Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Minggu, 23 Juli 2017

BH JUST AS A TOPPING (Tentang HTI)



by Prof Suteki

Temen fb, saya ditanya oleh Sdr Bastian Noor Pribadi sbb:

"Pertanyaan kepada Prof Suteki, kalau PKI mengakui Tuhan, apakah boleh didirikan lagi? Seperti Tan Malaka yang pernah bilang: "Saya Komunis, tetapi saya bukan Atheis".

Saya jawab:
"Yang dilarang itu bukan hanya atheisme nya tetapi juga komunismenya. Jadi baik ada keduanya atau salah satunya, maka keduanya dilarang".

Kemarin saya membuat status:
"Kalau menulis buku "Aku Bangga Menjadi Anak PKI, maka menulis buku " AKU BANGGA MENJADI ANAK HTI", mestinya juga tdk dilarang dan sah untuk diedarkan. Anaknya belum tentu sama sealiran dengan orang tuanya. Bisa diperlebar lagi: AKU BANGGA MENJADI TEMAN HTI, AKU BANGGA MENJADI TETANGGA HTI.

Menurut saya terlalu berlebihan bila APH melakukan pendataan anggota HTI baik secata terang-terangan maupun tersamar. Mereka bukan organisasi terlarang sperti PKI. HTI ini sbg ormas yg BH nya dicabut tanpa melalui due process of law yg mrpk ciri khas tegaknya NEGARA HUKUM. Asas CONTRARIUS ACTUS yg dianut dlm Perppu 2 Tahun 2017 telah mengingkari status Indonesia sebagai Negara Hukum tersebut. Artinya Negara Hukum ini hanya menggunakan law dlm arti peraturan sbg tameng atau alat legitimasi kekuasaan atau tindakan-tindakan pemerintah sbg pelaksana kekuasaan eksekutif tanpa menunjukkan adanya prinsip check and balances dgn yudikatif. Ini yg disebut oleh Brian Z Tamanaha sbg The Thinnest Rule of Law. Aroma kediktaktaktoran dpt menyelimuti sistem pemerintahan negara bila pihak eksekutif hanya bertameng UU atau Perppu untuk menuruti kemauannya. Gampang bingitz kita bicara atas nama hukum: KALAU TIDAK TERIMA GUGATLAH DI PENGADILAN. Hmmmmm...inikah cara berhukum yg hendak kita agungkan?

Komunis dan sekaligus atheisme telah dilarang karena memang telah berulangkali memberontak negara maupun ideologi Pancasila. Sebaliknya Ideologi Islam pasti juga kita yakini tidak bertentangan dengan ideologi Pancasila karena Pancasila juga dirumuskan oleh tokoh2 dan alim ulama Islam. Padahal HTI berideologi Islam. Mungkin kah HTI bernasib sma dengan PKI yg akan diburu hingha ke liang lahat? Sementara anak keturunan PKI pun dibiarkan juga mengembangkan diri di Indonesia, bahkan bebas juga menjadi anggota parlemen. Benar memang anak keturunan PKI belum tentu juga beraliran sama dgn PKI tetapi kebanggaan thd orang tuanya biasanya juga kebanggaan thd ideologinya bahkan kalo perlu melestarikan dan mengembangkannya. Tidak mungkinkah itu terjadi?

Rindu dendam selalu mewarnai setiap pelarangan dan kebangkitan sebuah aliran ataupun rezim, aliran apapun, rezim apa pun yg bangkit dari kuburnya. Kapan anak negeri ini terbebas dari dendam sejarah mengingat kita sdh terbiasa hidup lebih suka memukul dari pada merangkul. Lebih suka mengadu dari pada memadu. Lebih suka menekuk dari pada memeluk. Dendam demi dendam terbalut dlam rindu kejayaan masa lalu. Ghiroh itulah yg terus memacu karsa untuk terus membela sebuah ideologi yg diyakini kebenarannya kendati organisasi formalnya telah direnggut kekuasaan dunia.

Tercerabutnya BH tidak sekaligus membuncah dan memburai kan isi yg terbungkus olehnya bukan?
Keep spirit for amar ma'ruf nahi munkar!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox