Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 09 Juni 2017

Reposisi Mahasiswa Muslim Sebagai NavigA(C)tor Perubahan

Mahasiswa Muslim

(Mencermati  paradoks Indonesia dan menyambut darah segar mahasiswa baru)



Mahasiswa, sesungguhnya ia tidak bisa diam atas berbagai bentuk penjajahan dan kezaliman. Jika sudah terkunci lisannya, usang penanya dan rusak megaphone-nya maka gantung saja jas almamater kampus dan organisasi dicantolan. Malu kiranya pada para pendahulu mereka yang berada di garis depan perjuangan yang habis-habisan mencurahkan tenaga, biaya, pikiran, dan jiwa untuk melawan segala bentuk penindasan.

Kawan, kita mengetahui bersama bahwa mahasiswa menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kancah pergolakan sosio-politik kawasan lokal maupun internasional. Pasca kemerdekaan Indonesia, peran mahasiswa menjadi sangat vital untuk mengarahkan arah juang. Termasuk peristiwa 1945, 1966 dan 1998 serta rentang peristiwa 2014-2017 ia menjadi kelompok yang serba bisa dalam mewarnai zaman pergerakan. Lebih dari 1.000 aksi, diskusi dan audiensi telah banyak dilakukan di Gedung wakil rakyat maupun di depan Istana.

Kawan, sudah berkali-kali negeri ini gonta ganti rezim dan corak ideologi. Kita pernah merasakan bahwa negeri ini bercorak nasakom dan liberal. Juga pula pernah dipimpin oleh proklamator, sang jenderal, seorang ilmuwan, tokoh ibu, bapak purnawirawan dan blusukan.

Kini kita rasakan pula bahwa rezim yang alih-alih ingin menyelamatkan dan melayani rakyat, namun faktanya malah menyakiti dan menyusahkan rakyat. APBN yang bertumpu pada pajak, hutang ribawi yang menggila, kemiskinan meningkat, penggusuran, penggangguran, mega korupsi E-KTP BLBI, kongkalikong reklamasi, serta kebijakan neo-liberal lainnya.

Maka selayaknya yang harus di-gebuk adalah ia yang terang-terangan memisahkan diri dari NKRI, ia yang memberikan akses digarongnya tambang emas Freeport, ia yang membunuhi rakyat tanpa meja pengadilan, ia yang menista para ulama dan Islam, ia yang menebar hoax dan teror pada rakyat, ia yang melegalkan dan menjaga pabrik miras dan narkoba, serta ia yang merampok uang rakyat itulah yang harus di-gebuk.

Segmen mahasiswa, dengan berbagai latar organisasi? maupun akademisi memiliki daya bilang dan daya juang sebagai kelompok presseur kebijakan rezim penguasa. Kondisi kekinian menyebutkan bahwa sorotan mahasiswa meliputi kebijakan pendidikan kampus, naiknya harga BBM, naiknya harga sembako, naiknya harga TDL, seruan penyelamatan generasi dari LGBT, seks bebas dan narkoba, termasuk action mahasiswa yang menjadi garda terdepan pembela ulama, aktivis, serta ormas Islam.

Tiada kemuliaan dan kebahagian dunia akhirat yang kita harapkan kecuali perubahan pada Islam. Pelayanan berbagai sektor kehidupan akan dapat terealisir secara sempurna. Dan sejarah telah membuktikan bahwa selama 1400 tahun lamanya Islam rahmatan lil ‘alamiin yang diterapkan oleh kekhalifahan Islam, kondisi kaum muslim akan terbina dan non muslim pasti terjaga. Inilah konsekuensi nyata bahwa Islam menaungi dunia sebagai pondasi dan penjaga.

Lantas, dengan berbagai fakta dan fenomena multidimensi yang ada. Cita rasa arah perubahan negeri ini ingin kita arahkan kemana? Mau bercita rasa sosialis-komuniskah? Mau bercita rasa kapitalisme-liberalkah? Ataukah mau perubahan terencana bercita rasa ridho Allah SWT yakni Islam.

Kawan, jika Anda mahasiswa muslim, maka tugas utama selain mencari ilmu adalah tugas melakukan amar makruf nahi munkar (menyeru yang baik dan mencegah keburukan) apapun bentuknya asal tetap intelektual dan tidak anarkis.

Kawan, sungguh inilah masanya bagi aku, kamu dan kita semua untuk mengarahkan perubahan negeri ini menuju perubahan yang lebih baik sesuai perintah dan larangan-Nya. Pilihannya kini adalah menjadi navigator dan aktor perubahan ataukah penonton. Kalau menjadi penonton perubahan maka kita tidak akan pernah merasakan nikmatnya perjuangan. Kalau menjadi naviga(c)tor perubahan hingga mati berjuang maka kita akan merasakan nikmatnya perjuangan. Tentunya setiap darah, keringat dan tetes air mata tak kan pernah sia-sia karena ia akan menjadi bukti sejarah perjuangan meraih ridho Allah SWT. Berpikir, berkarya, dan bertindaklah.

Oleh: Adam Syailindra, Koordinator Cangkrukan Arek Surabaya (CAS)
Surabaya,
Ramadahan Etape ke dua, 7 Juni 2017 []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox