Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 17 Juni 2017

Rahman Sabon Minta Jokowi Hentikan Impor Gula, Gula Lokal Numpuk di Gudang Bulog

Ilustrasi


PojokAktivis – Rahman Sabon Nama Ketua Umum APT2PHI (Asosiasi Pedagang Dan Tani Tanaman Pangan Dan Hortikultura Indonesia) menghimbau, pemerintah khususnya Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla agar bisa memerintahkan menghentikan banjirnya impor gula kristal putih/white sugar dan gula rafinasi.

Gula putih dan rafinasi yang membanjiri pasaran masih perlu dibedakan agar bisa diketahui konsumen. Kalau gula rafinasi tidak segera dikendalikan dan dibiarkan masuk kepasar gula konsumsi, ini bahaya, karena akan menjadi kompetitor yang tidak sehat bagi produk gula lokal ujar Rahman Sabon Nama pagi tadi dari stasion Gambir Jakarta, Jumat (16/06).

Rahman mengkhawatirkan, pemerintahan Jokowi -Jusuf Kalla akan menyulitkan Indonesia mencapai kedalautan pangan dari perlindungan petani tebu dan pabrik gula lokal dari liberalisasi perdagangan gula yang tidak adil.

Menurut pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI Pusat) ini, barusan mendapat laporan dari APT2PHI Sumatra Utara bahwa kini di gudang Divre Bulog Sumatra Utara stok gula lebih dari 10.000 ton produk gula lokal N2 dan N11 menumpuk di gudang, ini kalau didiamkan pemerintah maka 59 unit pabrik gula lokal nasional bisa gulung tikar alias bangkrut.

Pemerintahan Jokowi belum terlambat dan harusnya bisa menciptakan berjalannya regenerasi petani dengan memberikan rangsangan yang menguntungkan untuk bekerja sebagai petani, karena saat ini minimnya minat generasi muda untuk bekerja sebaga petani, ungkap Rahman.

Rahman menyarankan, pemerintah agar kedalautan pangan bisa terwujud maka Pertama, perlu segera lakukan revitalisasi semua pabrik gula peninggalan Belanda yang tersebar di pulau Jawa.

Kedua, Hentikan segera impor gula rafinasi diganti dengan impor gula kristal merah/raw sugar untuk memenuhi kebutuhan bahan bakun pabrik gula yang lahan perkebunan tebunya terbatas.

Hal ini lebih menguntungkan karena ada kesempatan kerja untuk buruh tani dan juga harga gula rafinasi dalam negeri lebih murah dibandingkan dengan impor.

Harga raw sugar saat ini dipasaran internasional berkisar dengan hargaUSD 285-287 CIF per ton Indonesian port, maka dengan itu kalau diproses sendiri tentu harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan gula rafinasi import.

Kebutuhan gula nasional tahun 2016 sekitar 5,5-6 juta ton sedangkan produksi nasional dari 59 pabrik gula lokal yang berbasis bahan baku tebu lebih kurang 2,3 juta ton dengan rendemen rata rata 5,7 -6 persen atau sekitar 5 ton perhektar.

Ketiga, untuk meningkatkan produksi gula nasional sebaiknya lahan tidur perhutani yang ada di pulau Jawa dan Sumatra bisa dimanfaatkan untuk menanam tebu rakyat untuk meningkatkan produksi gula dalam negeri tuturnya.

Menurut Rahman, akibat kebijakan dari Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian ini, bisa berakibat buruk pada kedalautan pangan matinya pabrik gula nasional.

Serta petani enggan menanam tebu karena kemampuan daya beli pabrik gula rendah, petani merugi hidupnya semakin termarjinalkan hasil panen gulanyapun payah diserap pasar dan konsumen karena sulit bersaing dengan gula rafinasi impor, tutur pria kelahiran Adonara NTT yang baru turun dari Stasion Gambir seusai melakukan kunjungan dengan petani tebu di Jawa Timur. [ka]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox