Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 05 Juni 2017

Surabaya Naik Level, Ayo Nambah Berkah Rek !

Monumen Tugu Pahlawan Surabaya

(Kontemplasi hari jadi kota Surabaya 31 Mei diusia yang ke- 724)
Oleh: Adam Syailindra, koordinator Cangkrukan Arek Surabaya (CAS)


“Dan kita yakin saudara-saudara. Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita. Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!!!” (Bung Tomo)

Surabaya adalah kotaku, kotamu dan kota kita semua. Dimana berbagai suku, bahasa dan agama hidup berdampingan tanda toleransi dan kebhinekaan ada.


Ditanah Surabaya, ajaran Islam tersebar dari pintu ke pintu warga. Wali songo yang menjadi utusan Kekhalifahan Turki Usmani membuka salah satu pintu keberkahan. Dalam kitab Kanzul Hum yang ditulis oleh Ibn Bathuthah (seorang penjelajah bumi) yang kini kitabnya tersimpan di Museum Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa. Hingga Sunan Ampel menjadi mercusuar syi’ar Islam di Surabaya.


Ditanah Surabaya, resolusi jihad dari Ulama dikumandangkan. Saat itu PBNU yang mengundang konsul-konsul NU di seluruh Jawa dan Madura yang hadir pada tanggal 21 Oktober 1945 di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) di Jl. Bubutan VI/2 Surabaya, berdasar amanat berupa pokok-pokok kaidah tentang kewajiban umat Islam dalam jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya yang disampaikan Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari, dalam rapat PBNU yang dipimpin Ketua Besar KH Abdul Wahab Hasbullah, menetapkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah” (nu.or.id).


Ada tiga poin penting dalam kedua naskah Resolusi Jihad itu. Pertama, Hukum membela negara dan melawan penjajah adalah fardlu ‘ain bagi setiap mukallaf yang berada dalam radius masafat al-safar ; Kedua, perang melawan penjajah adalah jihad fi sabilillah, dan oleh karena itu umat Islam yang mati dalam peperangan itu adalah syahid, dan ; ketiga, mereka yang mengkhianati perjuangan umat Islam dengan memecah-belah persatuan dan menjadi kaki tangan penjajah, wajib hukumnya dibunuh.


Ditanah Surabaya, Bung Tomo mengobarkan api perjuangan Arek-arek Suroboyo dalam menjawab ultimatum sekutu penjajah. Pertempuran besar pun tak terhindarkan dalam riuh amunisi dan dentuman mortir. Pasukan sekutu dan laskar kemerdekaan yang terdiri dari kyai dan santri bertempur di medan juang. Panglima Letjen Philip Sir Christison mengirim pasukan Divisi ke-5 dibawah Komando Mayor Jenderal E.C Mansergh, Jenderal yang terkenal karena kemenangannya dalam Perang Dunia II di Afrika saat melawan Jenderal Rommel.


Mayjen Mansergh membawa 15 ribu tentara, dibantu enam ribu personel brigade 45 The Fighting Cock dengan persenjataan serba canggih, termasuk menggunakan tank Sherman, 25 ponders, 37 howitser, kapal Perang HMS Sussex dibantu 4 kapal perang destroyer, dan 12 kapal terbang jenis Mosquito. Namun mereka berhasil didesak oleh laskar kyai dan santri. Pasukan Sekutu terdesak, dan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tewas di tangan laskar santri. (insists.id)


Begitulah kisah Surabaya dulu. Dan kini wajah Surabaya makin berubah. Di tahun 2013, menurut data BPS jumlah penduduk Surabaya 3,200,454 jiwa masuk dalam 3 besar kota terpadat penduduknya di Indonesia. Jumlah penduduk Surabaya kian hari kian bertambah alias makin gemuk (detik.com). Sebuah tempat yang dijuluki sebagai central point prostisusi terbesar di Asia Tenggara kini mulai berbenah menuju arah yang lebih baik. Berbagai program pemerintah kota Surabaya mulai bergulir untuk melindungi dan melayani warga kota Surabaya. Mulai dari sektor kebersihan dan pertamanan, sosial, pendidikan, kesehatan, keamanan, perdagangan dan lain sebagainya.


Surabaya memiliki potensi yang luar biasa, mulai kisah historis, geografis, dan ideologis. Ada sebuah momentum yang tak boleh dilewatkan bagi siapa pun yang berada di kota Surabaya. Yakni buatlah perubahan sekecil dan sebesar apapun agar Surabaya naik level. Lintas instansi dan generasi. Membangun Surabaya berkah dengan mengoptimalkan potensi lokal yang berwawasan global tak lepas dalam nuansa sosial-spiritual.


Hubungan Surabaya dan Islam tidak bisa dilepaskan. Karena kini kita pahami bahwa di tanah inilah sejarah besar tertuang. Kisah bersandarnya rombongan kapal Cheng Ho, pertempuran 10 Nopember, hilir mudik buruh, riuh mesin dan juga pekik takbir _Allahu Akbar _ menjadi penanda sebuah kewibawaan dan kemuliaan. Kita ingin Surabaya naik level makin berkah, yakni bertambahnya segala kebaikan. Setidaknya ada 3 level agar Surabaya Makin Berkah, mari kita benahi bersama:


KETAKWAAN INDIVIDU


Setiap diri akan dimintai pertanggung jawaban. Jelas!. Dan konsekuensi dari latihan berpuasa di bulan Ramadhan adalah terbentuknya generasi yang bertaqwa. Berpikir dan bertindak mengacu pada aturan Allah SWT. Mengikuti segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, multidimensi. Memperbanyak majelis pencerdasan warga yang memberikan dampak langsung perubahan dalam diri warga. Memiliki kepekaan diri, punya alarm iman sebagai katalisator, serta semangat dalam meraih ridhoNya.


PERAN MASYARAKAT

Masyarakat yang di dalamnya memiliki kesamaan pemikiran, perasaan dan aturan menjadi sebuah asset yang berharga dalam menjalankan fungsinya mengontrol kebijakan dan kepedulian pada kondisi lingkungan. Inilah peran masyarakat dalam action amar makruf nahi munkar (menyeru kebaikan dan mencegah keburukan). Yang dengan inilah daya bendung dan daya lindung antar masyarakat makin kokoh. JIka ada kesalahan dan ketidak beresan disekitar lingkungan, maka masyarakat berani dan tidak canggung dalam proses menasehati tanpa terintimidasi. Inilah faktor penting.


KEHADIRAN NEGARA

Menjalankan amanah sesuai dengan yang dibebankan untuk memberikan pelayanan dan perlindungan dengan sepenuh hati. Dimana dalam melayani masyarakat seperti melayani orang tua dan anak sendiri. Memiliki prinsip memudahkan masyarakat bukan malah menyusahkan rakyat. Rakyat butuh jaminan mendapatkan akses transportasi yang mudah dijangkau, akses sembako-listrik-air yang pro rakyat, pelayanan kesehatan kualitas prima, keamanan, kemuliaan sosial, politik, keadilan dan ketegasan  hukum, layanan pendidikan gratis atau terjangkau 12 tahun bahkan hingga kuliah, fasilitas olahraga dan taman kota yang cukup, ruang terbuka hijau serta sungai yang layak bagi masyarakat, meningkatnya daya baca (literasi), serta distribusi ekonomi yang merata dan sektor kehidupan yang lebih luas. Sehingga antar rakyat dan penguasa saling sayang, dukung dan jaga. Wow bukan?


Inilah pesan hangat dari kami anak muda Surabaya. Kami ingin Surabaya naik level, berkah rek! Tentu diatur sebuah sistem yang bukan sekedar mencari materi semata apalagi hawa nafsu. Tapi  sistem yang bersandar pada halal dan haram. Tidak lain dan tidak bukan dengan menerapkan sistem integrasi Islam Rahmatan Lil 'alamiin. Berkah untuk muslim dan menjamin non muslim. Mari renungkan seruan Allah SWT, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Surat Al-A’raaf : 96).


Piye rek? Surabaya siap naik level? Ayo dilakoni bareng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox