Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 25 Agustus 2017

"Refleksi Kemerdekaan"', Oleh Noto Agomo



Noto Agomo - Pemerhati Sosial Politik

Hingga detik ini isu tentang SKB untuk implementasi Perppu Ormas surut tenggelam. Muncul kabar potensi Perppu diundangkan pasca voting DPR RI. Kabar itu di tengah kunjungan Partai Komunis Vietnam ke Indonesia setelah beberapa tahun yang silam terdapat info hubungan dengan Partai Komunis China. Ironisnya justru momentum ini terjadi saat diselenggarakannya sidang ke 3 Alfian Tandjung di Surabaya atas tuduhan komunis terhadap rezim. Dan berbagai aksi penolakan terhadap simbol-simbol ancaman ideologi negara komunis China. Di saat pula hari kemerdekaan RI ke 72 tahun penuh dengan gempita.

Berkembang kontroversi redaksi teks Proklamasi yang seharusnya dibaca di berbagai tempat dari hasil pembahasan sidang BPUPKI. Bukan redaksi lebih singkat yang ditanda tangani Soekarno Hatta. Saat itu banyak tokoh para pejuang Islam ditelikung di persimpangan kemerdekaan RI. Kondisi yang sangat dirasakan hingga kini seolah tidak pernah henti. Antara persekusi dan kriminalisasi.

Tidak bisa dipungkiri aroma kekhawatiran rezim atas kekalahan politik ke depan 2019 begitu menghantui. Pasca kekalahan telak pilkada DKI yang membalik semua prediksi politik yang berkembang. Presidential Threshold 20 persen dan Perppu Ormas dirasa cukup sebagai resep formula politik pemenangan. HTI dianggap ancaman terbesar dalam kerangka advokasi opini kritis terhadap rezim. Hingga terkesan sangat berlebihan karena spektrum jerat Perppu Ormas bisa berpotensi menyasar siapa saja secara liar. Bahkan berpotensi bisa menjadi alat bunuh diri rezim.

Begitu mengguritanya problem sistemik negeri ini harus diakui karena kebijakan negara yang memberi pintu terbuka cengkeraman neo liberalisme dan neo imperialisme. Sudah banyak fakta berulang-ulang disampaikan. Diantaranya Paradoks Indonesia karya Prabowo. Hanya saja belum ada kesadaran kolektif akan wajib dan pentingnya kembali pada Islam sebagai solusi. Islam yang memuat ajaran syariah, dakwah, jihad dan khilafah.

Sementara musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya tidak pernah berhenti bergerak. Mereka menyerang ajaran-ajaran islam itu sebagai sasaran kriminal, stigma dan adu domba. Sampai kapan umat islam sebagai mayoritas di negeri muslim terbesar di dunia ini hanya berpangku tangan untuk menyongsong datangnya kemenangan sebagai refleksi kemerdekaan ?

Surabaya, 24 Agustus 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox