Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 12 Juli 2017

LISTRIK & ISLAM (Sebuah Analogi)



Firdaus Bayu (Pusat Kajian Multidimensi)

Tulisan ini bukanlah bahasan tentang naiknya tagihan listrik yang kini sedang kita rasakan. Bukan pula tentang bagaimana pandangan Islam tentang listrik atau tata cara pengelolaannya sebagai kebutuhan buat rakyatnya. Namun ini hanyalah sebuah kisah fiktif pendek atau analogi sederhana yang mudah-mudahan dapat membantu kita dalam memahami sebuah jalan baru sebagai sebuah solusi, dan tidak mudah membabi buta menghakimi tanpa dasar atau pemahaman yang utuh.

Begini kisahnya..
Di suatu daerah tertinggal, adalah sebuah kampung yang hari-harinya dihimpit gelap lantaran tidak ada aliran listrik yang meneranginya. Semua penduduk di kampung tersebut menjalani hari-harinya secara manual. Tak ada lampu, rice cooker, apalagi komputer. Suatu hari, datanglah seorang pemuda perantauan membawa kabar gembira. Ia datang untuk menjelaskan kepada warga bahwa di zaman ini telah ada alat bantu penerangan yang canggih dan begitu besar manfaatnya bagi kehidupan. Itulah listrik. Dengan memasang listrik, malam hari yang gelap bisa menjadi terang, memasak tidak harus membakar kayu, musim panas bisa diatasi dengan kipas, bahkan untuk berkomunikasi jarak jauh pun bisa ditempuh hanya dengan memainkan telepon genggam. Warga pun menyambut antusias dan bersemangat untuk memasangnya. Tetapi tiba-tiba datanglah seorang penyelisih. Entah apa latar belakangnya, tanpa bijak mendengar uraian terlebih dahulu, ia menolak wacana pemasangan listrik yang sedang pemuda itu tawarkan dengan alasan bahwa listrik itu berbahaya. Dia bilang, dengan memasang listrik, maka daya setrum yang ada bisa menimbulkan ledakan yang akan memporak porandakan seluruh isi kampung. Manusia yang hidup di dalamnya bisa kesetrum. Rumah akan terbakar dan kampung akan bubar. Rupanya, ketakutan itu berhasil mempengaruhi sebagian warga. Mereka yang terpengaruh kemudian dengan penuh percaya diri secara kompak menolak pemasangan listrik. Mereka terlihat begitu takut sebab bagi mereka listrik telah menjadi hal yang amat berbahaya dan mengancam ketentraman hidup warga. Naifnya, kekhawatiran itu terus berdengung hingga warga awam yang tak mengerti apa-apa pun terkena pengaruhnya. Bahkan sampai-sampai pemimpin kampung dengan kesewenangannya berniat mengusir bahkan membunuh pemuda tersebut. Padahal, kondisi perkampungan dan warga saat itu sangat membutuhkan listrik. Sungguh rugi, kebodohan yang ditopang oleh nafsu tanpa keadilan hati untuk menerima kebenaran telah memalingkan warga dari sebuah solusi. Andai saja mereka mau membuka telinga dan mata hati yang jernih untuk menerima kebenaran hingga memahami betapa besar manfaat yang akan tercipta, tentu mereka akan menjadi manusia yang lebih maju. Selesai.

Sekali lagi, cerita di atas hanyalah fiktif belaka. Demikianlah kurang lebih pandangan sebagian masyarakat atas wacana syariat Islam di negeri ini. Di tengah hiruk pikuk persoalan negara yang tak kunjung surut, belakangan ramai kita dengar tawaran solusi syariat Islam untuk Indonesia. Mereka lontarkan predikat “bersyariah” untuk Indonesia sebagai tawaran dan harapan. Sebagian mereka juga menyebut khilafah. Intinya kurang lebih sama. Namun sayang sekali, tawaran solusi ini ternyata oleh sebagian orang dianggap tidak tepat. Tak hanya itu, lebih parah sebagian dari mereka justru menghakiminya berbahaya, padahal mereka belum mengerti konsep detilnya. Di sinilah kita patut prihatin. Tanpa secara adil menelaah, orang-orang yang tak mengerti itu justru menolak agamanya sendiri sebagai solusi. Sungguh aneh, sebagaimana anehnya warga yang bersikeras menolak listrik dalam kisah di atas. Naifnya, kekhawatiran ini merambah dengan berbagai spekulasi yang belum tentu terbukti, seperti; bubarnya NKRI, timbulnya peperangan sebagaimana peristiwa Timur Tengah, dan terjadinya diskriminasi. Hal itu juga dilengkapi dengan bermacam-macam istilah aneh seperti; Islam radikal, kelompok teroris, pemecah belah umat, dan lain-lain. Bahkan, pemimpin negeri ini tampak begitu ketakutan dan berniat secara jahat untuk mengusir dan mematikan dakwah umat Islam.

Terus terang, saya prihatin dengan semua anggapan itu. Kita sama-sama belum menyaksikan bagaimana tawaran solusi itu bekerja. Mengapa tidak kita dengar dan beri kesempatan dulu? Toh hidup ini memang dinamis, yang harus selalu mencari jalan untuk menjadi lebih baik. Jika ada tawaran yang rasional dan bisa dipertanggung jawabkan, mengapa tidak kita terima? Apalagi tawaran tersebut disampaikan oleh orang-orang yang paham agama dan insyaaAllah berdasar pada hal yang benar. Tidakkah kita bosan mendengar jeritan Ibu Pertiwi setiap hari? Mari lebih lebih obyektif melihat segala sesuatu. Beri kesempatan kepada umat Islam untuk membuktikan kehebatan solusinya, jangan malah menghentikan dakwahnya. Semoga bermanfaat. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox