Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 17 Juli 2017

Jangan Seenaknya Mempermaikan Hati Rakyat



Oleh Kholil (Relawan di Lingkar Opini Rakyat)

Ada cerita tentang bangau dan para ikan. Saat danau mulai kering penghuni danau mulai resah, hingga sang bangau berbicara pada ikan bahwa disana ada danau yang banyak air. Maka masuklah ke paruhku yang besar. Maka ikan itu mengikuti kata bangau, alih-alih ikan itu pindah ke danau lain maka ia hanya akan masuk ke dalam perut bangau. Kasihan nasib ikan.

Inilah umat Islam yang diwakili pemimpin yang juga dari golongnnya, saat umat Islam memiliki sistem ekonomi Islam, pendidikan, politik, hukum peradilan hudud jinayat yang sah dari Allah justru umat Islam memilih sistem sekuler. Mereka malu jika mengambil Islam sebagai aturan kehidupan.

Terbukti saat nasakom coba disatukan, nasib umat Islam dipaksa mengikuti selera penguasa. Padahal konyol, ketuhanan kok mengakui komunis, komunis kok bertuhan? Inilah kondisi tatkala PERPPU 02/2017  hingga nantinya bukan hanya satu ormas saja yang bisa dibubarkan, namun bisa saja membubarkan ormas atau partai yang tidak sejalan dengan penguasa. Maksudnya apa?

Sebuah pot selalu dibuat  bocor tidak akan mampu menampung air, begitulah mereka yang sungguh bersyahwat saat penguasa naik tahta. Tak ubahnya seekor katak tidak akan bisa sebesar lembu meski dia melembungkan selaput bibirnya. Begitulah penguasa berusaha membela saudaranya yang mendampinginya sebelum prabu naik tahta, namun katak tetaplah katak. Saat rakyat marah karena ayatnya dinista sebenarnya penguasa itu tidak hanya berhadapan dengan rakyat namun dengan Allah yang telah mrnurunkan Al Quran. Tidakkah mereka sadar?

Rakyat kini memandang anomali penguasa. Sebelumnya sang penguasa garang, sombong, arogan, dan dipuja orang-orang buta menjadi tidak laku dan pensiun dari cita-citanya untuk terus berjaya mengikuti peraihan karir sang prabu.

Tampaknya sang prabu melihat hal yang mengancam dia. Saya sebut teramcam karena dia melihat dari mata syahwat, berbeda bila orang beriman saat melihat kekalahan saudaaranya seharusnya dia melihat ini sehagai contoh dan faham saat membela penista Al Quran dia telah bermusuhan dengan Yang Maha Kuasa.

Kedua kalinya saat pembacaan keputusan menkopolhukam penguasa dan punggawanya membuat gaduh lagi, saat sebagian rakyat lega dengan jatuhnya penista AlQuran kembali lagi sebuah dibuat keonaran dengam membubarkan sebuah ormas yang massanya aktif melakukan bela Islam. Kok aneh?

Termasuk lewat pasukan keamanannya penguasa juga melakukan kriminalisasi kepada tokoh-tokoh bela Islam dengan tuduhan tuduban yan tidak berdasar, namun ibarat sepak bola penguasa dengan aturan yang dibuatnya seperti pemin sekaligus dia adalah wasit. Ditambah perppu 02/2017 bukal membuat hubungan penguasa dengan rakyat umat Islam semakin jauh, karena isinya masih tentang ormas, bukan hanya satu tapi setiap ormas atau partai bisa saja dibubarkan demi syahwat penguasa.

 Kini rakyat ditempa lagi kesabaran dan kesadarannya dengan Perppu 02/2017, manakah bagian dari besi yang tergores dan terbuang karna diasah dan bagian mana yang akan semakin tajam dari besi yang akan menjadi pedang?

Janji Allah sudah pasti. Sungguh umat Islam yang telah diasah tadi, menjadi pedang yang tajam mereka akan merasa nyaman memegang janji Allah. Sedang bagi yang menista Alquran, menista dan memfitnah ulama, akan menjadi sasaran dari pedang yang ditempa dam telah di asah, sasaran itu tidak bisa meleset karena yang menghayunkan pedang tajam itu adalah Allah SWT. Rakyat yang mayoritas umat Islam sebagai pedang itu hanyalah alat atau wasilah untuk meninggikan agama Allah, hingga Allah mencintai umat yang ditempa dan terasah untuk memenangkan agama Allah. Islam akan berjaya, dengan atau tanpa aturan penghalang dari manusia.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox