Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Sabtu, 17 Juni 2017

DARI BAWAH PODIUM



Oleh: Vier A. L

Di atas lembayung senja yang pucat,
Menuju langit mendungnya mengiringi kematian yang renta
*

Sore itu, terlukis memar di pinggir kanvas kehidupan,

Perih merah darah, pilu tulang menyerap pahit kediktatoran.

Di atas podium berkabut kekuasan, sungguh celaka, kuasa lantang berbicara.

Celaka! Mereka bicara keadilan di atas jutaan belulang berbalut kulit kelaparan
Celaka! Mereka bicara persatuan di dalam selimut pengkhianatan
Celaka! Mereka bicara toleransi dengan lidah berkarat si tangan besi.

Duhai mataku nyalang, lihatlah bagaimana politik machiavellis demi birahi tahta duniawi,
ekonomi penghisapan yang membuang nurani,
Saksikan segala-mua kemuakan hidup terbungkus pidato bohong di atas podium kesewenang-wenangan.

Sumringah itu telah berarti apa-apa,
Mereka tertawa, berdamping teriakan massa yang sesak nafas menanggung kemelaratan.

Celaka! Lebih celaka lagi

Suara-suara dari podium itu, ditelan mentah tanpa tinggal sejumput pun sepah oleh sebagian.

Tercecer hanya serapah di antara lorong-lorong gelap, berbisik-bisik dalam kerongkongan yang tiarap.

Teror kata-kata, mendesing mengoyak kepercayaan kami di gulita huru-hara.

Tapi,
di bawah podium yang hampir lumat, mari ingat di bentangan sejarah yang sudah-sudah, bahwa tahta adalah nyawa, bahwa harta adalah hidup, bahwa semesta adalah hamba. Kenyataan adalah kematian yang tertunda.

Dari bawah podium yang kehilangan pijakan, letakkan telinga ke tanah, dengarkan bisikan ini pelan-pelan, "goyah sudah, dan robohlah tiang pancang kebatilan di negeri kami"

Yogyakarta,
17-06-17, di sepertiga malam puak segala bulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox