Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 31 Agustus 2017

Kurban, Realita Kehidupan dan Perjuangan Politis Kaum Muda


Ari Farouq(huruf kecil soerabaja)

Hari ini umat Islam di seluruh pelosok dunia memperingati Hari Raya Idhul Kurban. Sebagai hari raya umat Islam, Idhul Kurban mempunyai banyak makna tersirat yang bisa dipetik dalam setiap kisah masa lampau hingga dapat terjawantahkan dalam realita kehidupan di abad kapital ini. Mungkin bagi sebagian orang, kurban hanya sebatas rutinitas setiap tahun tanpa ada hal baru. Namun bagi rakyat kecil momen Hari Raya Kurban ibarat sebuah oase di tengah kesusahan hidup yang menimpa. Sangat jarang bagi rakyat kecil untuk dapat menikmati daging. Bahkan, jangankan makan daging, memiliki sesuatu yang bisa dimakan pada hari itu pun sudah syukur.

Realitas kehidupan yang serba kapitalis hari ini meniscayakan kesenjangan sosial yang begitu lebar. Kaum borjuis terus menumpuk kekayaan, menguasai setiap jengkal tanah, menguasai properti dan kekayaan alam. Sementara masyarakat proletar harus terus bergelut dengan kebutuhan sandang dan pangan di tengah euforia kemerdekaan bangsa ini. Tapi inilah fakta yang ada di hadapan kita. Ini bukan dongeng Bung, ini nyata!

Berkurban untuk Perubahan

“Jika orang lain bisa, saya juga bisa, mengapa pemuda-pemuda kita tidak bisa, jika memang mau berjuang“ (Abdoel Moeis, pengurus besar Sarekat Islam dan anggota Volksraad)

Realitas sosial kehidupan masyarakat hari ini menggambarkan kerusakan tatanan kehidupan yang begitu kompleks. Problem di semua aspek kehidupan seakan tidak pernah bosan menjejali telinga dan mata kita. Hingga seakan bosan mendengarnya saking kenyangnya dengan berita yang kita dengar dari berbagai media tentang masalah yang setiap detik melanda bangsa ini.

Disinilah peran kaum muda dan mahasiswa dibutuhkan untuk bergerak melakukan perubahan. Kaum muda hari ini punya tanggung jawab besar dalam merubah kondisi tatanan kehidupan rusak ini menjadi lebih baik, karena sejarah kaum muda (mahasiswa) dari dulu hingga kini tak lain adalah kekuatan pengubah. Dan perubahan itu bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk semua masyarakat dan bangsa. Ini bukan sok heroik atau ingin dipuji, Kawan. Bagi kaum muda sejati, petualangan adalah identitasnya dan perubahan adalah cita-citanya.

Hari ini bukanlah waktu untuk memburu popularitas dan membangun eksistensi di sosial media. Atau sekedar menjadi artis dadakan dan mengkampanyekan nikah muda. Ini adalah waktunya mengambil kembali peran mahasiswa yang telah tergadaikan oleh pemikiran pragmatis dan egoistis. Kaum muda harus berani, berani melakukan perubahan dan berani mengambil resiko. Maka tuliskanlah sejarah dalam kehidupan kita, sejarah bagi bangsa ini, bahwa perubahan ada di tangan kita.
Mari korbankan apa yang kita punya bagi sebuah perubahan. Bangkit dan bergeraklah kaum muda untuk merintis perubahan. Tidak hanya untuk memenangkan lomba apalagi hanya berpikir kesejahteraan pribadi. Tidak pula untuk mengejar masa studi agar selesai secepatnya atau mendapat gelar setinggi-tingginya. Itu adalah peran seadanya dan amat sederhana. Saatnya terjun pada kehidupan sesungguhnya, terjun ke arena pergulatan sosial yang menantang. Di sinilah kita akan bertemu dengan rakyat yang rindu keadilan.

Mengambil Islam sebagai Jalan Perubahan

Di tengah berbagai krisis yang melanda bangsa pada semua aspek kehidupan, setiap orang mencari solusi alternatif untuk mengubah kondisi yang sedemikian rusak. Merumuskan solusi sebagai pengganti sistem kapitalis yang terus melakukan tambal sulam.  Karena secara fitrah manusia ingin menjadi lebih baik. Tapi tidak banyak yang mampu memberikan solusi tuntas. Kalaupun ada hanya bersifat parsial dan tidak bisa menyelesaikan hingga ke akar persoalan.

Islam adalah mabda’ (Ideologi) yang memiliki seperangkat aturan bagi kehidupan. Kecemerlangan penerapan ideologi Islam telah terbukti secara teologi, empiris maupun historis. Ideologi yang selama ini jarang dilirik bahkan banyak yang tidak tahu. Begitu banyak di antara umat Islam sendiri yang menganggap Islam hanya sebatas agama ritual yang hanya mengatur ibadah, nikah dan warisan saja. Padahal tidak demikian faktanya. Islam telah memberikan pengaturan menyeluruh di setiap aspek kehidupan mulai dari sistem ekonomi, pendidikan, kesehatan, budaya, hingga politik. Suatu sistem yang telah teruji pelaksanaannya hingga 13 abad lamanya. Suatu sistem Rabbani yang dipaksa berhenti dengan sebuah konspirasi jahat Mustafa Kemal Attaturk yang didukung Inggris pada tahun 1924. Bukankah ini saatnya mengembalikan kembali kemuliaan Islam sekaligus menghentikan kerusakan hidup sistemik yang menjadi produk kapitalisme. Tidak ada solusi lain selain Islam. Kapitalisme sudah di ambang sekarat, sedang sosialis sudah lama mati dan terbukti gagal. Jadikan Islam sebagai jalan perubahanmu, wahai pemuda!.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox