Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 21 Agustus 2017

Menyudahi 'Kemarau' Panjang



Ilham Efendi (Resist Invasion Center)

Indonesia sudah lepas dari penjajahan fisik. namun, penjajahan non-fisik masih mencengkeram kuat di seluruh sendi kehidupan; baik di sektor politik, ekonomi, sosial, budaya maupun keamanan. Keterpurukan bangsa ini tercermin dari angka kemiskinan yang tinggi, kasus korupsi yang menggurita, penegakan hukum yang bobrok, dekadensi moral, dan masih banyak lagi. Padahal beberapa faktor pendukung untuk menjadi negara bangkit dan maju sudah ada pada negeri ini. Di antaranya ialah potensi kekayaan alam yang begitu melimpah-ruah serta sumberdaya manusia yang cukup luar biasa.

Kekuasaan korporatokrasi tegak berdiri sejatinya telah menundukkan harkat martabat jati diri, dominasi kapitalis menguasai legislasi diantaranya terlihat dalam wujud undang undang ekonomi. Jika dicermati Sejak 1998 - 2009 lebih kurang 474 UU telah ditandatangani. UU bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam. Dimana dalam UU tersebut tampak sekali pengalihan fungsi peran Negara sebagai kontrol hilang dalam perekonomian dan diserahkan pada mekanisme pasar. Penyerahan kekuasaan pada modal besar/asing dalam rangka ekspansi dan eksploitasi sumber daya alam di Indonesia. Perlakuan diskriminatif terhadap mayoritas usaha rakyat. Tidak heran karena biaya amandemen UUD 45 dan pembuatan UU dibiayai UNDP, NDI, BANK DUNIA, ADB, USAID kurang lebih sebesar $US 740 juta (Sumber : PETISI 28).

Tragis sekali, tatkala konstitusi negeri ini mengamanatkan bahwa “segala kandungan yang terdapat di bumi dan tanah air Indonesia dikuasai oleh negara dan sepenuhnya dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat”, tapi faktanya sangatlah jauh dari kenyataan. Bahkan pada produk-produk pertanian yang sesungguhnya jika di kelola dengan benar oleh pemerintah, negeri ini tersedia secara melimpah. Mirisnya mayoritas tidak luput dari serbuan impor. Pada beberapa tahun terakhir kita impor 1,6 juta ton gula, 1,8 juta ton kedelai, 1,2 juta ton jagung, 1 juta ton bungkil makanan ternak, 1,5 juta ton garam, 100 ribu ton kacang tanah, bahkan pernah mengimpor sebanyak 2 juta ton beras (Sumber: Rizal Ramli).

Semua potensi yang melimpah di Indonesia khususnya, dunia muslim umumnya memunculkan ambisi negara-negara Barat, agar umat Islam tidak menjadi negara adikuasa yang dapat menghilangkan kedholiman dan nafsu penjajahan mereka. Sehingga Barat berupaya keras agar umat Islam menjadi jumud dan terbelakang, sehingga mampu dikebiri secara ideologis dan geopolitisnya tidak dapat digunakan untuk membangun peradaban Islam, melainkan justru dapat digunakan untuk merealisasikan kepentingan Barat. Umat Islam dibuat lemah dan dipecah belah. Sehingga Barat bekerja keras untuk mensukseskan proyek disintegrasi di tengah-tengah kaum muslim.

Hal yang penting, bahwa umat Islam telah diberkahi Allah SWT dengan semua hal yang diperlukan untuk menjadi untuk menjadi negara superpower yang memimpin dunia. Umat Islam memiliki kemampuan kebendaan dan intelektual yang akan membawa manusia dari semua bangsa, warna kulit, dan bahasa menuju kemakmuran di dunia ini. Umat Islam diberkahi dengan aqidah dan ideologi yang mulia untuk seluruh alam.

Walhasil, umat perlu waspada dengan segala makar, dan segera mewujudkan persatuan dan mempertahankan keutuhannya. Karena itu, jika umat Islam ingin bangkit, membutuhkan kesadaran dan berpikir dengan ideologi yang jernih.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox