Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Minggu, 23 Juli 2017

Saudaraku HTI, Rasulullah Juga Pernah Diboikot Selama Tiga Tahun, Teguhkan Iman Kalian



Oleh : M. Fathur Rahman Amin
(el-Harokah Research Center)

Organisasi Kemasyarakatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menutup kantornya, setelah Kemenkumham secara resmi mencabut status badan hukum HTI. Ismail Yusanto, Juru Bicara HTI, mengatakan ini dilakukan karena HTI merupakan gerakan yang taat hukum. “Jadi kita melakukan ini semua sebagai satu upaya untuk taat kepada hukum, kerena sejak awal Hizbut Tahrir merupakan gerakan yang taat kepada hukum”, ujar Ismail di kantor DPP HTI, ruko perkantoran Crown Palace, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (20/7/2017). Penutupan kantor dan papan nama ini, diakui Ismail sesuai apa yang seharusnya dilakukan. Setelah dicabutnya status hukum Hizbut Tahrir Indonesia. Ismail juga mengatakan mereka akan melakukan perlawanan, dengan menggunakan perlawanan hukum. Ia mengatakan HTI hanya akan melakukan perlawanan hukum, tidak dengan perlawanan yang lain (http://new.detik.com/berita/berita/d-3567261/tutup-kantor-hti-kami-taat-kepada-hukum?_ga=2.47808546.4083106.1500533870-1453421529.1424144960).

Saat membaca berita tersebut, terus terang penulis merasa terenyuh dan tak terasa air mata ini menetes tanpa sengaja. Bagaimana tidak di mata penulis orang-orang HTI selama ini dikenal santun, cerdas, shalih, ramah, empati, suka membantu sesama, dan sifat-sifat baik yang lain yang menghiasi perilaku keseharian mereka. Namun dengan keputusan sepihak dibubarkan oleh pemerintah tanpa melalui pendekatan persuasif.

Penulis jadi teringat akan kisah Sang uswatun hasanah, Nabi Muhammad SAW.  Kala itu para petinggi Quraisy melakukan tindakan keji, yang belum pernah dilakukan oleh kaum mereka sebelumnya yaitu melakukan pemboikotan terhadap Nabi Muhammad SAW, para shahabatnya, juga para kerabatnya, yang notabene masih satu suku bahkan masih keluarga besar Quraisy. Mereka membuat perjanjian tertulis, yang isinya mamboikot Bani Hasyim dan Bani Munthalib secara total dan menempelkan di dinding Ka’bah.  Pemboikotan tersebut berlangsung selama tiga tahun. Mereka berharap Nabi Muhammad SAW ditinggalkan oleh keluarganya, juga oleh shahabat-shahabatnya, sehingga tinggal sendirian dengan kemungkinan meninggalkan dakwahnya atau dakwahnya tersebut tidak lagi berbahaya bagi Quraisy dan agama nenek moyangnya. Hal ini mirip dengan “pemboikotan” yang dilakukan pemerintah saat ini dengan cara “membubarkan” ormas HTI. Teguhlah wahai saudaraku HTI.

Namun demikian akhir dari “pemboikotan” Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat, justru menimbulkan simpati dari bangsa arab dan sangat mencela “pemboikotan” yang keji tersebut dan akhirnya “Perjanjian Tertulis Pemboikotan” dirobek oleh para pembesar Quraisy sendiri yang mendapat dukungan seluruh kabilah di jazirah arab ketika itu. Dan yang pasti setelah itu Nabi Muhammad SAW dan para shahabat mendapat dukungan yang luas dari kabilah-kabilah di jazirah arab, bahkan di antara mereka sebagian besar masuk Islam dengan kesadaran sendiri, sehingga memperkuat barisan Islam yang dipimpin Nabi Muhammad SAW. Dan pada fase-fase berikutnya Nabi Muhamamad SAW memperoleh dukungan dari Suku Aus dan Khazraj dari Madinah. Yang pada akhirnya terbentuklah masyarakat Islam pertama di dunia, di Madinah.

Wahai saudaraku HTI, teruslah dan istiqamahlah mengukir prestasi di tengah-tengah masyarakat dengan Islam, meski “pemboikotan” menimpa anda. Ingatlah Nabi Muhammad SAW juga mengalami pemboikotan selama tiga tahun. Dan yakinlah Allah SWT pasti berpihak kepada mereka yang ikhlas menyampaikan yang haq. Keberhasilan akan tercapai jika kalian ikhlas sebagaimana Allah memberikan keberhasilan dan kesuksesan kepada teladan abadi kita, Nabi Muhammad SAW. Wallahu a’lam. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox