Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 07 Juli 2017

Kejamnya Kapitalisme dan Cengengnya Sosialis-Komunis Batu!


Oleh: Vier A. Leventa*

“Kekiri-kirian adalah penyakit kanak-kanak dalam komunisme” –V.I Lenin-

Mari kita katakan secara terang dan jujur, bahwa hari ini, di tengah kelamnya asap tebal kapitalisme yang mendekorasi peradaban kita, di tengah pekerjaan kita untuk membersihkan kekotoran yang diciptakannya, bahwa dalam perjuangan meruntuhkannya, tak ada jalan tengah sama sekali!! Tidak ada kompromi, komprador adalah noda kotor dalam pertarungan yang sebenarnya. Akan saya katakan pada kawan-kawan yang masih terjebak pada persimpangan jalannya, tentukan. Terangkan di mana sesungguhnya kalian berdiri. Dimana sebenarnya kalian mengambil posisi dalam kemelut pertarungan ideologi ini?

Hari ini, kapitalisme secara praktis telah membentuk dirinya sebagai ideologi hegemoni hampir di seluruh belahan dunia. Cara kerjanya yang paradoks dan kontradiktif telah cukup membingungkan. Rezim-rezim yang berlindung di balik ketiaknya berteriak “hidup demokrasi!” tapi secara nyata bersikap despotik terhadap penentang kekuasaan kapital mereka. Memang bukan pekerjaan mudah bagi kita untuk melakukan kritik secara general atas aktivitas kapitalisme ini, sebabnya, secara politik, ekonomi, sosial, intelektual, budaya maupun psikologis, kita hidup, bekerja, bergerak, dan berpikir dalam kerangka sistem kapitalisme.

Kapitalisme beserta pengembannya telah masuk dalam jaring-jaring sistem kemasyarakatan, ke jantung kekuasaan, mengendalikan nilai-nilai dan kebudayaan. Di satu sisi, seperti diakui Michael Beaud, kapitalisme memiliki kapasitas kreatif: cepat melakukan pembenahan-pembenahan diri dan melakukan hal-hal yang spektakuler, sebagaimana yang terjadi di negara-negara utama saat ini, AS, Eropa, Jepang, Korea Selatan, Singapura. Betapa kita terperangah dan terkagum menyaksikan kapitalisme mampu mendemonstrasikan kemudahan-kemudahan materi buat manusia. (Dawam Rahardjo, 1984)

Namun kemajuan semu itu telah menimbulkan implikasi-implikasi yang mubazir. Kuntowijoyo menuliskan dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi-nya, bahwa, “alat-alat produksi baru yang dihasilkan oleh teknologi modern dengan proses mekanisasi, otomatisasi, dan standardisasi ternyata menyebabkan manusia cenderung menjadi elemen yang mati dari proses produksi. Teknologi modern yang sesungguhnya diciptakan untuk pembebasan manusia dari kerja ternyata telah menjadi alat perbudakan baru. Fungsi teknologi modern telah berubah menjadi alat kepentingan pribadi atau golongan yang dipaksakan kepada massa.”

Di sinilah sesungguhnya kegagalan kapitalisme, Anthony Gidden berucap, ianya terlampau yakin bahwa orang mampu mengendalikan dunia hanya dengan memandang dunia sebagai hamparan padang pasar yang luas dengan janji-janji kudus demokratisasi dan keadilan sosial. Padahal kita justru tidak tahu di dunia mana kita berada dan apa yang sedang kita lakukan.

Lagu-lagu bising kebebasan yang dinyanyikan telah mengantarkan manusia ke dalam bahaya nihilisme, ketika gelombang masyarakat hasil konstruksi teknokratis-kapitalis dipaksa mengembara bebas namun tak pernah disiapkan rumah untuk kembali.

Dalam kekosongan inilah, sosialisme-komunisme menemukan peluang untuk menarik simpati masyarakat dan mengambil alih sistem. Namun, karena kisah kelam masa silamnya, akhirnya mereka pun tak mampu beranjak.

Charles Frainkal, seorang guru besar bidang filsafat universitas Columbia, New York, seperti dikutip oleh Muhidin M. Dahlan, mengatakan bahwa tak ada prestasi aktual yang bisa dibanggakan dari pemerintahan yang bercorak sosialis, bahkan di Amerika Serikat, di negara industri yang demokratis, yang menurut Karl Marx merupakan padang Kurusetra, tempat sosialisme menuai paket kemenangan karena kesadaran sosialis kaum buruh meningkat, justru menderita kekalahan terus menerus.
Tercatat, pada pemilu Amerika Serikat tahun 1976, wakil dari enam partai radikal yang berbeda-beda dicalonkan di berbagai negara bagian berkoalisi memperebutkan kursi. Sosialist Labor Party yang telah mencalonkan wakilnya sebagai presiden sejak akhir abad 19 pun termasuk di dalamnya. Sosialist Party, U.S Labor Party, Students for a Democratic Society, People’s Party: suatu kelompok yang menyebut diri mereka sosial-demokrat, Sosialist Workers Party aliran Trotsky, dan Comunist Party. Kesemuanya tak satu pun meraih posisi yang diharapkan, bahkan koalisi dari semuanya tak sampai pada angka ¼% dari seluruh jumlah suara. (Seymour Martin, dalam Miriam Budiardjo, 1984)

Dalam kelokan sejarah, kita akan menemukan ketegangan terkait dengan jalan yang akan ditempuh oleh kaum ini. Sebagaimana perkataan Rosa Luxemburg: reformasi atau revolusi. Hal itu terjadi antara pendahulu Karl Marx seperti Claude Henri Saint Simon (1760), Robert Owen (1771-1858), Charles Fourier (1772- 1837), maupun Wilhelm Wailting (1808-1871), yang mengkhotbahkan tentang keadilan dan keharusan memberontak terhadap kaum kapitalis ketimbang menyiapkan suatu paket analisis terlebih dahulu atas situasi penderitaan kaum buruh.

Menanggapi persoalan itu, maka Marx merumuskan “sosialisme ilmiah”-nya, dengan pokok perhatian pada konsep tentang relasi-relasi antar manusia dalam proses produksi, atau kita sebut pula dengan istilah “Marxist humanism”. Dalam perkembangan selanjutnya, oleh Lenin dan Stalin, ditafsirkan menjadi semacam ideologi dan dogma politik. Dari sinilah marxisme berubah menjadi gerakan politik revolusioner, puncaknya adalah revolusi Bolshevik di Rusia. Suatu gerakan yang mencengangkan dunia, yang kemudian justru mengundang kritik tajam dari para penganjurnya sendiri, terutama sekali Kautsky.

Setelah revolusi besar itu, maka untuk pertama kalinya sosialisme (komunis) melembagakan marxisme dalam bentuk negara yang mengembangkan kepemimpinan “diktatur proletariat”. Dan hal ini mendapat kecaman cukup keras dari Erich Fromm. Bagi Fromm, pembangunan dunia sosialisme-komunis yang dilakukan tak ada bedanya dengan pembangunan kapitalis, memakai negara untuk membangun monopoli industrial yang dipimpin oleh suatu organisasi birokrasi manajerial dengan metode sentralistis dan industri birokratis. (Erich Fromm, 1980)

Diktatur proletariat merupakan tafsiran Lenin terhadap perkataan Marx di dalam Manifesto Partai Komunis, bahwa, “Proletariat akan menggunakan kekuasaan politiknya untuk merebut, selangkah demi selangkah, semua kapital dari borjuasi, memusatkan semua perkakas produksi ke dalam tangan Negara, artinya, proletariat yang terorganisasi sebagai kelas yang berkuasa; dan untuk meningkatkan jumlah tenaga-tenaga produktif secepat mungkin.”

Sistem monistis dan totaliter ini akhirnya mengundang keresahan di kalangan sosialis yang kemudian melahirkan New Left. Di bawah komando Herbert Mercuse, mereka berupaya melawan kecenderungan tirani Kiri lama (Komunisme dan sosial-demokrasi).

Kiri Baru menekankan kepada faktor kesadaran. Mereka juga mengklaim diri sebagai seorang marxis yang ingin mengembalikan ajaran Marx. Namun utopia inipun tak mampu bertahan lama, pengikutnya yang diwakili oleh kelompok Brigade Merah di Italia, tak tahan akan godaan untuk menggelar aksi-aksi kekerasan, aktivitas yang jelas-jelas menyimpang dari manifesto mereka sendiri.

Dalam sejarahnya yang dialektis, realitas pemikiran sosialisme maupun komunisme secara nyata menemukan begitu banyak rintangan. Kaum revisionis telah mengembangkan bahkan mengkritik pemikiran-pemikiran awal marx, hingga kita kesulitan menentukan apa yang sebenarnya kini diperjuangkan oleh mereka-mereka itu, mereka yang mengakui dirinya sebagai seorang sosialis maupun komunis. Kemudian kita justru menemukan suatu pola berpikir yang absurd, dimana oknum, kelompok maupun negera (jika ada), yang berteriak “kiri!” tak ada bedanya dengan kapitalis yang mereka ludahi bersama lewat semboyan dusta semacam kesejahteraan dan kesetaraan.

Dalam konteks kita hari ini, di Indonesia khususnya, intelektual “kiri” inipun bersenandung lirih dalam kepura-puraan perjuangannya. Tidak, saya tidak sedang mencoba mereduksi pemikiran “kekiri-kirian” ini, namun bagi saya, kaum ini bagaikan seorang pecundang dan pelacur intelektual yang kehilangan pijakan. Mereka ber-“onani” dalam debat dan diskusi yang tak jelas ujung pangkalnya. Dialektika, dialektika, dialektika! Dialektika telah mereka bunuh dalam kepala mereka. Mereka yang hari ini berteriak lawan kapitalisme, tegakkan sosialisme, namun kenyataannya tak mampu memberikan tawaran apa-apa mengenai konsep yang harus diperjuangkan. Mereka telah menjadi langit yang tak berjejak ke tanahnya.

Bahkan pecundang seperti Budiman Sudjatmiko yang dulunya dielu sebagai seorang sosialis, kini pun telah tidur nyenyak di bawah kangkangan rezim yang jelas-jelas kapitalis-neo-liberalis. Apa yang dipelajari kawan-kawan marhaenis dan lainnya yang kekiri-kirian dalam kelompok-kelompok mereka, hari ini suaranya tenggelam diapit ketiak penguasa, mereka justru terjebak dalam realitas sejarah kapitalisme yang diramalkan marx akan runtuh, kenyataannya sekarang justru kapitalisme telah sanggup menelan marxisme-komunisme itu sendiri.
Para intelektual kiri, baik itu sosialis; komunis; sosial-demokrat; dan segala revisionis lainnya yang menghasilkan berbagai varian, yang hari ini berada di Indonesia khususnya telah terjebak dalam mimpi sombong mereka. Meminjam gambaran Isaiah Berlin, mereka telah membentuk sebuah persenyawaan sok ilmiah dengan keangkuhan, penuh paradoks dari hal-hal yang tak jelas ujung pangkalnya dan sok prasasti yang dibungkus dengan prosa aliteratif dari permainan kata.

Kaum kiri di negeri inipun telah kita temukan mati didalam metodenya yang kebingungan. Gerakan aksi ekstra-parlemennya --yang harus secara jujur kita katakan—berkiblat pada metode sosialisme otoritarian tidak lagi relevan dengan kondisi terkini. Buruh misalnya, yang sejak lama dimitoskan sebagai kekuatan inti revolusi, dengan berjalannya sejarah ternyata tidak menjadi proletariat miskin, melainkan proletariat yang semakin bersosok “karyawan’ dan borjuasi. Pembacaan ini sejalan dengan pendapat awal Eduard Bernstein seorang revisionis marxis yang mengatakan: revolusi adalah fosil metafisika Hegel dan obat penenang suara hati kaum sosialis yang gundah. Dan itulah yang kita temukan dari seruan-seruan kaum sosialis di negeri ini sekarang.

Perjuangan parlemen yang direpresentasikan oleh kaum sosial-demokrasi pun tampak tak menghasil apa-apa selain hipokrasi ideologi. Sosdem ala Eropa Barat telah menunjukkan pada kita bagaimana kecenderungan mereka menutupi kontradiksi kelas dalam corak produksi yang sedang berlangsung dengan mengaburkan terminologi “kanan” dan “kiri” secara ideologis. Tanpa tabir, mereka ingin menurunkan tingkat eksploitasi dan penindasan sistem kapitalisme pada level yang “manusiawi” melalui perundang-undangan dan produk hukum lainnya. Dan kemudian pula mereka menjadi garda depan dalam sebuah proses neo-liberalisme yang bersembunyi di balik globalisasi. Sebuah paham ekonomi yang membangkitkan kembali liberalisme-nya Adam Smith, Leisse Feire.

Aliran ini –-sosial-demokrasi— secara jelas menguasai daratan Eropa yang kemudian merambah ke Amerika (pemerintahan Bill Clinton). Di negara-negara Uni Eropa pada awal tahun 2000, 13 dari 15 pemerintahannya diklaim beraliran sosialisme atau sosial-demokrasi, termasuk tiga negara utama: Inggris (Tony Blair), Perancis (Liones Jospin), dan Jerman (Gerhard Schroeder). Namun pada kenyataannya, kita pun tak bisa menafikan bahwa karakter negara-negara itu sulit kita bedakan lagi dengan negara kapitalis.

Kondisi ini tak jauh bedanya dengan kaum sosialis –-dalam klaim mereka sebagai partainya wong cilik—sebelum berkuasa di negeri ini. Namun kenyataannya sekarang, partai yang berhaluan marhaen dan sedikit banyak memiliki pertalian seruan dengan sosialisme, nyata-nyata tengah menindas wong cilik dalam perselingkuhan mereka bersama kaum kapitalis.

Bahkan saya pun akan bertanya pada mereka yang mencoba merevisi pandangan “kiri” menjadi sosialisme religius. Waspada pada mereka yang mencoba membawa agama dalam proyek pergerakan mereka. Inkonsistensi yang biasa saya temukan pada situasi kita hari ini. Sebagian dari kaum sosialis mencoba menyindir kaum Islamis yang merambah pada persoalan politik dan pemerintahan. Menuduh mereka menjual agama dalam perjuangannya. Tapi dalam kenyataannya kita pun akan menemukan mereka yang mengklaim diri sebagai sosialis-religius yang lebih jelas menjual agama mereka pada doktrin materialisme-dialektika-historis yang nihil.

Begitu sulitnya usaha kaum sosialis-marxis-religius ini, ketika mereka akan mensintesiskan pandangan agama dari marx dengan agama itu sendiri –Islam untuk kasus kita yang lebih spesifik--. Karl Marx dalam Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of Law, mengatakan,

“Kesengsaraan agamis mengekspresikan kesengsaraan riil sekaligus merupakan protes terhadap kesengsaraan itu. Agama adalah keluhan para makhluk tertindas, jantung-hati sebuah dunia tanpa hati, jiwa untuk keadaan tak berjiwa. Agama menjadi candu rakyat.
Menghapuskan agama sebagai kebahagiaan ilusioner untuk rakyat, berarti menuntut agar rakyat dibahagiakan dalam kenyataan. Maka tuntutan agar kita melepaskan ilusi tentang keadaan yang ada, menjadi tuntuntan agar kita melepaskan keadaan di mana ilusi itu diperlukan..”.

Pekerjaan berat bagi sosialis-religius menafsirkan dan memaksakan pandangan marx agar sesuai dengan agama. Terang, terlalu silau bagi kita yang memahami ini, bahwa agama –Islam—pastilah akan berbenturan dengan marxisme. Tidak ada jalan tengah di sini.
Inilah kebingungan kita pada gerakan yang menamai dirinya kaum sosialis ataupun komunis di negeri ini. Kepada siapa mereka berpihak, dan pada jalur apa mereka berdiri serta berjalan. Seperti narasi kita sebelumnya, bahwa tak ada jalan tengah dalam perjuangan ini, perjuangan meruntuhkan kapitalisme yang menindas masyarakat kita.

Sekarang narasi ini akan saya tutup dengan terbuka, bahwa tak ada kiri di negeri ini sekarang. Para kepala batu, yang masih keras memegang doktrin ilmiah marxisme, kini telah kehilangan arah dan tujuan. Kepala batu yang terlampau senang bernyanyi di atas langit slogan-slogan kosong penuh kepalsuan.

Atau masih ada yang ingin kembali pada marxis sejati? Tapi kawan, siapa yang memiliki klaim sebagai marxis atau sosialis sejati? Bahkan ketika kembali pada marxis sejati, yang kita temukan hanya Lenin dan Stalin secara nyata di dalam sejarah mampu memanifestasikan ideologi mereka dalam masyarakat dan negara. Dan saya berpandangan, bahwa mereka-lah yang lebih dekat pada doktrin Marx. Sebagaimana perkataan Lenin di awal tulisan ini, “kekiri-kirian adalah penyakit”, maka tak ada jalan tengah, ambillah kiri sekaligus. Namun, apakah dunia kelam itu yang ingin kita tuju kembali?

Jika tak kita temukan yang sejati, mungkin kita harus mulai merenungkan, “Jangan-jangan apa yang disebut sosialisme, komunisme, marxisme atau apapun yang berhaluan kiri --yang saat ini dinyanyikan secara sumbang dan ala kadarnya oleh para aktivis muda saat ini yang sok-sokan-- memang tak pernah ada, atau jangan-jangan dia memang anak tiri yang sengaja diciptakan oleh kapitalisme itu sendiri sebagai rumah untuk anak-anak cengeng yang suka berteriak ketakutan!!”

*Aktivis GEMA Pembebasan Yogyakarta dan Aliansi Silaturahim Jogja Bergerak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox