Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Kamis, 27 Juli 2017

Surat Kepada Semua Pejabat: “Adillah Memperlakukan Aktivis HTI”



Assalamu’alaikum Wr.Wb
Kepada Pejabat Yang Terhormat,

Bagaimana kabar Bapak-bapak pejabat di negeri ini? Semoga masih amanah dalam menjalankan tugas. Serta tidak lupa bahwa kita semua adalah hamba Allah Swt yang menginginkan surga sebagai tempat kembali. Bekerjalah kita semua hanya kepada Allah Swt dan tolonglah rakyat agar kita semua selamat.

Gelap gulita kondisi dalam negeri, perasaan umat diaduk-aduk, kebingungan melanda seluruh lapisan masyarakat. Berita benar salah, bercampur baur. Yang benar di bikin salah yang salah di nampakkan benar. Sehingga semuanya mengklaim bahwa dirinya yang benar. Mana yang harus diikuti?

Bapak, pada kesempatan ini sebagai wujud keprihatinan sebagai anak bangsa, kami sekadar memberikan masukan berharga pasca ramai-ramai Perppu Ormas dan Pencabutan SK HTI. Jangan tuduh kami sebagai kroni. Sekali-kali jangan. Karena kami anak bangsa yang peduli dan mencoba mengingatkan.

Pertama, di tengah hiruk pikuk dan derasnya informasi. Terseliplah ketenangan yang menyelinap di dalam lubuk pikiran yang paling dalam, yakni kesadaran akan satu kalimat yang mengetarkan dan menuai ketenangan Yaitu Kalimat ‘LAA ILAA HA ILLALLOH MUHAMMADUR ROSULULLOH. Tiada Tuhan selain Alloh Dan Nabi Muhammad adalah Utusan Alloh,

Belum Lepas dalam ingatan beberapa bulan yang lalu teman-teman HTI mengkampanyakan Kalimat ‘LAA ILAA HA ILLALLOH MUHAMMADUR ROSULULLOH yang dikemas dalam Masyiroh Panji Rosululloh. Dikenalkanlah kalimat tersebut kepada ummat “Inilah Bendera dan Panji Rosululloh”. Bendera dan Panjinya umat Islam yang menjanjikan keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Karena isinya adalah kalimat tauhid sebagai persaksian kita mengakui untuk tunduk dan patuh kepada Alloh dan RosulNya. Hakikatnya beriman kepada Alloh dan Rosulnya adalah masuk dalam rukun iman.

Memandang, mendengar dan menyaksikan kibaran bendera Rosululloh terasa bergetar, bangga, dan tidak terasa mengalirlah air mata ini sambil berguman lirih, “inilah yang nanti akan memudahkan aku memiliki nyali di hadapan Alloh Sang Maha Pencipta”.

Kedua, kamis sebagai anak bangsa masih gagal faham menerima segala logika pencabutan SK HTI. Jujur saja HTI tidak pernah korupsi, HTI tidak menjual asset-aset bangsa, HTI tidak pernah terdengar melakukan berbagai tindak kriminal atau kejahatan-kejahatan yang lain. Ada apakah bertindak gegabah pada HTI? Apakah ini kepentingan politik atau yang lain? Kami betul-betul masih tanda tanya besar.

Rakyat tahu benar bahwa HTI senantiasa memperjuangkan kepentingannya. Rakyat juga tahu bahwa segala kesulitan dalam menjalani hidup, HTI senantiasa menawarkan solusi yang menyelesaikan berdasarkan yang diridhoi Alloh SWT. Itu semua diambil dari apa yang dicontohkan oleh Rosululloh SAW sebagaimana dalam Al Qur an surat Al Ahzab ayat 21 yang artinya “ Sungguh ada pada diri Rosululloh suri tauladan yang baik bagi kalian…”

Segar dalam ingatan bahwa syariah dan khilafah adalah dua hal yang senantiasa di dakwahkan oleh HTI, sebagai jalan keluar dari permasalahan yang ada di dunia. Dan di jamin pasti akan tuntas penyelesaiannya karena berasal dari Dzat yang Maha Pencipta, Dzat yang Maha Pengatur. Kaitannya dengan khilafah sangat jelas bahwa khilafah adalah ajaran Islam dan menegakkannya adalah suatu kuwajiban. Dalam kitab al-Fiqh ’ala al-Mazhahib al-Arba’ah, karya Syaikh Abdurrahman al-Jaziry, Juz V hal. 362 (Beirut : Darul Fikr, 1996) disebutkan :

"Para imam-imam [Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad] –rahimahumullah— telah sepakat bahwa Imamah [Khilafah] adalah fardhu, dan bahwa tidak boleh tidak kaum muslimin harus mempunyai seorang Imam [Khalifah] yang akan menegakkan syiar-syiar agama serta menyelamatkan orang-orang terzalimi dari orang-orang zalim. [Imam-imam juga sepakat] bahwa tidak boleh kaum muslimin pada waktu yang sama di seluruh dunia mempunyai dua Imam [Khalifah], baik keduanya bersepakat maupun bertentangan..."

Berduyun duyun umat mulai sadar dan memahami bahwa apa yang disampaikan HTI memuaskan akal, menentramkan jiwa dan sesuai dengan fitroh. Tapi apa hendak dikata HTI saat ini dibatasi geraknya. Keyakinan yang mulai menancap dalam sanubari umat menuntut untuk bisa diwujudkan dalam kehidupan. Lalu siapa yang akan melanjutkan perjuangan dan mewujudkannya?

Ketiga, bapak yang kami hormati. Bersikaplah adil terhadap aktivis yang dulu pernah dibina HTI. Rakyat menyaksikan pernyataan sinis, kasar, dan tak beradab sebagai orang Indonesia dalam beragam media. Di antaranya menyebut: “Kroni HTI”, “Mendata dan Mengawasi mantan aktivis HTI”, “Membersihkan Dosen, PNS, dan laind dari unsur HTI”, “Menawarkan: menjadi PNS atau keluar dari HTI?”, dan nada sumbang lainnya.

Jujur-sejujurnya, sikap Bapak tidaklah bijak sebagai sesama anak bangsa. “Kami Indonesia Berbudi Pekerti Mulia”, apakah sudah dilupakan jargon itu? Kita harus adil, mantan aktivis HTI itu bukan penjahat dan bertindak kriminal. Sejak diterbitkan Perppu dan Pencabutan SK, di tingkat bawah pejabat pemerintahan menafsirkan itu dengan berbeda-beda. Inilah yang kami khawatirkan akan terjadi tindakan di luar batas dan kemanusiaan. Sementara, Perppu itu belum disetujui anggota DPR RI. Apakah ini bentuk keadilan kepada anak bangsa? Apakah ini ‘Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Jawablah jujur.

Bapak Pejabat Yang Terhormat,

Bersikap adil justru lebih dekat dengan ketaqwaan, itulah perintah Allah dalam quran mulia. Jikalau tidak suka dengan HTI dan aktivisnya, cukup disimpan di hati.  Jangan diekspresikan dengan menebar kebencian dan ujaran kebencian di media dan sosial media. Ini tidak baik dan jauh dari sikap arif bijaksana. Sebulan lalu kita semua melaksanakan Ramadhan. Bukankah tujuan kita memperoleh derajat taqwa?

Sebagai penutup, semoga Allah senantiasa membeirkan kita hidayah. Menunjukan yang haq itu haq, dan yang bathil itu bathil. Segala sikap dan tingkah pola kita telah dilihat dan dicatat malaikat. Jika kita menghardik dan menakut-nakuti aktivis yang dibina oleh HTI, maka ingatlah pertanggungjawaban di akhirat kian berat. Bisa jadi satu persatu aktivis HTI datang kepada Allah tatkala kita disidang dalam sidang kiamat yang tak bisa disuap. Merugi benar-benar merugi.

 Bagi rakyat Indonesia di manapun berada. Kita harusnya berfikir waras dan cerdas. Bukan bersikap arogan dan penuh kemarahan karena tidak suka dan setuju dengan HTI. Bersikaplah adil, karena mereka juga saudara kita, lahir di Indonesia, terlebih jika kita muslim, maka mereka adalah saudara seaqidah dan seagama. Apakah rela kita mencampakan mereka?

Indonesia akan mengenang HTI dan aktivis yang pernah berkiprah. Senyum dan kerasnya perjuangan HTI telah terlukis di Nusantara Jaya.

Terima Kasih.

Edi K (Wong Cilik di Bumi Indonesia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox