Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Senin, 19 Juni 2017

PEMERINTAH JOKOWI MEMANG KUOSO ATAS KITA KITA



"YANG TIDAK MAU LISTRIK NAIK SILAKAN CABUT METERAN" KATANYA

Oleh : Salamuddin Daeng (AEPI)

Kenaikan tarif listrik belakangan ini menggambarkan kuosonya presiden Jokowi. Saking kuosonya bahkan boleh melakukan hal hal yang tidak wajar. Terserah presiden Jokowi saja. Peduli amat dunia internasional bagaimana. Peduli amat rakyat keadaanya bagaimana. Coba bayangkan ;

1.  Sebagian besar negara di dunia menurunkan tarif listrik dan harga energi pasca  kejatuhan harga energi mulai 2014 lalu. Berbagai negara menjadikan keksempatan penurunan harga energi untuk memulihkan industri mereka, agroindustri mereka dalam rangka menghadapi krisis. Karena dengan penurunan harga energi akan memperbaiki daya beli masyarakat.

2. Di seluruh dunia tidak ada satu negarapun yang pernah menaikan tarif untuk satu golongan pelanggan sebesar 125% kurang dari satu semester. Lebih konyol lagi kenaikan tarif dilakukan pada dengan alasan pencabutan subsidi. Padahal subsidi telah berkurang atau bahkan telah hilang sejak penurunan harga energi batubara, minyak dan gas sejak 2014 lalu.

3.   Tarif listrik di Indonesia telah melebihi tarif rata rata listrik di Amerika Serikat. Tarif listrik di AS pada maret 2017 per kwh berkisar antara 6.74 cent dolar atau Rp. 780 untuk industri dan 10.48 cent dolar atau Rp. 1.362/kwh untuk komersial. (Mei 2017). Sementara Tarif listrik Indonesia PLN non subsidi pada Juni 2017 adalah Rp. 1467,28/kwh, tarif penyesuaian 900VA Rp. 1.352/KWH dan tarif subsidi untuk pelanggan miskin Rp. 415/kwh. hebat sekali indonesia kesejahteraan rakyatnya di Era Pemerintahan Jokowi lebih baik dari Amerika Serikat. Wah Donald Trump bisa tersinggung ini sama Jokowi.

4.   Rata rata tarif listrik di China 7 cent dolar atau Rp. 924/kwh dan India adalah 8 cent dolar per KWH atau seharga Rp. 1040 /kwh, jauh lebih rendah  dibandingkan harga di Indonesia yakn 11 sen dolar.  harga listrik subsidi di China 0.42 Yuan. Di India tarif listrik golongan rendah hanya 2 cen dolar atau Rp. 264/kwh atau separuh tarif orang miskin di Indonesia.

5.   Jika mengancu pada data management consultants McKinsey mengatakan bahwa kelas menengah (middle class) di Indonesia sebanyak 45 juta jiwa. Dengan demikian jumlah rumah tangga yang tidak perlu mendapatkan subsidi adalah 11,25 juta rumah tangga. Sisanya adalah bukan kelas menengah dan seluruhnya adalah kelompok rentan pada kemiskinan. Jadi kenaikan harga energi menyebabkan kelompok rentan ini jatuh miskin semua.

6.   Pemerintah tidak peduli bahwa kenaikan tarif listrik adalah pemicu inflasi nomor satu dibandingkan dengan faktor lainnya. Sementara inflasi sudah tinggi akibat harga kebutuhan pokok, dengan kenaikan tarif listrik akan semakin memicu inflasi yang sudah sangat tinggi di Indonesia tersebut. World Bank dalam laporan juni mengatakan dampak kenaikan tarif listrik menyebabkan inflasi Indonesia januari sampai juni 2017 sebesar 4,9%. Sementara kenaikan inflasi kembali akan dijadikan indikator oleh pemerintah untuk menaikkan kembali tarif listrik.

JADI KALAU TAK SANGGUP MENERIMA KUASANYA PRESIDEN JOKOWI, SILAKAN HIJRAH KE LUAR NEGERI ATAU CABUT METERAN ANDA GANTI MINYAK JARAK DAN KAYU BAKAR.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox