Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Rabu, 19 Juli 2017

Diskusi Kebijakan Pemerintah, Pemuda Probolinggo: Tolak Perppu Ormas dan Upaya Mewaspadai Rohis



Pojok-Aktivis.com - Pada hari sabtu, 15 Juli 2017, Pkl.19.30 WIB, FAPMI (Forum Aktivis Pemuda dan Mahasiswa Islam) sebagai wadah para pemuda dan mahasiswa Probolinggo dalam menyampaikan aspirasi dan pendapatnya mengadakan acara silaturahim dengan beberapa pemuda dan mahasiswa di Probolinggo. Pada bulan syawal ini selain melakukan acara silaturahim dengan para pemuda dan mahasiswa, seperti biasa FAPMI selalu melakukan diskusi dan sharing terkait kejadian-kejadian peristiwa yang marak terjadi di Indonesia saat ini.

Pada acara diskusi kali ini ada beberapa peristiwa yang dibahas diantaranya adalah; terkait upaya pemerintah dalam mengeluarkan PERPPU Ormas No.2 Th. 2017 yang diumumkan pada 12 Juli 2017 oleh Menkopolhukam Wiranto yang menyasar beberapa ormas yang dianggap anti Pancasila dan NKRI. Selain itu juga ada peristiwa yang lainnya yaitu terkait upaya pemerintah melalui Kemenag untuk mewaspadai keberadaan Kerohanian Islam (Rohis) di sekolah-sekolah bahkan ada isu pelajaran agama islam mau dihapuskan.



Diskusi ini dihadiri oleh sekitar 20 Pemuda dan Mahasiswa Kota dan Kab.Probolinggo. Dalam diskusi tersebut Revo selaku moderator forum tersebut membuka diskusi dengan memintai pendapat masing-masing peserta dengan pertanyaan; “Setujukah teman-teman sekalian dengan upaya pemerintah dalam mengeluarkan PERPPU Ormas No.2 Th. 2017 dan Upaya Pemerintah dalam mewaspadai kegiatan ROHIS di sekolah-sekolah..??”.


Pertanyaan tersebut kemudian di tanggapi oleh M.Efendi selaku pemuda dan Ketua Komunitas Panahan Probolinggo yang mengatakan bahwa “Saya menolak diterapkannya PERPPU tersebut karena dalam PERPPU tersebut isinya adalah pemerintah ingin membubarkan ormas tanpa melalui proses peradilan. Jadi kalau pemerintah menganggap ada salah satu ormas islam yang dianggap anti Pancasila maka ormas tersebut langsung dibubarkan tanpa harus melalui proses peradilan. Maka ini adalah bentuk kesewenang-wenangan pemerintah. Dan ketika saya mengikuti polling terkait PERPPU tersebut tenyata banyak umat, khususnya umat islam yang menolak PERPPU tersebut. Sehingga saya juga ingin tahu apakah teman-teman di sni juga setuju apa menolak ?”.



Pertanyaan tersebut kemudian diteruskan oleh moderaator dan ditanggapi oleh Bashori selaku mahasiswa dari kampus UPM (Universitas Panca Marga).”Saya tidak setuju dengan disahkan PERPPU tersebut, karena alasannya tidak berdasar seperti Anti Pancasila. Kalau memang Anti Pancasila apakah islam bertentangan dengan Pancasila ? kalau memang seperti itu seharus dibuktikan terlebih dahulu di pengadilan apakah memang seperti itu faktanya ?. Nah disinilah seharusnya peran dan tugas kita sebagai mahasiswa muslim, karena jika dibiarkan maka kita juga yang akan menerima kerusakannya”.

Kemudian tanggapan kritis selanjutnya disampaikan oleh Agus selaku mahasiswa dari kampus INZAH (Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong). “Banyak masyarakat yang belum paham terkait PERPPU tersebut, banyak yang menganggap kalau PERPPU itu hanya untuk membubarkan HTI saja, padahal kalau dipahami lebih dalam bahwa PERPPU itu bisa digunakan sewenang-wenang oleh pemerintah untuk membubarkan setiap ormas yang kritis dan bertentangan dengan kebijakan penguasa. Sekarang ini ormas islam yang dianggap bertentangan. Kita lihat dulu siapa pemerintah yang berkuasa dan disetir oleh siapa ? ternyata kalau dilihat banyak orang Amerika atau yahudi yang berada dibalik pemerintahan Indonesia saat ini”.

Pendapat selanjutnya disampaikan oleh Rizal yang pernah menjadi anggota ROHIS di SMK nya dulu. Rizal mengatakan; “Pemerintah saat ini telah berhasil mencekoki pemikiran kaum muslim dengan berita negatif tentang islam, bahkan sampai orang tua saya saja ikut melarang saya ikut kajian-kajian islam, awas nanti jadi teroris katanya. Apalagi sampai ROHIS saja perlu diwaspadai dan diawasi, jadi saya menolak adanya PERPPU Ormas dan Pengawasan terhadap ROHIS di sekolah-sekolah”.

Diskusi berlangsung cukup serius tapi santai sekitar kurang lebih 2 jam lamanya. Dan diakhir acara, Revo selaku moderator memberikan sedikit kesimpulan bahwa ternyata seluruh pemuda dan mahasiswa Probolinggo yang hadir saat ini menolak dan tidak setuju dengan penetapan PERPPU oleh pemerintah. Kalau memang PERPPU itu dibuat untuk mengatur ormas yang anti Pancasila seharusnya dibuktikan secara pengadilan dan ada dialog terlebih dahulu tidak langsung dibubarkan. Begitu juga dengan ROHIS yang selama ini memiliki peran positif untuk perbaikan generasi masa depan kok malah diwaspadai dan diawasi keberadaannya di sekolah-sekolah.


Alhamdulillah acara berlangsung dengan lancar dan ditutup dengan doa yang dibacakan oleh saudara Efendi selaku ketua komunitas Panahan Probolinggo dan tuan rumah dari acara FAPMI tersebut. [APK]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox