Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 07 Juli 2017

Gara-gara "Ndeso", Pelapor Jadi Terlapor?



Firdaus Bayu – Pusat Kajian Multidimensi

PojokAktivis - Baru-baru ini, kosa kata “ndeso” mendadak populer di jagat maya lantaran mencuatnya kasus hate speech atau ujaran kebencian yang melibatkan Kaesang Pangarep, seorang anak Presiden Joko Widodo. Sebagaimana diberitakan oleh berbagai media, seorang pelapor atas nama Muhammad Hidayat S melaporkan Kaesang atas tuduhan ujaran kebencian dan penodaan agama terkait dengan vlog-nya di Youtube ke Polres Metro Bekasi Kota. Kabarnya, dalam video tersebut Kaesang beberapa kali menggunakan istilah “ndeso” untuk melebeli pihak-pihak yang dia tuduhi. Tidak lama setelah kasus ini mencuat, berbagai reaksi pun bermunculan dan mendadak menjadi viral. “Ndeso” kemudian menjadi trendic topic di media sosial.

Namun ada satu hal yang unik. Di tengah maraknya tuntutan terhadap putra bungsu Jokowi tersebut, tiba-tiba datang sikap mengejutkan dari kepolisian. Alih-alih memanggil Kaesang, polisi justru menyatakan pelapor sebagai tersangka. “Iya kan banyak yang bertanya profil pelapor ini. Dia tersangka di Ditreskrimsus Polda Metro Jaya”, ujar Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Hero Henrianto Bachtiar (detik.com, 05/07/17).

Ada yang janggal dari penanganan kasus ini. Pasalnya, pihak kepolisian terlihat cenderung lebih mengutamakan pemeriksaan terhadap pelapor terlebih dahulu daripada pihak terlapor. Pihak kepolisian juga secara gencar mempublikasikan status pelapor sebagai tersangka yang mungkin sebentar lagi akan ditangkap dan ditahan, sedangkan publik belum mengerti bagaimana dengan cerita Kaesang selanjutnya, entah akan ditangkap lalu ditahan, atau justru dibiarkan saja sebagaimana kasus Ahok waktu itu. Sedangkan sikap seperti ini amat berbeda dengan apa yang mereka lakukan tatkala menangani kasus chat Habib Rizieq Syihab (HRS) dengan Firza Husein. Dalam kasus tersebut, polisi tampak aktif mengejar HRS hingga menetapkannya sebagai tersangka, tanpa banyak berbuat reaktif terhadap pelapornya.

Berita tersebut tentu menambah panjang data kejadian aneh di negeri ini. Kasus demi kasus aneh yang bermunculan, kebijakan tak pro rakyat yang juga mencuat, semakin menunjukkan bahwa negara saat ini sedang tidak bersahabat dengan rakyatnya. Ini merupakan tanda buruk buat penguasa, sebab dalam kondisi ini sudah tidak banyak trust yang rakyat miliki untuk mereka, bahkan nyaris tidak ada. Jangan salahkan rakyat, sebab mereka adalah saksi nyata atas pedihnya kebijakan atau tidak adilnya negara terhadap mereka. Tidak ada yang bisa membohongi perasaan rakyat. Semoga ke depan Indonesia lebih baik dengan rezim dan sistemnya yang juga lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox