Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Minggu, 18 Juni 2017

SURAT UNTUK PRESIDEN : Dari Kami yang Kesetrum Tarif Listrik



Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji hanya bagi Allah.  Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah saw, keluarga beliau, para sahabat beliau serta orang yang mengikuti beliau dan menyusuri jejak langkah beliau, sehingga ia menjadikan akidah islamiyah sebagai asas untuk pemikirannya dan hukum-hukum syara’ sebagai standar untuk perbuatannya dan sumber untuk hukum-hukumnya.
Kita wajib memiliki perhatian terhadap puasa agar Allah ridha kepada kita dan mengampuni dosa-dosa kita sebelumnya.  Begitu juga kita wajib menaruh perhatian terhadap perjuangan untuk melanjutkan kehudupan Islami dengan tegaknya hukum Allah agar kita termasuk orang-orang yang meraih keberhasilan di dunia dengan penerapan hukum-hukum Allah, bernaung dengan panji Rasulullah saw, panji al-‘Uqab, panji Lâ ilaha illa Allâh Muhammad Rasûlullâh
Apa kabar Pak Jokowi? Meskipun program antikorupsi dilakukan sejak awal reformasi, belakangan ini kasus korupsi ternyata memperlihatkan angka dan jumlah yang fantastis. Keragaman aktor dan bentuk korupsi juga semakin bervariasi. Korupsi skala negara inilah yang seharusnya mendapat perhatian lebih besar. Akibat dari korupsi jenis ini sungguh sangat mengerikan.
Sementara kita dapat menyaksikan kekayaan alam Indonesia sekarang ini sudah bukan lagi menjadi milik rakyat Indonesia. Sekarang ini perusahaan swasta asing telah mendominasi, bahkan memonopoli kekayaan alam Indonesia. Selanjutnya, Sri Mulyani, menyampaikan bahwa akibat defisit anggaran pemerintah sekitar Rp 2.020 trilyun yg artinya pemerintah mesti berutan Rp 270 trilyun untuk menutupinya. Dan dengan rasio utang 27% terhadap GDP (Rp 13.000 trilyun) maka itu artinya setiap penduduk Indonesia menanggung hutang 997 US dollar atau sekitar Rp13 juta. Meski pembantu Anda itu berdalih bahwa ini masih mendingan dibanding penduduk negara maju seperti Jepang dan AS.
Lha kami ini apa sih Pak, wong sekedar ngasih makanan bergizi untuk anak-istri kami saja harus nunggu tanggal muda. Apalagi beban kami semakin berat sejak Anda dengan "bijaksana" memutuskan mencabut subsidi TDL, dan sampai detik saya menulis surat ini biaya listrik di rumah kami naik 100%!!! Silahkan bila sempat menginap di tempat kami, Bapak akan mendengar raungan meteran listrik di kontrakan kami setiap 4 hari sekali. Padahal sebelumnya token 20 ribu bisa buat seminggu lebih. Coba deh Pak kalau tidak percaya, silakan blusukan ke kampung kami.
Makanya saya heran sekali, ketika saudara Teten Masduki dan Dirut PLN mengatakan tidak ada kenaikan TDL, yang ada penyesuaian subsidi agar lebih tepat sasaran. Lha kok kami yang miskin ini tetap kena kenaikan TDL?! Okelah, anggap saja pernyataan itu benar dan kebijakan Bapak ini sudah tepat sasaran. Tapi apa tidak terpikirkan efek domino setiap ada kenaikan TDL?
Melalui penerapan kapitalisme, Anda bertanggungjawab atas krisis listrik di Indonesia. Sistem kapitalisme sekarang menjamin kelompok kecil yang terdiri dari para kapitalis lokal dan asing melalui privatisasi dan mengamankan pemanfaatan penuh mereka terhadap sumber-sumber listrik. Sementara masyarakat umumnya berada dalam kesulitan. Akibat privatisasi, harga listrik naik karena pemilik sektor swasta ingin mendapat untung besar.
Ayolah Pak, beban berat kami tidak cukup diberi solusi kata "maaf"...
Rakyatmu

Aminudin Syuhadak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox