Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Selasa, 01 Agustus 2017

Teka-Teki Peta Politik Pilgub Jatim 2018 (2)


Oleh Hanif Kristianto (Analis Politik dan Media)

Warga Muhammadiyin dalam konteks pilgub Jatim tidak bisa dianggap remeh. Mengklaim sebagai gerakan tajdid dan menghindari berafiliasi dengan kelompok partai tertentu, Muhammadiyah memiliki karakter politik yang khas. Secara struktural Muhammadiyah tidak menentukan pilihan untuk mendukung pasangan tertentu. Biasanya secara pribadi warga Muhammadiyin memiliki panduan tertentu dan bersifat rahasia.

PAN (Partai Amanat Nasional) di Jawa Timur memang masih dalam mencari bentuk. Pada awal keterpilihan H Masfuk yang pernah menjabat Bupati Lamongan, sempat ada friksi dan perpecahan. Tak berlangsung lama, konsolidasi dilakukan dengan baik demi suksesnya satu tujuan: mengusung Masfuk sebagai kandidat atau Kang Yoto yang jadi pioner. PAN memang tidak secara langsung berhubungan dengan Muhammadiyah, namun orang-orang dan kadernya mayoritas berasal dari Muhammadiyah. Paling tidak, inilah yang menjadikan PAN selayaknya rumah bagi pemilih Muhammadiyah.

Sentimen kelompok keagamaan, memang menarik untuk dikaji dalam kaitannya suksesi kepemimpinan di Jawa Timur. Hal ini dikarenakan, Jawa Timur tumbuh subur semua jamaah, gerakan, dan kelompok keagamaan dalam beragam latar. Kondisi inilah yang akhirnya memaksa setiap kandidat ‘berubah rupa’ untuk mendekati tokoh panutan dan ulama’. Kata orang Jawa, anut grubyuk.

Beberapa poin untuk memahami sosiologi-politik warga Muhammadiyin di antaranya:

Pertama, politik idependensi Muhammadiyah yang dipraktikan struktural menjadi contoh bagi warganya. Ketidakbergantungannya pada politik dan mencukupkan pada gerakan dakwah sosial pendidikan menjadikan fokus utamanya membina umat. Begitu pula gerakan pembaharuan dengan baragam cara untuk dekat dengan umat.

Kedua, tidak ada instruksi khusus memang untuk memilih calon tertentu. Bisa dibaca struktural akan memberikan panduan dan kode pemilihan. Pesan politik inilah untuk menjaga idependensi Muhammadiyah yang tidak ingin melibatkan umat dan amal usahanya larut dalam konflik politik.

Ketiga, berasal dari beragam kalangan terdidik, Muhammadiyin akan memiliki panduan sendiri terhadap penyikapan dalam setiap kontes politik. Bukan mustahil karakter inilah yang menjadikan Muhammadiyah seperti ‘garam’. Kemampuan menggarami tanpa disadari samping kanan dan kiri, walhasil ada tangan dingin Muhammadiyah dalam suksesi suatu kepemimpinan dan pengaturan pemerintahan.

Beberapa analisis di atas seharusnya menjadikan panduan setiap pemimpin agar tidak mudah mengkooptasi suatu kelompok demi kepentingan politik jangka pendek. Di sisi lain agar tak kecele dan malu karena ulah tak bijak membajak kelompok Islam demi politik praktis yang kompromistis dan pragmatis.

Begitu pun, PAN dan Partai lainnya yang memiliki konstituen Muhammadiyin, hendaknya sadar diri dan mampu membedakan kepentingan. Ibaratkan pesan KH Ahmad Dahlan, Hidupilah Muhammadiyah Jangan Cari Hidup di Muhammadiyah. Pesan bagi semuanya, jangan semaunya memanfaatkan Islam sekadar jargon atau sloga, sementara umatnya sering dikecewakan dan dilupakan. Justru yang paling penting harus dilakukan partai politik bagi konstituen umat Islam adalah menjelaskan hakikat Politik Islam yang telah dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Jangan sekali-kali sakiti hati umat, jika engkau tak ingin dilumat.

(Bersambung.....)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox