindungan terhadap hak-hak sesama, dalam aqidah dan kehormatannya.


Namun sayangnya, ukhuwah Islamiyah itu tidak akan terwujud jika kaum muslimin tidak bersatu, menyatukan kekuatan. entitas lawan entitas, negara lawan negara, kekuatan militer lawan kekutan militer pula. Karena hanya dengan itu, derita Rohingya akan dapat diselesaikan, dengan ukhuwah Islamiyah yang bisa menembus pagar batas nationstate dan turunannya, yang segera akan membebaskan Rohingya dan derita Muslim dibelaham bumi lainnya. Aamiin,Allahumma Aamiin yaa Mujibassailiin. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox