Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Jumat, 23 Juni 2017

Kenaikan TDL Kembali Menyetrum Rakyat


Oleh: Linda M. F. (aktivis mahasiswi Unesa)
           
            Diawal tahun 2017, rakyat Indonesia harus menyambut tahun baru dengan ledakan kebijakan berupa kenaikan biaya pengurusan SIM, STNK, BPKB, TNKB, dsb yang naik 100-300 persen; disusul dengan kenaikan harga baru BBM jenis umum (selain Premium jenis RON 88) yang naik 300 perliter. Belum habis rakyat tercekik dengan segala kebijakan tersebut, pemerintah kembali memberikan kado pahit di awal tahun 2017 dengan menaikkan harga Tarif Dasar Listrik (TDL) bagi pelanggan 900 VA.
            Kebijakan menaikkan harga Tarif Dasar Listrik (TDL) ini akan dilaksanakan secara bertahap. Sebagaimana yang dituturkan oleh Dirjen Ketenagalistrikan Kementrian ESDM, Jarman, kenaikan Tarif Dasar Listrik akan dilakukan dalam tiga tahap yaitu pada 1 Januari 2017, 1 Maret 2017 dan 1 Mei 2017 yang mana pada tiap tahap kenaikannya sebesar 32%. Kemudian baru pada 1 Juli 2017, pelanggan 900 VA akan menghadapi tarif baru yaitu TDL non subsidi yang akan disesuaikan setiap bulannya sebagaimana 12 golongan yang lainnya.
            Pemerintah berdalih bahwa kenaikan harga Tarif Dasar Listrik (TDL) ini dikarenakan APBN negara yang membengkak untuk mensubsidi kebutuhan masyarakat yang juga semakin lama semakin meningkat, nilai tukar rupiah yang kian melemah dan meningkatnya biaya produksi serta dalih-dalih lagu lama lainnya. Negara merasa terbebani untuk memberikan subsidi kepada rakyat sehingga satu persatu subsidi mulai dicabut. Dengan pencabutan subsidi itu, pemerintah berhasil memangkas subsidi listrik tahun 2017 sebesar 20 triliun.
            Kenaikan harga TDL ini akan semakin mencekik dan menyetrum rakyat. Pendapatan rakyat yang selama ini pas-pasan akan semakin anjlok sehingga daya beli mereka pun akan turun sementara harga barang, jasa dan biaya hidup semakin naik. Inilah akibat dari neoliberalisme. Sebuah penjajahan gaya baru yang akan membunuh rakyat secara perlahan. Selama ini, beban rakyat sudah teramat berat. Rakyat Indonesia benar-benar telah kehilangan tanah airnya. Bukan hanya tanah yang masih ngontrak dan air yang masih beli, namun rakyat juga dipaksa untuk membiayai hidup sendiri. Hutang luar negeri diperbanyak sementara disini rakyat diperas darahnya untuk membayar pajak. Harga kebutuhan pokok seperti listrik dinaikkan sementara penjajahan asing dilegalkan melalui undang-undang. Segala potensi alam yang harusnya bisa menjadi lumbung emas APBN bagi Indonesia harus diserahkan kepada asing dengan dalih tidak bisa mengelola. Rakyat Indonesia terpaksa harus menjadi gelandangan di tanah air sendiri melalui reklamasi dan pencabutan berbagai subsidi. Tidak cukupkah beban rakyat selama ini? Kapankah semua ini akan berakhir wahai penguasa?
            Sungguh ini adalah kado pahit dan kedholiman yang besar. Kedholiman yang beruntun seperti ini harus segera dihentikan melalui penerapan syariah Islam. Islam memiliki mekanisme dalam pengaturan sumber daya alam melalui pemerataan distribusi masalah kepemilikan. Dalam Islam, listrik adalah bagian dari kebutuhan umum yang seharusnya dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyat. Harga yang ditetapkan haruslah didasarkan pada biaya produksi dan bukan pada harga pasar. Inilah yang akan mensejahterakan rakyat karena akan menjauhkan dari segala monopoli swasta dan privatisasi barang milik umum. Rakyat tidak akan lagi kesetrum dengan kenaikan harga TDL. Selain itu, segala undang-undang yang memfasilitasi asing untuk melakukan neoliberalisme juga akan dicabut. Hal ini akan menjauhkan negara dari penjajahan yang selama ini mencengkeram.
            Wahai para penguasa! Inilah saatnya Indonesia diatur oleh syariah Islam. Sebuah syariah yang datang dari Allah dan Rasul-Nya untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dengan penerapan syariah Islam, segala problematika rakyat di negeri ini akan terselesaikan. Segala penjajahan akan terhapuskan dan kesejahteraan akan menjadi jaminan. Rakyat akan hidup sejahtera, berkah, aman dan nyaman dengan Islam. Bukan hanya itu, penerapan syariah Islam juga menjadi bagian dari wujud ketaatan kepada Allah SWT. Sebagaimana yang Allah janjikan :
Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga Kami menyiksa mereka disebebkan perbuatan mereka ” (TQS. Al-A’raf(7):96). [pa]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox